
Setiap orang yg pernah mengikuti gerakan pramuka (baca : kepanduan) tentu akan hafal dengan Trisatya dan Dasadarma, yg merupakan kode kehormatan dan janji seorang pandu. Janji ini diucapkan pada saat upacara pelantikan tanda kecakapan umum. Diharapkan, setelah janji itu diucapkan isi dari janji yang berisi nilai-nilai dan kebaikan moral akan mewarnai dan mempengaruhi karakter pengucapnya. Saya review sedikit ya isi dari Trisatya dan dasadarma ini :
Trisatya
Demi kehormatanku aku berjanji :
– akan menjalankan segala kewajibanku terhadap tuhan dan NKRI
– menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri/ikut serta membangun masyarakat
– menepati dasadarma
Dasa Darma
1. Takwa kepada Tuhan YME
2. Cinta Alam dan kasih sayang sesama manusia
3. Patuh dan suka bermusyawarah
4. Patriot yang sopan dan ksatria
5. Rela menolong dan tabah
6. Rajin, trampil dan gembira
7. Hemat, cermat dan bersahaja
8. Disiplin, berani dan setia
9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
Jika kita cermati isi dasa darma di atas, seorang pandu diharapkan menjadi manusia paripurna, sempurna tanpa cacat dalam prilaku sehari-harinya. Menurut saya tidak mungkin. Manusia, tentu saja tempatnya khilaf dan alpa, lisan-nya sering menyakitkan. Prilakunya kadang memicu pertengkaran dengan sesama-nya. Lebih tepatnya, saya ingin katakan bahwa dasadarma itu adalah pengingat untuk selalu memberikan yang terbaik utk diri dan sesama manusia di lingkungan.
Hari ini, saya menjenguk kak Maman, senior, sahabat dan kakak pembina semasa dulu masih aktif di gerakan kepanduan. Kami sama-sama anggota gudep 11-12 SMP Negeri 2 Bandung, meskipun kak Maman sangat jauh lebih senior daripada saya. 5 tahun yang lalu, kira2 di pertengahan tahun 2010, kak Maman mengalami kecelakaan kerja. Punggungnya terkena hantaman besi baja. Pasca kecelakaan kerja tsb, kak Maman memutuskan utk diobati di bengkel tulang dan tidak melakukan operasi. Ketika saya tanya, beliau hanya bilang “saya takut banget dioperasi Fa” meskipun kini alat2 kedokteran sudah canggih, saya tetap takut. Sekira 1 minggu pasca kecelakaan saya bersama senior yang lain, kak Dudy, datang menjenguk ke bengkel tulang tsb di bilangan Tambun bekasi. Kami ngobrol kesana kemari. Meskipun dalam kondisi yang kepayahan karena menahan sakit, kak Maman bercerita kronologis kejadian. Selama bercerita beliau tidak mengeluh, bicara biasa saja. Malah kadang2 masih bersenda gurau. Namun setelah dari bengkel tulang beliau akhirnya dioperasi.
5 tahun berselang, selama itu tidak sekalipun saya menjenguk beliau lagi, karena keterbatasan jarak, waktu dan informasi. Berkali2 saya janjian dgn beberapa teman utk menjenguk sama2 namun gagal dan batal. Bulan Januari tahun ini saya dapati beberapa foto beliau di FB. Kak Maman Duduk di kursi roda bersama teman2nya klub basket Ex-duo. Setelah itu saya sapa kak Maman melalui surat pribadi dan direspon baik. Saya berjanji akan mengunjunginya. Nah, sejak januari itulah, siang ini saya baru dapat memenuhi janji saya utk menjenguknya. Seperti biasa, kami bicara kesana kemari. Kak Maman ceritakan semua kronologis penyakitnya. Terbaring di atas tempat tidur, menceritakan semuanya dengan bersahaja, jenaka. Tidak ada keluhan. Justru saya yang mendengarnya menguatkan diri agar tidak menangis, alhamdulilah saya berhasil. Kemudian, saya tengok istri saya, dia gagal bertahan. Bulir-bulir air mata mengalir ke pipinya yg terus menerus dihapus oleh telunjuknya. Saya bergumam, luar biasa kakak saya yg satu ini, 5 tahun berbaring di atas tempat tidur, tidak merasa berat dengan semua yg dialaminya. Masih tetap memiliki keinginan utk berkarya. Dalam hati saya berteriak “kak Maman, dasadarma itu memang milik kakak”. Semoga saya diberikan jalan dan kekuatan utk membantu kakak berkarya lagi.
Salam Pandu!
PS : mohon maaf, detail penyakit beliau tidak dapat saya ceritakan disini, jika ada sahabat yg ingin mengetahuinya, dapat menghubungi saya. Thanks