Pak Siswara Nataamiarsa

Ada tiga tanda manusia unggul: berbudi luhur, ia terbebas dari rasa cemas; bijaksana, ia terbebas dari rasa bingung; dan berani, ia terbebas dari rasa takut.

Konfusius (551-479 SM)

Dahulu, ketika saya masih SMA kira-kira 24 tahun yang lalu, saya memiliki seorang guru yang sangat sederhana, enerjik, bersemangat dan seorang pendidik murni. Langkahnya mantap, suaranya lantang dan sorot matanya selalu optimis. Usianya saya perkirakan menjelang 60 tahun, karena ketika naik kelas, beliau pensiun. Dalam perjalanan hidup saya, beliau adalah salah satu guru terbaik yang pernah saya temui. Sayang, saya tidak cukup lama mengenalnya, bahkan kini mungkin saya menyesal karena baru menyadari kedalaman ilmunya sekarang setelah bertahun-tahun setelahnya.

Setiap hari beliau mengajar dengan menggunakan sepeda onthel yang sudah cukup tua. Tidak lupa menjinjing tas kulit imitasi lusuh dan selalu membawa handuk kecil sebagai lap keringat. Tidak ada tanda kelelahan, kecintaannya pada dunia pendidikan telah membuat beliau selalu bersemangat. Sebaliknya, setiap beliau mengajar saya selalu ogah-ogahan karena jam pelajarannya siang hari, saya harus berperang melawan rasa kantuk yang menyerang. Seingat saya rumah beliau di daerah Antapani, sekitar 5-7 km dari sekolah. Saya tidak cukup baik mengenalnya secara pribadi bahkan sering menghindarinya, namun saya selalu teringat kepadanya. Berikut, beberapa cerita tentang beliau yang selalu saya ingat.

Suatu siang yang terik di pertengahan september 1995 pak Sis sedang berapi-api mengajar di kelas, melawan seluruh penghuni kelas yang dilanda kantuk termasuk saya. “anak-anakku saya akan ceritakan, mengapa bangsa ini hanya akan menjadi bangsa penonton dalam percaturan internasional dalam bidang apapun” beliau kemudian melanjutkan.

Pertama karena pemimpin-pemimpin bangsa ini takut kepada negara adikuasa. Mestinya, jika ingin menjadi pemimpin yang baik, orang tersebut harus hilang rasa takutnya, ia hanya boleh takut kepada Tuhan”. Namun dalam sebuah tayangan ILC di TVone Salim Said Proffesor guru besar UNHAN mengatakan bahwa bangsa ini justru tidak takut kepada Tuhan, meskipun ini adalah pernyataan satire yang menggambarkan kondisi bangsa.

“Kemudian yang kedua pendidikan-nya tidak mengajarkan manusianya untuk membangun karakter. Saya berdiri di sini, akan berjuang untuk menanamkan kepada kalian semua pentingnya membangun karakter”. Seisi kelas pun semakin menjadi-jadi kantuknya, namun entah mengapa, hari ini 24 tahun berselang saya masih mengingat seluruh kata-katanya. Saya mengamini semua pernyataannya. Benar pak Sis, bangsa ini hanya jadi penonton dalam percaturan internasional di bidang apapun. Bahkan produk-produk pertanian pun kini kita impor, kedelai, beras, bawang putih, bawang bombay dan cabai. Harga jeruk Shanghai jauh lebih murah daripada jeruk Pontianak, padahal jarak pontianak lebih dekat daripada Shanghai.

Di lain hari, pak Sis mendatangi kursi duduk saya “Fajar, mengapa kamu tidak pernah sekolah?” Saya gelagapan menjawabnya, saya tidak bersekolah karena memang saya ini badung, hobi banget melawan aturan sekolah, akan ada sejuta alasan agar saya bisa bermain dan tidak pergi ke sekolah. Dalam hitungan detik, saya mencoba menyusun alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaannya. “mmh, gini pak sebetulnya saya ini menderita penyakit ginjal, dan beberapa hari belakangan saya harus bedrest. Saya memang sejak kecil punya penyakit kelainan pada ginjal. Namun jelas, apa yang saya sampaikan pada pak Sis adalah sebuah kebohongan, karena pada kenyataannya saat itu saya sehat-sehat saja. Lalu pak Sis merangkul pundak-ku dan mengajaknya ke depan kelas. Aku bingung “duh, apa salahku? Setiba di depan kelas, beliau berkata “anak-anakku, saudara kita ini, kurnia fajar menderita penyakit yg berbahaya (lalu beliau bercerita panjang ttg penyakit ginjal) mari kita doakan agar Kurnia Fajar segera sembuh dari sakitnya”. Lalu beliau memanjatkan doa yg panjang sekali (kira-kira 10 menit) dan diamini oleh seluruh anggota kelas.  Aku malu, malu pada diriku sendiri, begitu positifnya pak Sis memandang aku, padahal aku telah berbohong padanya. Pak Sis, dimanapun engkau kini berada, pagi ini kupanjatkan doa-doa untukmu. Maafkan aku pak sis belum dapat mewujudkan bangsa ini sebagai bangsa pemain.
Al-Fatihah…

Tinggalkan komentar