Uji Nyali? Jadilah Petani…

Sampai dengan abad 16, Masyarakat bangsa nusantara ini mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Piawai mengarungi ganasnya lautan dan melakukan ekspansi besar-besaran ke berbagai belahan dunia lain, bahkan kata “syahbandar” adalah sumbangan bangsa nusantara bagi dunia maritim internasional. Datangnya bangsa Eropa ke nusantara mengubah itu semua, kebutuhan rempah-rempah yang begitu tinggi membuat masyarakat nusantara mulai bercocok tanam secara intensif, perlahan namun pasti bangsa nusantara beralih dari bangsa maritim menjadi bangsa darat (baca : agraris). Pertanian dibuat dan disusun secara intensif, irigasi dibuat. Semua orang bergembira memasuki dunia agraris dan mulai meninggalkan lautan. Sejak dahulu, bangsa Nusantara hidup berkoloni, berkelompok-kelompok dalam satu kesatuan yang disebut desa dalam bahasa jawa, sementara masyarakat suku lain menyebutnya dengan kampung, kampong (melayu), kampong (belitung), dukuh, dusun, udik, dan masih banyak lagi padanan kata lain yang merujuk pada pedesaan.

Memasuki abad ke 21 dunia cocok tanam (agraris) memasuki senjakala. Tidak ada masa depan di dunia pertanian, orang tua tidak pernah berwasiat pada anaknya untuk menjadi petani. Selamat datang dunia industri. Perlahan tapi pasti pabrik-pabrik berdiri di atas tanah subur bernama nusantara. Menjadi petani berarti menjadi miskin, pendapatan petani hanya rata-rata 1,8 juta rupiah/2000 m2 atau 9 juta rupiah/hektar per bulan. Sebuah angka yang kecil jika dibandingkan menjadi buruh yang bisa mendapatkan penghasilan 2,7 juta s.d. 3,3 juta/bulan. Secara tidak sadar kita sedang digiring dari bangsa agraris menjadi bangsa buruh. MENYEDIHKAN! Pembangunan dan revolusi Industri telah menghadirkan kaum urban, kaum perkotaan yang jauh dari debu dan lumpur sawah kebun. kaum pedesaan menjadi marjinal, warga negara kelas dua di tanah leluhurnya sendiri.

Akibat dari tidak adanya minat menjadi petani, ketahanan pangan menjadi lemah, 70% produk pertanian kita impor. Susu impor, daging impor, kedelai impor, garam, beras dan gula pun impor. Bahkan ada produk pertanian yang 99% impor yakni bawang putih. Bagaimana ceritanya kita menjadi lemah seperti ini? Padahal kedaulatan bangsa dimulai dari kedaulatan pangan. Pertanian memasuki senja kala. jumlah lahan pertanian terus berkurang tergantikan oleh perumahan dan infrastruktur pendukungnya. Untuk tetap bertahan mereka mulai menggarap lahan perkebunan dan kehutanan, tindakan menyebabkan kualitas lingkungan rusak, longsor menjadi sebuah keniscayaan.

jika harga komoditi naik, petani hampir tidak merasakan keuntungan dari naiknya harga tersebut, pemerintah biasanya segera membuat/menyusun HPP (Harga pembelian petani) sehingga keuntungan petani menjadi tetap. Tetapi ketika harga komoditi rendah, HPP tersebut tidak berlaku kembali. Seringkali terlihat, pada saat puncak musim panen dan harga jatuh, komoditi dibiarkan membusuk di pohonnya tidak ada yang melakukan panen. selain itu faktor hama, penyakit tanaman, cuaca ekstrim menjadi resiko ketidakpastian dalam dunia pertanian. Akibatnya, sektor usaha pertanian menjadi bisnis yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Tidak heran, dunia perbankan pun enggan merilis kredit sektor pertanian. Hasil penelusuran penulis ke beberapa bank, komoditi pertanian yang sudah ada skema kredit dan dapat diukur resikonya adalah perkebunan sawit, di luar itu perbankan masih enggan memberikan kredit. Tidak hanya pertanian komoditi peternakan juga sama tidak ada kredit bagi komoditi-komoditi peternakan.

Dengan kondisi yang ada, tidak heran banyak orang frustrasi dan tidak mau jadi petani lagi. para orang tua, tidak lagi berwasiat kepada anak-anaknya. Maka, Jika hari ini kita melihat begitu banyak pengusaha sukses, namun hanya sedikit yang dari pertanian, untuk itu, jika ingin uji nyali sebagai pengusaha? jadilah Petani!

Tinggalkan komentar