Oleh : Kurnia Fajar*

Nasehat jawa menggambarkan situasi sekarang ini “Ojo gumunan, Ojo getunan, Ojo kagetan”. Artinya jangan mudah terheran-heran. Jangan mudah menyesal. Jangan mudah terkejut-kejut. Selain itu Al-qur’an juga mengigatkan dalam surat Ali Imran ayat 26 yang bunyinya “Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki”. Dalam era kepemimpinan Joko Widodo, Indonesia menghadapi tantangan serius dalam menjaga kualitas demokrasi yang telah dibangun sejak era Reformasi. Jokowi, yang awalnya dipandang sebagai harapan baru bagi demokrasi Indonesia, justru menunjukkan tanda-tanda pergeseran menuju apa yang disebut sebagai “Authoritarian Backsliding”.
Meskipun Jokowi tidak secara terbuka mengadopsi kebijakan otoriter, beberapa keputusan dan tindakan selama masa kepresidenannya telah membuka jalan untuk konsolidasi kekuasaan yang lebih kuat, membatasi ruang demokratisasi, dan menimbulkan kekhawatiran tentang kesehatan demokrasi di negeri ini. Sebenarnya, untuk menguliti Jokowi tidak cukup hanya bermodalkan satu teori saja. Bahkan, untuk melabeli “kesintingan” Jokowi, tidak cukup hanya dengan satu atau dua istilah saja. Maka dari itu, melalui tulisan singkat ini, Saya mencoba untuk memberikan analisa singkat.
Masih teringat dalam ingatan betapa tahun 2014 lalu Jokowi disanjung, dipuja-puja, dimuliakan, bahkan dinabikan serta menjadi harapan semua orang. Semua yang Jokowi lakukan adalah benar, semuanya tertawan, terpukau dan terkagum-kagum. Melihat fenomena ini, mereka yang memiliki Iman kuat dan ingat nasehat leluhur pasti akan bertanya-tanya dan berfikiran sebaliknya. Nalar mayoritas masyarakat seperti jatuh ke titik dasar, seperti ada sihir dalam diri Jokowi. semua mengamini, yang melawan dibully habis-habisan oleh publik. Sebagian kecil yang masih memiliki akal sehat (meminjam istilah rocky gerung) akhirnya menepi menyaksikan jalannya kekuasaan yang fanatis dengan dukungan opini publik yang ditulis oleh para pendengung setiap hari. Bermula dari Esemka, kemudian menjanjikan ekonomi akan meroket, ketergantungan terhadap dollar akan berkurang, penuntasan pelanggaran HAM masa lalu, penegakan Hukum, reformasi agraria, dan mengurangi utang luar negeri. Yang terjadi malah kebalikannya, utang yang menggunung dan pelemahan demokrasi serta konstitusi terjadi. Barulah para Jokowers (pengikut jokowi) ini kemudian sadar. Puncaknya agustus kemarin mereka melakukan demo besar-besaran menentang rezim. Tapi apapun itu, kita wajib apresiasi kebangkitan nalar masyarakat khususnya kelas menengah pengagum Jokowi. Karena pada peristiwa penembakan KM 50, dan pemukulan oleh aparat dalam aksi massa sebelumnya relatif diam. Apa karena hal itu menimpa umat islam ya?
Paling tidak ada 4 indikator “prank” era Jokowi, yang pertama adalah praktek elektoral yang terpimpin, dimana pemilu di “kondisikan”. Agar dapat dimenangkan oleh calon yang diinginkan. Kedua, turunnya Indeks demokratisasi, ketiga “harapan palsu” dan yang keempat adalah nepotisme. Sehingga ada “rasa” demokrasi terpimpin dalam pemerintahan Jokowi. Ibarat supir bus memberikan penawaran kepada para penumpangnya mau ke Bandung atau ke Bogor, namun keputusan tetap di tangan sang sopir. Begitulah adanya, Namun, sekali lagi begitulah manisnya kekuasaan, saking manisnya bisa menyebabkan kecanduan. Apa yang terjadi hari ini adalah cerminan kekuasaan Allah SWT. Tuhan yang maha Esa. Sesuai firman-NYA dalam ayat yang dikutip di atas, kemuliaan dan kehinaan adalah satu. Dari peristiwa ini kita besyukur, karena nalar publik sudah kembali.