
Dalam 2 (dua) bulan terakhir, anak-anak ANE Unpar 1999 mulai ramai di group Whatsapp, mereka membahas rencana acara pertemuan 20 tahun Administrasi Negara FISIP – UNPAR angkatan 1999. Ketika group WA itu ada dan mulai bercerita tentang masa-masa kuliah, pikiran saya menerawang kembali ke masa itu. Masa-masa yang cukup berat. Usia awal kuliah adalah waktunya berusaha mencari jati diri, tidak semua bisa melaluinya dengan mudah, ada yang over confident, ada yang minder, ada yang broken home, ada yang gembira dan semangat, ada yang murung, ada yang jatuh cinta, ada yang patah hati, ada yang ketakutan dan ada yang berpetualang. Semua kondisi ini melebur dalam satu situasi dan membentuk sebuah society bernama mahasiswa baru, dalam hal ini anak-anak Administrasi Negara Fisip Unpar angkatan 1999, jumlahnya 121 orang. William Brooks pernah menulis “those physical, social, and psychological perception of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others.”
Situasi inilah yang akhirnya membuat banyak warna dalam interaksi sosial di dalam angkatan ANE Fisip Unpar 99. Padahal kuliahnya sendiri tidaklah mudah, mata kuliah administrasi dan politik harus “dikunyah” di tengah arus perubahan bandul besar politik national 98. Berakhirnya era otoriter Soeharto dan masuk ke jaman Reformasi yang penuh kebebasan. Saya pun senang memasuki usia kuliah ini, seperti masuk ke pintu gerbang kebebasan dalam mengambil keputusan, bahkan ada kepuasan ketika memutuskan bolos kuliah dan tidak ada yang memarahi hahaha…. Namanya juga awal-awal ngambil keputusan, pasti banyak salahnya. bukankah lebih baik salah daripada tidak pernah mencoba? Sehingga akhirnya, saya yakin semua sepakat bahwa kuliah di Jurusan Administrasi Negara adalah sulit, hanya sedikit dari kami yang bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu (baca : 5 tahun) sisanya menyelesaikan rata-rata 6 tahun dan sebagian lagi pas 7 tahun, bahkan ada yang lebih dari 7 tahun hehehe…
Kemarin saya berjumpa lagi dengan mereka, karena datang agak terlambat dan pulang harus agak cepat saya datangi teman-teman ini, ada beberapa yang saya terpaksa lupa namanya bukan karena saya sombong namun hal ini terjadi karena saya selalu “ketinggalan” mata kuliah, sehingga jarang satu mata kuliah dengan mereka, bahkan mata kuliah KKN yang terbukti bisa mendekatkan secara emosional antara satu dengan yang lain saya lalui bernama sama dengan angkatan 2001 :))
ketika saya menyalami satu persatu, tampak wajah-wajah yang sudah berubah, wajah-wajah survival yang sudah menjalani pertempuran kehidupannya masing-masing, ada Wisdom yang terpancar, ada perdamaian dengan dirinya masing-masing. Wisdom ini yang membuat pertemuan menjadi hangat, saling menghargai dan menghormati. makanan dan minuman menjadi tidak menarik, kisah dari masing-masing lebih menarik untuk didengar dan dicermati. Cerita dan kisah dari kawan-kawan ini laksana harapan, seperti kata sastrawan China Lu Xun “harapan itu seperti jalan di pedalaman, mula-mula ia tiada, lalu saat banyak yang menempuhnya maka jalan pun terjadilah.”
Saya bersyukur bisa hadir di acara kemarin, meskipun tidak sempat berfoto. Karena dari waktu akhirnya saya belajar, ada hal-hal yang harus saya perjuangkan, ada hal-hal yang harus saya pertahankan, ada hal-hal yang harus saya ikhlaskan dan hal-hal yang akan tetap saya simpan disini. di lubuk hati saya yang terdalam, hingga kelak akan datang waktunya untuk kembali pulang.