Tak ‘kan selamanya
Tanganku mendekapmu
Tak ‘kan selamanyaRaga ini menjagamu
Jiwa yang lama segera pergi
Bersiaplah para penggantiTak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
lamat-lamat lagu peterpan terdengar di telingaku, mengingatkan bahwa semua yang ada di muka bumi ini akan musnah, dari tiada kembali menjadi tiada. orang jawa mengistilahkan hidup hanyalah mampir sejenak untuk bersenda gurau, sampai tiba saatnya kembali kepada sang maha pemilik “urip mung mampir ngguyu” begitu istilahnya.
sebagai seorang muslim, qur’an sudah dengan jelas memerintahkan bahwa tugas manusia hanyalah beribadah kepada Allah, seluruh urusan dunia sudah dijamin, kita hanya perlu menjalaninya dengan ikhlas, betul begitu pa Ustad? koreksi ya kalo salah.
malam ini, karena bergabung dengan grup Whatsapp alumni maka saya mendapatkan informasi tentang guru SMP yg sudah sepuh dan sakit. Pikiran terbang ke masa dua puluh tahun yang lalu, rasanya baru kemarin tapi waktu tak bisa dikalahkan, ia berjalan terus seolah mentertawakan kita yang masih sibuk dengan urusan remah-remah ini. tapi hidup adalah hidup, tetap harus diperjuangkan dengan beragam cara, tentu cara yang baik semakin baik dan lebih baik. Perbaiki niat kemudian hijrah supaya hati makin tentram 🙂
Pikiran ini mulai menganalisa, aktivitas apa saja yang saya lakukan dulu hingga teringat sebuah benda yang sangat favorit pada masa itu, namanya telepon umum. saya pertama kali menggunakannya kelas VI SD di Balai kota bandung sepulang mengikuti lomba cerdas cermat, tentu saja saya kalah dalam perlombaan tersebut, jika menang maka saya tak akan menggunakan telepon umum untuk mengabarkan ibu saya dan minta dijemput. ketika masa pubertas menjelang, saya mulai rajin mengumpulkan koin-koin bergambar burung cendrawasih yang bisa digunakan untuk menyapa selama 3 menit. yang saya ingat, jam sibuk antrian telepon umum itu adalah jam 18.30 s.d. jam 21.00 kadang-kadang antrian mengular hingga 5 orang, jika sudah begitu orang yang sedang menelepon pun menjadi nyaman dan segera mengakhiri pembicaraannya. Telepon umum menjadi benda favorit pada masa itu, dimana-mana orang memanfaatkannya untuk berkomunikasi, hingga tiba masa-nya hadir telepon kartu magnetik, keinginan orang bertelepon ria makin tinngi, hal ini diikuti juga dengan teknologi “mengakali” pulsanya. ada-ada saja memang orang Indonesia ini.
Telepon kartu lambat laun mulai bergeser menjadi telepon kartu chip yang usianya juga sangat pendek, di masa ini juga ditandai dengan menjamurnya Wartel. dimana-mana berdiri wartel, bahkan maju tidaknya sebuah daerah bisa ditandai dengan ada atau tidaknya wartel. Tapi sekali lagi, wartel pun tidak berumur panjang, teknologi komunikasi dan informasi begitu pesat perkembangannya, telepon genggam yang asalnya barang mewah, hanya dalam waktu sepuluh tahun menjadi kebutuhan primer. Waktu, sekali lagi menunjukkan keperkasaannya, telepon umum itu kini menjadi artefak, ia menjadi penanda jaman…, ya ia adalah penanda jaman tahun 90-an.

(sumber foto : Wikipedia)