Ujian kepemimpinan Prabowo, memberantas Judi online

Oleh : Kurnia Fajar*

Hujan turun sore ini, wajah wajah itu tampak cemas. Segala rencana dan mimpi tiba-tiba saja terhenti. Kita rupanya tak benar-benar menguasai nasib kita sendiri. “Absurditas” cetus Albert Camus. Tiba-tiba terbayang dibenak saya penduduk Kota Oran yang dikejutkan kedatangan wabah sampar. Sampar menghajar siapa saja yang kebetulan berada dalam jangkauannya. Tidak peduli anak-anak, dewasa, si miskin, atau si kaya. Sampar adalah ancaman lintas kelas, lintas umur. Kota Oran diisolasi. La peste (Sampar), sebuah Roman karya Albert Camus. Dalam karyanya tersebut Camus ingin bicara tentang kebathilan. Dan bencana atau wabah adalah kebathilan (the evil, le mal) tanpa nama. Ia bathil (jahat) karena membunuh siapa saja yang kebetulan ada dalam jangkuannya.

Di dalam warung kopi, Cecep seorang loper koran datang menghampiri, menyerahkan uang kumal seratus ribuan “Mang Ndin, biasa, depo”. Begitu ucapnya. Kemudian saya nyeletuk “masih bisa main judi online cep?”. Cecep mengangguk sambil menekan tombol-tombol pada ponselnya, “berarti pemerintah ini hanya basa-basi saja”. Batin saya bergumam. Judi online layaknya wabah sampar, dan harus diberantas, ia bathil dan mengusik sendi-sendi kehidupan. Bahkan sudah banyak peristiwa pembunuhan, pencurian, perkelahian, perceraian dan penganiayaan akibat dari judi online ini. Negara seperti tak berdaya menghadapinya, padahal sebagai pemegang kekuasaan jaringan internet, harusnya mudah saja bagi negara untuk mematikan judi online ini. Data mencatat di tahun 2023 saja perputaran uang di judi online mencapai 300 Trilyun rupiah. Bagi bandar tentu dia tak mau rugi, jika ia atur algoritma sistem, dan memberikan kemenangan sebanyak 30% saja kepada para pemain, paling tidak bandar akan mendapatkan keuntungan sebesar 200 trilyun, dana masyarakat tersedot dan tidak akan pernah kembali ke masyarakat. UMKM mati, kemiskinan bertambah, bagi saya judi online tak ubahnya seperti crowdfunding dana masyarakat untuk para bandar.

Dengan situasi yang sudah amat memprihatinkan ini, waktunya Negara dan pemerintah bersikap tegas, kaum agamawan sudah menyerah sejak lama menghadapi gempuran judi online ini, mengapa semua orang bermain judi online? Karena mereka semua kehilangan harapan. Ketidakadilan dan kesewenang-wenangan dipertontonkan, rakyat hanya perlu disapa, diberi harapan dan memiliki pekerjaan. Lalu kemana larinya pekerjaan? Kebijakan negara ini justru memberi tempat kepada para pelaku bisnis di negara lain, ya, negara kita hobinya IMPOR!. Harapan bagi masyarakat hanyalah ponsel yang dipegangnya, sambil mengharap peruntungan situs judi online akhirnya menjadi tujuan di tengah hatinya yang galau karena harus membeli nasi dan susu untuk anaknya. Presiden Prabowo datang memberi harapan dengan janji untuk menciptakan generator-generator ekonomi baru. Namun janji itu masih dalam perjalanan untuk menjadi sebuah keniscayaan. Sudah hampir sebulan beliau menjabat dan cecep masih bisa mengakses situs judi online, artinya adalah bahwa pemerintah tidak serius dan sekedar gimmick belaka. Bahkan dalam situasi yang tertekan seperti ini, PPN akan dinaikkan menjadi 12% di tanggal 1 januari 2025, bukannya harapan yang mendekat, malahan kepastian beban yang datang.

Para pengampu kepentingan, sudah saatnya cosplay alias berempati menjadi masyarakat yang hilang harapan, tidak berdaya, agar paham betapa bahayanya judi online ini. Ia membunuh karakter masyarakat, antar anak bangsa saling bunuh, ini adalah divide et impera dalam mode automatic. Ayolah kawan, hentikan, kita menuju kehancuran. Pak Presiden Prabowo (mudah-mudahan tulisan ini sampai ke beliau) saya betul-betul berharap bapak bisa memusnahkan judi online ini. Jika ini berhasil, saya percaya bahwa ada harapan untuk masa depan bangsa ini, namun apabila cecep masih bisa mengakses judi online, bagi saya semua berita yang seliweran di media massa ini hanya basa-basi semata. Cottard Gracia (tokoh dalam novel sampar) tentu saja bahagia sebab ia bisa mendapatkan keuntungan. Kita bisa dengan mudah menemukan tokoh ini dalam situasi kita hari ini. Bandar-bandar dan para pelindungnya berseliweran di social media dan televisi. Para bandar dan politisi ini rela terlibat untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak. Ya, absurditas akan mengajak kita pada perenungan moral. Disana kita akan dihadapkan pada wajah kita sendiri. Oleh karena itu, wabah itu sendiri adalah cermin. Setiap jawaban tak lebih dari gambaran diri kita sendiri.

*)warganegara biasa, pemerhati ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar