“Artbound” sebuah konsep baru dalam dunia Outdoor Training

“Artbound” sebuah konsep baru dalam dunia Outdoor Training

Kurnia Fajar, Rony Rusmana & Asep Saeful Ahmad

Kebutuhan sumber daya manusia yang berkualitas sudah menjadi tuntutan yang harus dipenuhi di era globalisasi saat ini. Dimana mereka harus mampu menghadapi tantangan serta beradaptasi pada perkembangan lingkungan yang selalu berubah. Pengembangan semangat sebuah tim melalui kegiatan di alam terbuka telah menjadi strategi pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang penting.

Untuk memenuhi kebutuhan akan sumber daya manusia tersebut. Dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan bekerja sama (team work), leadership, motivasi dan mampu mengambil keputusan serta dapat beradaptasi dengan cepat dilingkungan pekerjaan. Kegiatan pelatihan di alam terbuka menjadi salah satu alternatif; dengan aktivitasnya yang dibungkus permainan sebagai sebuah simulasi penuh makna cenderung diminati oleh setiap peserta. Aktivitas ini adalah salah satu sarana untuk menemukan kembali pengalaman masa kecil yang penuh kegembiraan, dan memberikan sebuah hiburan yang menarik bagi peserta untuk melepas kejenuhan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Secara umum masyarakat Indonesia menyebut aktivitas ini dengan istilah outbound. Dengan metodenya terkenal yaitu Experiential Learning (EL).

Metode Experiential learning pertama diperkenalkan pada tahun 1941, di Inggris. Kegiatan outbound pertama kali di dunia ini dibangun oleh seorang tokoh pendidikan berkebangsaan Jerman bernama Dr.Kurt Hahn (ESQ Outbound:2013). Metode ini menekankan dimensi pengalaman sebagai katalisator cermin guna mendapatkan value. Adapun bentuk aktivitas pendidikan pada metode ini, pembelajar diajak untuk bermain simulasi-simuasi yang bersifat problem solving. Menurut referensi yang berkembang sampai saat ini, bahwa metode ini pertama di bawa ke Indonesia sekitar tahun 1990 oleh Outward Bound Indonesia (OBI). Sejak itulah metode ini mencapai puncak kejayaannya di Indonesia. Berbagai macam perusahaan menyelenggarakan pelatihan model ini untuk para karyawannya.***

Pendidikan Karakter yang berakar pada seni budaya Indonesia

Pendidikan tidak semata untuk menghasilkan seorang menjadi pintar berhitung dan membaca. atau sangat hafal segala bentuk rumus-rumus, namun pendidikan merupakan kegiatan transformasi nilai guna menghasilkan manusia yang beretika dan berbudaya. Sehingga equilibrium kebudayaan dapat tercipta. Dony Kleden (kompasiana:2013) menjawab bahwa “Pendidikan menjadi simpul dari perubahan habitus. Dengan mengatakan demikian, kita telah menempatkan pendidikan pada posisi yang sangat mulia bagi pembentukan dan perkembangan kepribadian”. Sedangkan Pedagog asal Jerman, FW Foester (1869-1966), yang begitu terkenal sebagai pencetuskan pendidikan karakter, menekankan bahwa tujuan pendidikan bagi Foester adalah pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku hidup yang dimilikinya. Bagi Foester, karakter adalah sesuatu yang mengkualifikasi seorang pribadi. Karakter jadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah kualitas pribadi diukur.

Tapi bagaimanakah sasaran dari tujuan pendidikan ini dapat tercapai. Untuk menjawab hal itu, tentunya sebuah strategi yang matang dan penuh persiapan pun harus dilakukan. Berbagai bentuk metode guna memudahkan pembelajar pun perlu diciptakan. Sehingga pembelajar dapat menjalani aktivitas pendidikan karakter dengan mudah menangkap dan menimbukan rangsangan yang positif dalam melakukannya.

Metode adalah cara teratur yg digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yg bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yg ditentukan. Dalam dunia pendidikan kata metode sudah tidak asing lagi. Berbagai metode sudah banyak tercipta dari beberapa puluh tahun yang lalu. Seperti halnya dalam pendidikan musik para praktisi pendidikan musik telah menemukan beberapa metode guna mempermudah para pembelajar. Metode dalam pendidikan music tersebut diantaranya metode Kodaly, metode Suzuki, dll. Sedangkan dalam dunia outdoor activity, metode yang sangat terkenal atau sering digunakan adalah metode Experiential Learning(EL).

Berbagai metode pendidikan baik metode pendidikan konvensional maupun pendidikan karakter masuk ke Indonesia. Menawarkan berbagai solusi terhadap pengembangan sumber daya manusia. Dan Indonesia sebagai bangsa yang terbuka terhadap perubahan dengan ringannya membuka tangan menerima itu semua. Yang menjadi pertanyaan apakah memang tidak ada satu pun metode pendidikan di alam terbuka yang dibuat oleh anak negeri yang berlandas pada nilai ketradisionalan seni budaya nusantara. Seperti yang diungkapkan oleh Prof. Waridi (seorang guru besar dari ISI Solo), bahwa masih jarang yang mempertanyakan dan menggali secara sungguh-sungguh kemampuan dan potensi nilai-nilai ketradisionalan seni nusantara dalam ikut menganyam pencitraan identitas bangsa. Juga belum banyak yang mencoba membicarakan potensi seni tradisi dalam konteks kekinian. Belum banyak pula yang menggagas untuk menjadikan seni tradisi sebagai sarana penanaman nilai-nilai kenusantaraan (Gunara: 2013).

Butuh sebuah keberanian dalam mencoba dan bereksplorasi untuk membuat sebuah metode baru dalam pendidikan karakter berlandas pada nilai ketradisionalan seni budaya nusantara. Walaupun pembuktian telah dicontohkan oleh para Walisongo dalam penyebaran Islam. Pendekatan melalui seni budaya nusantara ternyata salah satu pembuktian bahwa hal tersebut jalan yang efektif dalam merubah cara pandang masyarakat terhadap dogma.

Adalah Kurnia Fajar, Roni Rusmana dan Asep Saeful Ahmad. Tiga orang anak muda yang mempunyai latar belakang sebagai penggiat kepanduan, alam bebas dan pendidikan seni. Pada tahun 2007 mulai berinovasi dengan memasukan unsur seni kedalam ranah pelatihan di alam terbuka (outbound). Jenuh dengan bentuk pelatihan yang relative tidak berubah sejak awal kemunculannya di Indonesia, maka ketiga pemuda yang bernaung dalam payung bernama artventure mencoba memasukan perkusi sebagai simulasi team challenge. Objektif dari simulasi ini diharapkan para peserta dapat menikmati rasa kebersamaan, pencapaian harmonisasai lewat kebersamaan tersebut, kontribusi individu untuk kelompok dan kreativitas. Alhasil dari simulasi ini ternyata nilai-nilai yang diharapkan ternyata muncul dan diungkapkan oleh setiap peserta dalam sesi sharing eksperience. Dan bahkan setelah melalui simulasi perkusi ini semangat peserta semakin memuncak.

Kenapa harus dengan simulasi perkusi? Bentuk musik perkusi dalam pelatihan ini ditekankan pada bentuk ensemble besar. Dimana dalam penggarapan musikalnya membutuhkan sumber daya yang cukup banyak. Setiap motif tabuhan tidak akan menghasilkan harmoni lengkap apabila hanya dimainkan oleh satu sampai dua orang. Maka dari latar tersebut perkusi mencoba berangkat secara mandiri menaiki tangga pelatihan di alam terbuka (outbound).

Tak puas dengan hal tersebut akhirnya artventure mencoba jenis –jenis kesenian kolektif yang lain untuk pelatihannya. Bukan hanya seni musik, seni yang lainnya seperti tari, teater, dan seni rupa pun memberikan warna yang unik dalam ranah pendidikan pengalaman (Experiential education). Namun secara perlahan personil artventure mulai merasakan perbedaan aktifitas bentuk ini dengan outdoor training (outbound) sesungguhnya. Maka pada tahun 2009 artventure mulai memperkenalkan bentuk pelatihan dengan media kesenian ini dengan istilah artbound. Dan karena learning input maupun learning output artbound dengan outbound berbeda maka pada tahun 2012 artventure dengan digawangi Kurnia Fajar, Roni Rusmana, dan Asep Saeful Ahmad merumuskan sebuah metode yang cocok untuk artbound. Pada akhirnya mereka bertiga pada tahun 2013 menemukan sebuah istilah yang dirasa cukup mewakili yaitu metode “art experience learning”.

Bentuk seni sebagai tantangan (team challenge). Proses kreatif sebagai pencarian dan sinkronisasi persepsi, pemunculan potensi individu dan Panggung adalah “semesta keci” untuk mempresentasikan hasil dari proses bersama dalam small team, middle team dan big group.***

Rangkaian tahapan belajar dalam “Art Experience Learning”

Proses Belajar dalam “ARTBOUND LEARNING”

TUJUAN MATERIPESERTA BELAJAR UNTUK
Kenali perubahan


Melihat peluang

Pengembangan tim


Kenali peran anggota tim

Menetapkan sebuah tujuan dan strategi tim

Pemimpin dan dipimpin


Meningkatkan kinerja tim
Mengenali perubahan terkini dan mengantisipasi keterampilan yang dibutuhkan
Menemukan peluang dan melatih langkah pengarahan
Mengenali peran-peran setiap anggota tim dan langkah untuk memadukannya
Memahami bahwa setiap orang memiliki peran dalam sebuah tim
–   Mengungkapkan harapan
–   Menetapkan aturan dasar dan mendayagunakan nilai kelompok
Sebuah tim harus fleksibel dan dapat merotasi dirinya sesuai kebutuhan dan kepentingan
Menetapkan dan melaksanakan tujuan bersama untuk meningkatkan kinerja
lppi

Tinggalkan komentar