Kang Tedi, demikian saya biasa menyapanya. Kami berjumpa dalam situasi sama-sama kalah dalam pertarungan kehidupan. Bola matanya jenaka, sikapnya bersahaja dan sering menawarkan makanan dan minuman apa saja yang ia bawa. Pembawaannya ramah namun penuh selidik. Sikapnya tertutup dan penuh selidik. Tempaan masa kecil sebagai anak prajurit dan kejamnya dunia usaha sudah merubah mindset-nya. Kang Tedi, seringkali bercerita pengalaman-pengalaman hidupnya ketika berhadapan dengan kekuasaan, lembaga pembiayaan dan partner-partner bisnisnya yang membuat dirinya harus bermanuver agar tetap survive dalam dunia bisnis yang begitu kompleks, getir dan kejam. Suatu ketika ia bercerita pengalamannya naik kereta dari rumahnya di batalyon Lintas Udara cicalengka, menuju kampusnya di ITB jalan Ganesha Bandung. Seringkali kang Tedi harus jalan kaki agar ada kelebihan uang jajan untuk ia simpan dan jaga-jaga jika ada kebutuhan darurat. Singkat cerita, Sutedi adalah gambaran rata-rata anak prajurit yang berjuang untuk masa depan dirinya.
“Yang sulit di Republik ini adalah akses”. Begitu suatu ketika ia bercerita, “dan aset terpenting dalam hidup adalah ini”. Sambil memegang kepalanya seolah-olah ingin menerangkan bahwa isi kepala adalah sesuatu yang bernilai tinggi. Raut mukanya mirip dengan keturunan tionghoa sehingga tidak jarang, kang Tedi dipanggil dengan sebutan ko Tedi atau ko Haji, karena seringkali memegang tasbih dan mengenakan sarung. Sebagai orang sunda tulen dan jenaka, kang Tedi tentunya suka becanda atau dalam bahasa sunda disebut “resep banyol”. Dan layaknya orang sunda pada umumnya, kalo becanda seringkali jorang atau sedikit vulgar yang memang menjadi ciri khas orang-orang sunda pada umumnya. Satu waktu, kang Tedi akan nampak diam dan jarang bicara, namun di waktu lain akan mengajak bicara dan becanda tak habis-habisnya.
Satu hal yang terpenting dari kang Tedi adalah sikapnya yang selalu menebarkan optimisme. Ia akan terus memberikan nasehat-nasehat tentang harapan, seperti kata Lu Xun, penulis Cina, menyatakan, “Harapan adalah seperti jalan di daerah pedalaman, pada awalnya tidak ada jalan setapak semacam itu, namun sesudah banyak orang berjalan di atasnya, jalan itu tercipta”.
