Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di bulan April 2015. Indonesia khususnya kota Bandung kembali berhasil menyelenggarakan peringatan 60 tahun konfrensi Asia Afrika. Ridwan Kamil, sang walikota Bandung begitu sibuk dan detail mempersiapkan acara ini. Hal ini dilakukan sebagai bentuk sikap sadar pariwisata “sense of tourism” yang kita tahu, bahwa sektor pariwisata kini menjadi andalan devisa negara, yang Produk Domestik Bruto-nya mencapain 350 Trilyun di tahun 2014 atau setara 17% APBN Nasional. Sudut-sudut kota Bandung dipercantik, Indeks kebahagiaan warga kota ditingkatkan guna mendukung tercapainya acara ini.
Pada hari H, Ridwan Kamil berpidato di dalam konfrensi KAA ini. isi pidatonya di apresiasi oleh sebagian besar masyarakat lebih keren daripada pidato Presiden Jokowi. itulah sebagian kesuksesan bandung dalam menyelenggarakan peringatan 60 Tahun KAA. “Historical Walk” yang menjadi puncak acara KAA ini bahkan diikuti oleh mantan Presiden Megawati. luar biasa bukan? namun sejauh mana gaung KAA dapat meningkatkan posisi tawar indonesia? meningkatkan posisi tawar negara-negara asia afrika dalam percaturan global? apakah benar KAA ini mempersatukan negara Asia Afrika? ataukah KAA ini hanya kongkow-kongkow semata? mari ikuti opini pribadi saya
Selepas berakhirnya perang dunia kedua, ada isu yang mengemuka saat itu yaitu berakhirnya imperialisme dan kolonialisme. lahirnya negara-negara baru yang mayoritas negara asia dan afrika. sebagai negara baru yang baru lepas dari cengkeraman kolonialisme tentu ada euphoria perasaan senasib sepenanggungan. hal inilah yang digunakan oleh Bung Karno untuk mengumpulkan rekan-rekannya sesama Asia Afrika guna meningkatkan posisi tawarnya kepada negara barat (kolonial) dimulai dengan kolombo Plan hingga akhirnya pada tahun 1955 diselenggarakan Konfrensi Asia Afrika di Bandung. KAA ini menghasilkan Dasasila Bandung, 10 point komitmen untuk meningkatkan dan mencapai kesetaraan negara Asia Afrika dalam percaturan internasional. lalu apakah hal ini dapat tercapai? sejarah mencatat negara-negara Asia Afrika tetap menjadi negara kelas tiga hingga saat ini. bahkan setelah 60 tahun dari lahirnya dasasila Bandung. Isu kemanusian sesama bangsa asia afrika tetap terjadi, mulai dari konflik timur tengah, konflik mesir, konflik somalia, konflik korea, hingga yang terakhir konflik rohingya. kita masih berkutat pada isu-isu kemanusiaan sesama bangsa sendiri. maka tidak berlebih jika saya katakan konfrensi Asia Afrika hanya ajang kongkow-kongkow para pemimpin Asia Afrika. seperti kongkow di warung kopi. Seharusnya dari konfrensi ini, para pemimpin Asia Afrika lebih memiliki nyali dan kemampuan membaca situasi internasional lalu kemudian mengeluarkan aksi bersama agar negara barat (kolonial) dapat melihat Asia Afrika sebagai partner bukan sebagai worker