Batagor Mang Dayat dan ruang kosong itu

Oleh : Kurnia Fajar*

mang dayat

Tau kan Batagor? kepanjangannya adalah baso tahu goreng berasal dari ikan tenggiri dipadukan dengan tahu dan dimakan dengan menggunakan bumbu kacang, jajanan ringan yang katanya berasal dari Bandung, kemudian menyebar di seluruh Indonesia. Kalo saya jalan-jalan di Jakarta, Bogor, Jogja bahkan Bali dan menemukan Batagor, pasti tulisannya : Batagor Bandung. Entahlah, siapa yang pertama kali menciptakan jajanan ini. Herry Dim pernah bercerita, kalo sejarah Batagor di kota Bandung dimulai dari H. Isan sekitar tahun 1968 ia membuat batagor dari baso tahu kukus yang tidak laku. sementara wikipedia mengatakan ini adalah makanan yang diciptakan oleh kaum Tionghoa. siapapun pencipta batagor, saya berdoa semoga ia masuk surga, karena ciptaannya bermanfaat untuk banyak orang hingga saat ini. bahkan dulu, khusus untuk penemu rendang saya usulkan menerima penghargaan Nobel, namun sayangnya tidak ada kategori seperti itu di Nobel. saya berasumsi orang-orang yang memberikan hadiah nobel adalah orang yang terlalu serius. mereka menciptakan kategori yang utopis, tidak membumi. padahal Rendang adalah penemuan yang spektakuler, pasti anda setuju kan? Namun tulisan ini bukan untuk membahas Batagor apalagi membahas rendang, ini tentang hal lain di warung Batagor.

Pertengahan tahun 90-an ketika saya masih SMP ada penjual Batagor bernama mang Dayat yang mangkal di depan RS bersalin Ibu Emma Poerwadireja sekitar 100 meter dari SMP Negeri 2 Bandung tempat saya sekolah. ketika kelas 1 dan masih sekolah siang, setiap pulang sekolah saya punya pilihan : uang jajan digunakan untuk ongkos angkot pulang atau membeli batagor dan jalan kaki ke rumah. Saya seringkali memilih jalan kaki ke rumah, karena selain dekat (rumah di jalan tongkeng) jalan kaki juga menyehatkan dan banyak teman yang pulang satu arah. Menurut saya pada saat itu batagor mang Dayat ini enak, apalagi jika disajikan masih hangat dan dimakan langsung dari plastiknya, mmmh… nikmat sekali. Karena sering, akhirnya saya berkenalan dengan mang Dayat, dari mulai bicara sekedarnya hingga akhirnya kami bersahabat. Puncaknya adalah ketika saya sudah kelas III hampir setiap hari saya akan nongkrong di tempat ini. Mang Dayat memanggil saya Fajar, beliau sering memberi petuah-petuah kehidupan yang sederhana, namun tentu saja sebagai anak remaja seringkali saya tidak peduli dengan petuahnya bahkan saya tidak pernah ingat nasihat beliau.

Di warung Batagor ini, saya acapkali berdiskusi (baca : nongkrong) dengan teman-teman kelas dan lain kelas, teman main band diantaranya Andika (kini Musisi, kibordis peterpan dan the Titans). juga dengan adik kelas seperti Mega (putranya kang Ibing) dan Rimba (kini menjadi Guru Utama Tarung Drajat) dan banyak teman lainnya. Bahkan ketika ada penyerangan (tawuran) massal dengan SMP 7 Bandung, kami berangkat dari warung batagor mang Dayat. Hingga akhirnya saya lulus, saya masih sering datang ke warung Batagor ini, awalnya seminggu sekali, kemudian sebulan sekali hingga akhirnya asal saya ingat dan ingin maka saya berangkat ke sini. Batagor yang menurut saya enak itu, kini menjadi biasa saja bahkan mungkin tidak enak, pernah saya mendiskusikannya dengan teman mengapa batagor mang dayat kini tak enak, jawabannya menurut saya keren “Batagor mang Dayat rasanya masih sama seperti dulu Fa, yang berubah itu kamu, lidah kamu sudah kenal makanan yang lebih enak daripada batagor ini, sehingga batagor ini rasanya menjadi biasa. yang berubah itu kamu bukan batagornya”. Time Flies and people changed, begitulah adanya, kita tidak dapat melawan waktu. sudah menjadi sunatullohnya, bukankah yang bertahan adalah orang-orang yang berubah?

Warung Batagor mang Dayat akhirnya saya datangi bukan karena batagornya, ia lebih bersifat tempat Nongkrong saja. Barulah di kondisi ini saya mulai mendengarkan petuah-petuah mang Dayat, baru juga saya sadari, setiap waktu sholat tiba mang Dayat selalu tinggalkan warungnya, petuahnya makin sering bicara agama. Sebuah kesadaran yang terlambat karena sebelumnya saya tidak pernah memperhatikan dan mendengar. Hingga akhirnya Mang Dayat wafat di sekitar tahun 2000, saya tidak mengingat tepatnya kapan.

Semalam saya buka internet, perjalanan browsing mengingatkan saya akan film forest gump, film yang sudah berkali-kali saya tonton, saya teringat bangku taman tempat forest gump duduk dan bicara episode-episode kehidupannya. saya fikir mendalam, dan saya sadari bahwa warung Batagor mang Dayat itu seperti bangku taman dalam film Forest Gump, warung batagor itu tempat saya bercerita apa saja. di dalam konsep pelatihan saya menemukan suatu metode yang saya namakan konsep jeda atau konsep ruang kosong, inti dari konsep ruang kosong ini adalah tempat dimana seorang manusia bisa bicara dengan dirinya sendiri tanpa gangguan dari siapapun.

Jika perjalanan kehidupan ini adalah rangkaian dari episode-episode seperti film forest gump, maka perpindahan dari satu episode ke episode yang lain itulah yang saya sebut dengan titik kritis. Pada masa-masa ini orang seringkali galau, bingung, marah, kecewa, di titik inilah yang saya sebut dengan titik jeda. titik dimana orang berdialog dengan dirinya sendiri, berkontemplasi dan mengevaluasi untuk segera dapat mengambil keputusan. konsep jeda/ruang kosong ini adalah media seorang manusia bicara dengan dirinya sendiri. kini saya paham, warung batagor mang Dayat adalah ruang kosong itu, ia menjadi tempat bagi saya berkontemplasi dengan diri saya, ia hanya dirindukan ketika saya akan berpindah episode kehidupan, kadang di warung batagor itu saya bercerita sepuasnya dan mang Dayat mendengarkan. Saya memuaskan ego saya dan mang Dayat menjadi tempat sampahnya. pada akhirnya semua orang akan mencari ruang kosongnya untuk bicara dengan dirinya. selamat pagi dan selamat berkarya.

*)Gerilyawan, alumni SMP 2 angk. 1995

Tinggalkan komentar