Pribumi Jawa : 250 tahun dalam Kemiskinan

mari bicara mengenai Indonesia.., Namanya Paidi, istrinya Sepen anaknya bernama soyem, giyem dan samikem. Mereka orang jawa asli, orang kampung yang buta membaca dan menulis huruf latin. Bisa menulis dan membaca dalam aksara jawa. Samikem bisa menulis dan membaca arab karena pernah nyantri di pesantren kampung, sisanya yang lain adalah abangan. Namun merekalah sebetulnya pemilik sah tanah jawa. keluarga itu sudah mendiami kampung jatiroto di pedalaman wonogiri sejak 1790 mungkin sejak abad-abad sebelumnya leluhurnya sudah disitu. Namun untuk mempersingkat cerita kita mulai dari angka tahun 1790 saja dimana Paidi sudah berkeluarga. di tahun-tahun tersebut, keluarga tsb diberi tanah garapan oleh otoritas desa. Pertanian yang dihasilkan dari tanah tersebut, diberikan setengahnya kepada otoritas desa. Keadaan ini berlangsung hingga usainya perang diponegoro di tahun 1830. keadaan makin memburuk ketika prancis (1801-1811) kemudian Inggris (1811-1816) menguasai Jawa, mereka membagi atas hasil tanahnya sebanyak 70% untuk penguasa dan 30% sisanya untuk penggarap. kondisi ini terus berlangung sampai Pangeran Diponegoro angkat senjata, konflik agraria adalah esensi dari perang Diponegoro. kekuasaan atas tanah adalah hal yang diinginkan oleh penguasa kolonial Belanda waktu itu. Setelah Belanda memenangkan perang diponegoro, keadaan bertambah buruk bagi anak cucu keturunan Paidi, politik tanam paksa pemerintah kolonial tidak hanya membuat keluarganya bertambah miskin, namun juga memaksa kalangan priyayi bertambah miskin. Kepala desa ikut miskin, kalangan santri dan Kyai ikut-ikutan miskin. Politik Tanam paksa berlangsung selama 40 tahun sejak 1830 sampai keluarnya undang-undang agraria 1870 dan masih berlangsung sedikit-sedikit hingga 1890 dan akhirnya mulai berakhir. Sistem tanam paksa ini kejam tidak hanya untuk anak keturunan paidi namun bagi kalangan Priyayi dan Santri. Sampai pada akhirnya awal tahun 1901 ratu Wilhelmina naik tahta dan dimulainya politik etis. angin segar untuk kalangan priyayi dan santri. organisasi-organisasi dan kaum intelektual mulai bermunculan dari mulai Serikat Dagang Islam, Muhammadiyah dan Budi Oetomo. Namun bagi anak keturunan paidi tak ada yang namanya perubahan. Priyayi-Priyayi lokal kembali menjadi penguasa. Hanya kepala desa dan kaum priyayi di atasnya yang boleh bersekolah. anak keturunan paidi tidak pernah kenal bangku sekolah. Terik matahari, tanah dan cangkul kembali menjadi sahabatnya sehari-hari. Terus seperti itu sampai Jepang masuk, kemudian proklamasi kemerdekaan. Beberapa anak keturunannya mengangkat senjata melawan kolonialisme sebagai laskar rakyat hingga awal tahun 1950,  setelah perlawanan dengan senjata selesai anak keturunan Paidi kembali ke Jatiroto, Wonogiri. Memandang nanar tanah-tanah di samping rumahnya yang ternyata tidak ada yang dimilikinya. Tanah-tanah di kampung itu milik pejabat desa, dan kyai-kyai kampung. awal tahun 1970 anak keturunan Paidi meninggalkan Jatiroto, mereka mencari peruntungan pergi ke JAKARTA. Meninggalkan kampung halaman yang sudah berabad-abad ditempati, tak sepetak tanah pun mereka miliki. Sampai di Jakarta mereka bertarung dengan ganasnya kehidupan pesisir. Mereka memilih tanjung priuk. bertarung di pesisir membuat mereka kuat, anak-anaknya besar di jalanan pelabuhan dan geladak-geladak kapal. mereka pantang menangis, pantang dikasihani. Pertengahan maret, anak keturunan paidi menelpon saya. Mengabarkan jika mereka kini digusur dari kontrakannya karena pembangunan kota mengharuskan mereka pindah. sudah 30 tahun, mereka masih mengontrak, tergusur di belantara beton bernama Jakarta. sebelum telepon ditutup, saya memekik “Supar sabarlah…, MERDEKA!” di ujung telepon supar menjawab “MERDEKA hanya milik pemilik modal dan korporasi, bukan kami. walaupun paidi asli turun temurun di tanah jawa, miskin selamanya menjadi takdirnya. di tengah banyaknya “pribumi asing” bisa punya rumah banyak, dapat konsesi ribuan hektar di darat dan bisa pengaruhi kebijakan untuk membuat daratan di laut.  Kalian ingin bicara tentang keadilan? bicaralah pada anak keturunan paidi. Bukan di ruang-ruang kelas dan seminar yang AC nya melenakan. Tetaplah bergerak, tetaplah berjuang! Kurfa29 April 2016

Tinggalkan komentar