Pada saat tulisan ini dibuat, beberapa teman saya masih berada di jalan tol menuju Jakarta, sebagian besar menahan kantuk akibat kemacetan semalaman di jalan tol. sebagian lagi masih di kampung menikmati sisa hari libur yang akan segera berakhir. dalam seminggu terakhir ini foto-foto di social media baik path, FB, Twitter hampir semuanya menampilkan foto-foto kebersamaan keluarga, senyum-senyum bahagia, diselingi foto-foto makanan khas lebaran. Mudik lebaran tahun ini, saya juga mendapatkan fenomena macetnya jalur selatan hingga ada yg melaluinya dalam 24 jam! bahkan gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan langsung mengusulkan pembangunan tol Cileunyi rajapolah untuk mengantisipasi kemacetan tersebut. Mudik memang fenomena sosial yang luar biasa, hajatan nasional yang melibatkan 20 juta orang pulang ke kampung halaman dan 30 juta orang lainnya berwisata selama libur lebaran. Diperkirakan juga telah terjadi transaksi ekonomi sebesar 90 Trilyun, dan memiliki dampak positif bagi perekonomian nasional. Tidak kalah dahsyatnya adalah jumlah kecelakaan yang mengakibatkan kematian pada saat momen mudik ini bisa mencapai 500 orang setiap tahunnya. Saking besarnya momen mudik ini, saya pernah mengusulkan dibuat kementerian sendiri dengan nama Kementerian Haji dan Mudik. Merujuk pada dua Event tahunan ini dan skala permasalahannya secara nasional.
Hajatan Nasional bernama mudik ini selalu hadir pada saat musim lebaran. orang-orang dari daerah industri dan jasa (baca : perkotaan) berbondong-bondong pulang ke daerah pertanian (baca : kampung) yang kini sudah hampir ditinggalkan pertaniannya. Reuni keluarga adalah salah satu tujuan mudik, setelah sepanjang tahun semuanya sibuk mencari uang. Erich Fromm mengatakan, manusia adalah Homo consumens. “sebagai manusia, kita tidak punya tujuan kecuali memproduksi dan mengkonsumsi terus menerus” Boleh jadi kita punya tujuan membangun keluarga yang bahagia, namun kebahagiaan kini diukur dari jumlah barang yang kita miliki, diukur dari jumlah barang yang kita konsumsi. kebahagiaan diukur dari jumlah uang yang kita miliki. Padahal mudik juga memiliki kegiatan-kegiatan yang sesungguhnya adalah modal sosial membangun bangsa. Selain silaturahmi keluarga mudik juga momen yang tepat untuk mengingat kematian, ada juga nilai kesetiakawanan dan solidaritas sesama, berbagi kebahagiaan dan kerinduan. tidak ada lagi kedengkian, kesombongan semuanya saling bermaaf-maafan. sungguh sebuah momen sosial yang indah.
Namun dalam hal mudik ini, ternyata ada jebakan yang begitu menggoda yakni jebakan hedonisme dan konsumerisme. Hedonisme itu sendiri menurut KBBI memiliki definisi pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama dalam hidup. seringkali saya perhatikan orang tidak jadi mudik karena tidak membawa uang yang cukup, tidak membawa mobil, tidak menggunakan perhiasan, tidak membawa “sangu” untuk saudara di kampung, dan prilaku hedonisme lainnya. Sepuluh hari terakhir, Mayoritas lebih banyak menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan, rasanya yang dilakukan manusia saat ini adalah membeli kebahagiaan, bukan mencari kebahagiaan.
Orang semakin dihargai karena kebendaan yang dimilikinya, karena hartanya bukan karena prilakunya, bukan karena integritasnya. Pembeli mobil akan dihargai seperti pahlawan oleh sales mobil, ia dikirimi parcel, ucapan selamat idul fitri dan perlakuan manis lainnya. sehingga semakin hedonis seseorang maka ia akan semakin dihormati. Lama-lama saya berfikir, bahwa Hedonisme kini menjadi agama baru, Iklan menjadi kitab sucinya, Mal-Mal adalah rumah ibadahnya, dan kaum kapitalis konglomerat menjadi orang sucinya, petuahnya selalu didengarkan dan dijadikan sandaran kehidupan bagi dirinya. ucapan seorang steve jobs akan lebih mudah diingat ketimbang ucapan Arifin Ilham. Perlahan-lahan tapi pasti seorang hedonis akan memandang manusia yang lain sebagai instrumen untuk melayani kebutuhannya. mereka telah lupa berfikir bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain, mereka berfikir bagaimana bisa memanfaatkan orang lain. Lalu kemudian, secara perlahan dan pasti juga kita kehilangan kehangatan dalam pergaulan dengan orang-orang di sekitar kita. Bukankah kehangatan keluarga dan kedamaian hidup adalah tujuan mudik? Bukankah berbagi dan bermanfaat bagi sesama adalah tujuan mudik? Saya berdoa semoga saya dan semua pembaca tulisan ini bukan orang-orang yang membeli kebahagiaan dengan uang saya berdoa semoga kita semua bukan penganut agama hedonisme. Selamat kembali bekerja, semoga kebahagiaan mudik kemarin milik pembaca semua.