Menulislah sebagai Warisan

Oleh : Kurnia Fajar*

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,”.  -Pramoedya Ananta Toer

Di sebuah ruangan kelas, seorang dosen bertanya kepada para mahasiswanya yg berjumlah 100 orang. Saudara sekalian, tolong jawab pertanyaan saya dengan mengangkat tangan “Siapa diantara anda yang mengenal baik kedua orang tua anda?” Maka 90% mahasiswa mengangkat tangannya. “Siapa diantara anda yang mengenal baik kakek – nenek anda?” Maka 60% mahasiswa mengangkat tangannya. “Siapa diantara anda yang mengenal baik kakek buyut dan nenek buyut anda?” Maka 15% mahasiswa mengangkat tangannya. “Siapa diantara anda yang mengenal baik orang tua kakek buyut dan nenek buyut anda?” Maka 2% yang mahasiswa mengangkat tangannya. Begitulah saudara, semakin banyak kita meninggalkan karya yang baik maka semakin lama pula kita dikenang.

Pagi ini, saya teringat ucapannya Muhammad Ali petinju legendaris Amerika yang dijuluki si “mulut besar”. Suatu ketika Ali, sang petinju itu ditanya oleh jurnalis. “Hei Ali, anda ini kan banyak musuh, mengapa anda tidak menggunakan bodyguard? Ali sejenak terdiam lalu kemudian menjawab “Menurut agama yg aku anut, hidup dan mati sudah ada ketentuannya dari Alloh SWT, jadi buat apa aku takut!” kemudian jurnalis itu bertanya lagi “apa yang akan anda lakukan setelah pensiun dari bertinju?” Ali menjawab, “lihat, usiaku sudah 38 tahun. Jika usiaku sama dengan nabi Muhammad, maka sisa usiaku tinggal 25 tahun lagi. Dihabiskan utk tidur, mandi, makan, jalan-jalan dengan keluarga, sisanya hanya 3 tahun saja.. Apa yg akan aku lakukan dgn 3 tahun ini? Tentu aku akan mempersiapkan kematianku. Kematian yg pasti datang. Kematian yg menjadi pertanggungjawaban atas hal-hal yg terjadi semasa aku hidup” demikian Ali menjawab.

Muhamad Ali benar, hidup ini pendek, bahkan amatlah pendek untuk kita habiskan. Rasanya baru kemarin menginjak usia SMP, merasakan jatuh cinta, nongkrong di warung menghabiskan malam. Kini 20 tahun berlalu, sudah beranak tiga. Tanpa sadar, besok kita sudah mengantarkan anak untuk menikah, besoknya lagi kita sudah renta,digerogoti penyakit dan menunggu ajal datang di saat-saat hampa. Lalu apa yg perlu dipersiapkan menghadapi kematian ini? Ijinkan saya bercerita. Hidup ini seperti sebuah novel, terdiri atas bab-bab dan chapter, masing-masing bab diisi oleh pemeran yang berbeda. Banyak orang datang dan pergi dalam kehidupan kita, ada yang tetap tinggal dan ada yang segera pergi, dari mereka yang pergi terkadang ada yang kembali, lalu kita akan membuat catatan-catatan tentang mereka, tentu catatan imajiner tidak dituliskan dengan pena. Kapasitas kepala kita tidak cukup untuk mencatat, seringkali kita lupa. Maka dari itu saya berpesan, mulailah menulis, sebagai warisan bagi anak cucu kita kelak.

Kita harus menyadari, bahwa tidak semua orang akan menghargai apa yang kita lakukan untuk mereka. Karena itu, kita belajar ikhlas. Ada sebagian yang berhak menerima kebaikan dari kita kemudian ada sebagian yang lain yang harus kita maklumi karena memanfaatkan kebaikan kita. Ikhlas adalah bab yang tak pernah usai hingga ujung usia. Pernah mendengar ini :

Weak people revenge

Strong people forgive

Which one are you?

“Menulislah, karena memang begitu seharusnya. dari awal hingga akhir”

Tinggalkan komentar