Oleh : Kurnia Fajar*

Kesukaan saya pada kegiatan berkemah telah mengantarkan saya berkeliling dataran tinggi priangan, Menjelajahi perkebunan-perkebunan yang begitu luas di seantero dataran tinggi di seputaran preanger. Dari mulai Subang, Sukabumi, Bogor, Cianjur, Selatan Bandung, utara Bandung hingga Garut selatan. Inilah peninggalan para “preanger planters” itu. Preanger Planters adalah sebutan yang ditujukan kepada para pengusaha perkebunan akibat dari diterapkannya politik cultuurstelsel alias tanam paksa, administratur Hindia Belanda hanya menanam komoditi yang harganya tinggi. Mereka mulai berdatangan ke Indonesia sejak 1850. Puncaknya di tahun 1870 dan berakhir di awal abad 20. Nama-nama seperti Van der Hucht, Karel Albert Rudolf Bosscha, John Henry van Blommstein, Edward Julius Kerkhoven, Karel Frederik Holle dan beberapa nama lainnya. Wilayah Jawa dibagi menjadi tiga kawasan perkebunan, pertama di wilayah Jawa tengah dan timur menjadi perkebunan tebu atau disebut “suiker planters” kemudian di wilayah jawa barat menjadi tea planters dan koffie planters. Dari sinilah muncul konglomerat –konglomerat pengusaha perkebunan atau disebut dengan istilah Meneer.
Mereka adalah orang kaya baru di negeri koloni Hindia Belanda. Tak bisa dipungkiri, kehadiran preanger planters ini memiliki andil terhadap berkembangnya kota Bandung. Sebuah kota yang dirancang untuk dihuni oleh meneer-meneer perkebunan dan menjadi pusat perdagangan komoditi hasil bumi. Bandung akhirnya menjadi terkenal di seantero Eropa waktu itu. Namun di sisi lain, di titik inilah terjadi penjajahan ekonomi terhadap penduduk pribumi. Pribumi dipaksa tunduk selama 70 tahun lamanya dalam politik tanam paksa. Mulai dari selesai perang Diponegoro tahun 1830 dan berakhir 1899. Di tahun 1900 Ratu Belanda Wilhelmina atas desakan dari tulisan-tulisan wartawan dan novel karya Douwes Dekker yang berjudul Max Havelaar. Novel tersebut mengungkap penderitaan rakyat akibat keserakahan penguasa lokal dan eksploitasi kolonial, sehingga membuka mata masyarakat Belanda dan mendorong munculnya gagasan balas budi dalam bentuk Politik Etis, yang kemudian dirumuskan oleh C. Th. van Deventer. Multatuli menuliskan pengalaman pahitnya tentang penindasan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial dan penguasa lokal terhadap rakyat pribumi.
Disinilah, akar Feodalisme nuncul, mengakar dan lestari sampai hari ini. Feodalisme yang sampai tulisan ini dibuat sulit dienyahkan dari Republik Indonesia. Politik tanam paksa yang terjadi selama 70 tahun sudah berhasil membuat bangsa ini kehilangan kepercayaan dirinya dan mengalami amnesia kepada sejarah dan jatidirinya sendiri. Sistem Tanam Paksa memanfaatkan dan memperparah hubungan feodal antara penguasa lokal (seperti bupati) dan rakyat, di mana para bupati berperan dalam menjaga kontrol sosial dan memastikan pelaksanaan kebijakan Belanda, seringkali dengan imbalan keuntungan pribadi yang memperkaya mereka dan meningkatkan korupsi.
Melihat peninggalan, foto-foto dan kisah para preanger planters ini membuat saya sejak SMA dahulu bermimpi dan bercita-cita atau lebih tepatnya membayangkan bagaimana rasanya menjadi juragan perkebunan. mulai dari mencoba model topi kadatuan ala Bosscha hingga menggunakan jam dalam saku dengan tembakau cerutu. Saya juga mengagumi arsitektur rumah-rumah perkebunan yang dibuat para meneer tersebut. Malah, beberapa staf saya dahulu memanggil saya dengan sebutan Meneer Kurfa. Sebenarnya ini untuk lucu-lucuan saja, ini hanyalah kode kalau supir saya minta rokok. namun lama-kelamaan staff saya yang lain memanggil saya dengan sebutan meneer kurfa. Lengkap sudah rasanya saya menjadi preanger planters. Namun ternyata, mimpi saya ini didengar oleh Allah SWT. Di awal tahun 2017 ini saya diberi amanah, untuk memimpin sebuah perusahaan yang bergerak di bidang… ya benar, Perkebunan. lebih tepatnya ex perkebunan teh dan hari ini sedang berpindah/bergeser menjadi perkebunan kopi. Waah.., mimpi saya benar-benar menjadi kenyataan. Hari ini saya telah resmi menjadi preanger planters!
Harusnya besok saya beli topi kadatuan, naik kuda untuk berkeliling perkebunan, hehehe… apakah sudah pantas saya dipanggil Meneer kurfa van prawirodiharjo? apakah saya juga akan mencatat sejarah? yang jelas sudah saatnya pribumi Indonesia mendapatkan manfaat dan keberhasilan di usaha perkebunan ini seperti para meneer eropa dahulu menikmati kekayaan dari pribumi. Sudah saatnya kopi jawa barat kembali mendunia seperti masa keemasannya dahulu. Sudah saatnya petani kopi jawa barat menikmati hasil yang menguntungkan. Oh ya.., kebun yang hari ini saya kelola adalah ex kebun teh dari Karel Frederik Holle yang tugunya masih ada sampai hari ini di Blok Cisaruni – Cikajang.
*)Pengamat Ikan di dalam kolam