Jika mau lebaran seperti sekarang ini, saya sering teringat dengan ucapan teman saya Hendri. Teman saya ini sering berkelakar terkait lebaran “Hen.., lebaran kapan ya? besok atau lusa?” secara normal kita akan menjawab “tunggu aja sidang isbat, sore ini kan akan dilaksanakan sidang itsbat dipimpin menteri Agama”. Namun Hendri akan menjawab berbeda “lebaran besok kur, karena ibu saya sudah memasak ketupat di rumah” atau menjawab “lebaran lusa kur, karena ibu saya belum memasak ketupat di rumah” Ketupat buatan ibunya akan menjadi penanda jatuhnya 1 Syawal, sidang isbat yang dipimpin menteri Agama akan dikesampingkan olehnya. Baginya penentu 1 Syawal adalah Ketupat dan opor Ayam buatan ibunya. Jika sudah matang, maka di hari tersebut sudah sah menjadi 1 syawal dan saatnya makan ketupat dan opor ayam.
ya.., itulah realitas umat islam di Indonesia, Idul fitri akan identik dengan ketupat, Opor ayam, Gulai sapi, kue-kue kering, berkunjung ke rumah sanak famili, mudik, bertukar makanan hingga berbagi “angpau”. Event agama bersatu padu dengan tradisi budaya. salah? tentu saja tidak. hal baik dan tetap harus dipertahankan.
Lalu, apa kaitannya dengan tulisan ini? tidak ada! tapi mungkin saja ada. Saya memulai dengan bertanya “Siapakah yang memenangkan pertarungan di bulan ramadhan ini?” bukankah idul fitri artinya meraih kemenangan? artinya apa yang dilakukan pada saat ramadhan adalah sebuah pertarungan, pertarungan melawan hawa nafsu, melawan diri sendiri. sesungguhnya tidak hanya Islam yang memiliki konsep melawan hawa nafsu. Agama-agama terdahulu pun memiliki itu. Umat budha memiliki konsep meditasi/bertapa, kemudian masyarakat hindu jawa pun memiliki konsep puasa dalam patung garuda wisnu kencana sering digambarkan nafsu haruslah diletakkan di bawah paha. Umat katolik pun memiliki puasa juga, bahkan dalam katolik seorang pelayan Tuhan yaitu pastor dan biarawati tidak boleh menikah alias harus melawan syahwatnya. Semua perjalanan menuju kesempurnaan hidup, hakikat kehidupan haruslah menempuh jalan melawan hawa nafsu ini. Namun saya melihat dalam konsep agama-agama terdahulu meditasi dan puasa adalah jalan untuk membunuh hawa nafsu, tetapi Puasa dalam islam adalah jalan untuk mengelola hawa nafsu. Islam mencoba menwarkan, bahwa untuk menjadi manusia sempurna haruslah mampu mengelola hawa nafsunya.
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah berbincang dengan seorang Kyai dari pesantren Buntet cirebon. saya bertanya “Kyai, siapakah orang yang memenangkan pertarungan di bulan ramadhan ini?” lalu kyai menjawab “Orang yang memenangkan pertarungan di bulan ramadhan, adalah mereka yang pada tanggal 1 syawal makan secukupnya seperti hari-hari puasa, kemudian membungkus semua makanan yang ada di rumah kemudian pergi berkeliling untuk memastikan tidak ada umat islam yang berpuasa pada hari itu dengan membagi-bagikan makanan yang sudah dibungkusnya itu”. itulah sejatinya kemenangan atas ramadhan. Kemudian kyai melanjutkan “kemenangan paripurna atas ramadhan adalah ketika kita memutuskan untuk berpuasa sunnah selama enam hari setelah tanggal 1 syawal”. Sehingga pantaslah Rasullullah pernah bersabda bahwa orang yang berpuasa enam hari di bulan syawal memiliki pahala seperti orang yang berpuasa sepanjang masa”. Saya berdoa, semoga segenap pembaca tulisan ini digolongkan kedalam orang-orang yang memenangkan pertarungan di bulan Ramadhan.
Selamat Lebaran dan selamat menyantap ketupat! Taqabballahu minna wa minkum