Oleh : Kurnia Fajar*

Suatu sore saya berbincang dengan seorang kawan yang sudah cukup senior dan usianya sama dengan ayah saya, ia pengusaha jakarta keturunan Minang dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh minang yang seusia dengannya, saya memanggilnya Pak Zul. Sore itu tiba-tiba beliau bercerita tentang M. Natsir aktivis dan negarawan yang pernah membentuk partai Masyumi, pernah menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia dan salah satu legacy nya yang hebat adalah ketika menginisiasi Mosi Integral Natsir yang menjadi titik awal kembali ke Negara Kesatuan setelah sebelumnya Republik Indonesia berbentuk Serikat hasil dari Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Pak Natsir atau sering juga dipanggil Buya Natsir juga pernah menjadi Presiden Liga Muslim dunia dan ketua Dewan Mesjid se-Indonesia. Sebagian besar kiprahnya di Republik ini tentu semua sudah mengetahuinya termasuk ketika Natsir dipenjara oleh Bung Karno karena dianggap memprovokasi PRRI. Ia dipenjara dari tahun 1962 dan baru dibebaskan setelah pak Harto mengemban supersemar yaitu pada bulan Juli 1966. Pak Natsir sangatlah sederhana, sekitar pertengahan tahun 1985 ketika Pak Zul dan Farid Prawiranegara mengunjunginya, nampak kacamatanya rusak dan patah frame-nya. Lalu Farid menawarkan untuk membelikan kacamata baru, pak Natsir menolaknya dan meminta untuk diambilkan selotip. Lalu beliau memperbaiki kacamatanya dan melanjutkan pembicaraan dengan Farid dan pak Zul, setelannya cuma kaos singlet merk swan dan kain sarung, demikian pak Zul menjelaskan. Oh ya, Farid Prawiranegara yang dimaksud adalah putra dari Mr. Syafruddin Prawiranegara yang pernah menjadi presiden dalam pemerintahan darurat Republik Indonesia (PDRI).
Pengaruh Natsir dalam diplomasi dan pergaulan Internasional
Sekitar tahun 1973, Jepang dan beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Kanada mendapatkan embargo minyak dari Arab Saudi, akibatnya Industri-industri dan ekonomi di jepang menjadi lumpuh. Perdana Menteri Jepang saat itu Kakuei Tanaka segera memerintahkan Duta besar Jepang untuk Indonesia untuk mencari M. Natsir yang sedang menjadi Presiden Liga Muslim dunia, meminta nomor teleponnya dan PM Jepang langsung menelepon Natsir, dalam pembicaraannya PM Jepang memohon kepada Natsir agar dapat membantu membujuk Arab saudi untuk menghentikan embargo kepada Jepang. Tentulah ini hal yang tidak mudah, namun M. Natsir dengan kepiawannya berdiplomasi akhirnya memenuhi permintaan PM Jepang tersebut dan menelepon Raja Faisal, agar memberi keringanan kepada Jepang, sehingga perekonomian Jepang bisa bergerak kembali. Karena hormatnya raja Faisal kepada Natsir, akhirnya Arab saudi membuka keran Ekspor minyaknya kembali ke Jepang. Mungkin saja Natsir bukan satu-satunya faktor, namun dalam perbincangan antara Buya Natsir dengan Farid dan pak Zul, buya Natsir menjelaskan dengan rinci langkah-langkah yang telah dilakukan untuk membantu Jepang.
Natsir dan keteladannya dalam toleransi antar umat beragama
Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa Natsir bersahabat dekat dengan IJ Kasimo. Seperti kita ketahui IJ Kasimo adalah pendiri Partai Katolik, ketika Natsir dan IJ Kasimo sama-sama menjadi anggota KNIP, kasimo selalu mengajak Natsir untuk berangkat bersama-sama, dan pulangnya ngopi sama-sama. Padahal dalam sidang kedua tokoh ini kerap “bertengkar” adu pendapat. Demikian pula ketika Natsir dan IJ Kasimo menjadi anggota Konstituante dan berkantor di Bandung, IJ Kasimo dicarikan rumah oleh Natsir dekat di kediaman rumahnya. Natsir mengiriminya sarapan setiap pagi. Membonceng naik motornya dan minum kopi setiap selesai rapat konstituante. Saking dekatnya persahabatan mereka, teman-teman di Konstituante kadang iri dengan lekatnya persahabatan mereka. Jika Lebaran dan Natal mereka saling berkunjung dan ikut mencicipi makanan yang disajikan. Natsir sesungguhnya juga dekat dengan Leimena yang merupakan tokoh Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan bahkan DN Aidit yang merupakan Ketua CC PKI, namun publik lebih banyak merekam persahabatan Natsir dengan Kasimo.
Pergerakan Politik umat islam di Indonesia
Sudah saatnya, pergerakan politik islam di Indonesia kembali ke jatidirinya, sebagai ummatan wasathan yang menebar pesan rahmatan lil allamiin. Saat ini Masyumi, PSII dan PII sudah tidak ada lagi, secara partai politik kini tinggal PKB dan PKS yang masih ada di parlemen. PKB mewakili umat islam tradisional dan di pedesaan atau bersinggungan dengan kebanyakan anggota Nahdatul Ulama (NU) sedangkan PKS mewakili umat islam di perkotaan yang lebih moderat. Bahkan PKS adalah partai kader yang memiliki sistem pembinaan berjenjang, tumbuh subur di tempat-tempat pendidikan tinggi, sehingga wajar PKS mayoritas kadernya adalah cerdik cendikia memiliki intelektualitas di atas rata-rata. Ribuan kadernya adalah Doktor dalam beragam disiplin ilmu. Ini adalah khazanah yang tidak ternilai harganya dalam dakwah islam. Namun sejak pemilu 2014 atau tepatnya sejak Jokowi menjadi Presiden, PKS seperti kehilangan narasi dalam bersinggungan dengan ruang publik, memutuskan oposisi tidak mampu mengerek kursi PKS dalam jumlah signifikan, malah dalam pemilu 2024 lalu PKB dan Nasdem yang notabene sama-sama mengusung Anies dalam pilpres mendapatkan keuntungan kenaikan jumlah kursi yang signifikan. Sedangkan PKS hanya mendapatkan kenaikan 3 kursi yang itupun kelihatannya lebih karena kerja keras kader bukan karena “anies effect”. Marjinalisasi umat islam yang terjadi pada jaman Soeharto membuat gerakan islam ini ditakuti dan dicurigai, barulah sejak reformasi orang boleh lagi berserikat dengan bebas dan dilindungi oleh negara. Ada satu benang literasi yang terputus dari generasi aktivis islam di jaman kemerdekaan, dengan aktivis islam milenial, rasanya ini adalah sesuatu yang harus segera diperbaiki oleh para tokoh-tokoh islam hari ini. Jalan yang ditempuh oleh Natsir bisa jadi semacam acuan dalam berjuang untuk memenangkan politik islam di Indonesia.
Tahun 1990 ketika ICMI dibentuk, salah seorang inisiatornya menulis tajuk di koran dan mengutip kembali kalimat cak Nur yang terkenal yakni “Islam yes dan Partai Islam no!”. Sampai akhirnya tajuk itu sampai ke telinga buya Natsir, di usia senjanya buya Natsir nampak geram, karena ucapan cak Nur tersebut sudah 20 tahun berlalu dan masih belum ada perubahan meski ICMI didirikan. Melalui Dewan Mesjid Indonesia organisasi yang dipimpinnya buya Natsir mengirimkan rilisnya yang isinya masih bisa saya ingat “Jangan lagi umat islam berdiam di pinggir jalan dan menonton kekuasaan”. Hari ini tahun 2024 dan rasanya di dalam pemerintahan Prabowo ini, umat islam sebagai pemegang saham terbesar republik masihlah menjadi penonton kekuasaan. Meskipun saat ini tidak lagi menonton dari pinggir jalan.
Sore itu Farid Prawiranegara bertanya kepada Natsir “Ikhlas itu seperti apa buya?” Natsir menjawab dengan sangat sederhana “Ikhlas itu seperti membuang kotoran dalam tubuh setiap pagi, hak milik dan ada di dalam tubuh namun dengan senang hati kita membuangnya, merasa lega dan merasa sehat”. Hakekatnya, ketika sudah tidak merasa memiliki apapun di dunia ini bahkan bergembira ketika melepasnya, sesungguhnya kita telah menjadi ikhlas. Karena sesungguhnya semua adalah milik Allah SWT semata. Demikian sore itu buya Natsir menutup pembicaraan dengan Farid dan Pak Zul.
*)Gerilyawan selatan