Dipeluk Ibu…

Aku masih terlalu kecil, ketika ibu mengangguk-angguk menerima saran dokter. Di Bangsal RS Salamun itu aku berbaring, usiaku baru masuk 4 tahun. Mata ibu berkaca-kaca sambil mengusap-usap kepalaku “Kurfa tenang aja, gapapa kok”. “Nanti kalo udah sembuh boleh pulang”. Aku masih belum mengerti apa yg terjadi.

Ibu selalu memegang erat tanganku ketika hendak disuntik, atau dipasangi infus, ujung bibirnya bergerak melantunkan doa-doa. Sejak usia 4 tahun aku menderita sakit kelainan fungsi Ginjal dan baru selesai menjalani therapi di usia 13 tahun, hampir 9 tahun lamanya sebelum dokter menyatakan aku sembuh. Dalam masa pengobatan ini aku harus dirawat inap hingga hampir 6 (enam) bulan lamanya di usia 4 dan 6 tahun.

Setelah selesai rawat inap aku harus menjalani rawat jalan seminggu sekali sejak usia 7 sampai 13 tahun. Mungkin karena sering bersama-sama ibu dalam masa pengobatan inilah membuat aku sangat “bonding” dengan ibu. Aku bicarakan semua hal dengan ibu, baik yang masuk akal maupun yang tidak masuk akal, baik rencana hari ini maupun rencana masa depan. Biasanya ibu hanya tersenyum dan mengamini. Kecuali yang ibu tidak setuju langsung ditolak atau kepalanya menggeleng. Tapi ajaib! Semua yang di amin kan ibu, hampir semuanya terlaksana, dikabulkan oleh Allah yang maha pengasih dan penyayang.

Suatu hari, ketika jadwal rawat jalan, di luar kebiasaan aku harus diperiksa banyak. Pada saat mau pulang ibu bicara “Kurfa, kita jalan ke rumah budhe Yani ya”. Aku mengangguk sambil belum paham maksud perkataan ibu. Namun akhirnya aku mengerti, hari itu ibu kehabisan ongkos, dari RS TNI AU Salamun, aku berjalan ke rumah budhe ku di Jalan Cihampelas, tepatnya jalan Cihampelas no 86 yang sekarang sudah tidak ada akibat tergusur oleh pembangunan Paspati.

Sepanjang jalan aku mengeluh kecapean, setiap kali aku mengeluh, ibu menggendong sampai peluhnya terasa di pergelangan tanganku yg melingkar di lehernya. Jika sudah begitu, aku berbisik padanya “Bu, Kurfa jalan aja”. Begitu terus, gendong sebentar, jalan sebentar, usiaku 10 tahun waktu itu. Peristiwa Jalan gendong dari RS Salamun ke rumah budhe adalah salah satu peristiwa yg monumental, banyak hal berubah dalam diriku sejak peristiwa itu. Dan meskipun aku tahu ibu ikhlas menggendongku, aku menyesal belum pernah menyampaikan maaf atas sifat manjaku waktu itu. Suatu hari ibu berpesan “kamu harus kuat, kaki dan tangan kamu harus kuat, supaya kamu bisa bantu orang lain”.

Ibu adalah orang hebat untuk anak-anaknya dan juga untuk keluarga besarnya.  Dulu, ibu sering lupa rakaat, lupa ayat, karena teringat uang sekolah anaknya. Pada sujudnya yg lama, basah dan memerih. Ibu cuma menyisakan 300 ribu rupiah untuk makan 1 bulan hanya untuk memastikan anaknya bisa sekolah. Ibu adalah sebuah tempat; yg darinya kita pergi dan kepadanya kita selalu rindu kembali. Tentang dia yg tangannya selalu terbuka senyumnya selalu mengembang: entah kita sedang kalah atau menang. Tentang bab yg tak pernah tuntas kita baca: Ibu. Aku rindu menuntun Ibu di bandara, menunggu pesawat yg acap telat. Menyimak nasihat yg sudah kita dengar ratusan bahkan mungkin ribuan kali: hati-hati, jangan telat makan, jangan gak sholat. Aku rindu dimarahi ibu, yg gelisah dan khawatir, yg cemas jika dia tidak cemas. Yg tidur paling akhir dan bangun paling awal. Ibu yg mengambil semua rasa bersalah meski dia tak ada di tiap perkara.

Hari ini pikiranku kembali ke masa itu, dipeluk dan digendong ibu sepanjang jalan ke rumah budhe Yani. Gendongan ibu adalah salah satu dari banyaknya kasih sayang ibu kepadaku. Hari ini aku rindu, rindu pada kasih sayang ibu. Aku bersedia menukar apa saja demi sekali lagi bertemu Ibu untuk mengucapkan terima kasih. Aku berdoa semoga Allah SWT menyayangi ibu seperti ibu menyayangi aku. Allahumagfirlaha, warhamha waafihi wafuanha.. Selamat Hari ibu, sayangi dan doakan ibu kita semua….

KF-22 Desember 2019

2 respons untuk ‘Dipeluk Ibu…

  1. Pa. Salam kenal saya husna. Saya sedang membutuhkan bantuan bapak
    Prihal yg mw saya kerjakan besar harapan saya bapak bisa respon pesan saya

    Suka

Tinggalkan komentar