Dari Dua Kesalahan (Bagian 1)

Hingga kematian datang menjemput, rasanya tak akan pernah saya bisa melupakan hari itu: 4 Juli 2019. Hari yang seolah menjadikan saya laiknya pohon yang dicerabut paksa, dibiarkan lepas dari akar yang membuat saya menapak di bumi, di kehidupan. Akar itu, baru saya sadari kemudian, adalah Ibu. Orang terkasih yang hari itu meninggalkan saya untuk selamanya, tanpa ada sedikit pun garansi bisa berjumpa kembali.  Ya, benar. Saya limbung, kehilangan pegangan. Tak punya tempat berpijak, tak lagi bisa bersandar karena telah tiadanya penopang. Ibu saya berpulang, meninggalkan saya tenggelam dalam pekatnya rasa sendirian.

Memang sejak lama saya sadar, bahwa Ibu telah berperan sangat banyak, bahkan nyaris sentral, dalam hidup saya. Tidak hanya saat saya kecil, melainkan bahkan manakala sudah bisa menentukan sendiri kemana  hidup dan usia saya arahkan. Tetapi di hari kematian itu, pada saat saya menyadari bahwa komunikasi kami ke depan tak lebih dari monolog saya tanpa respons balik beliau, mata saya terbuka selebar-lebarnya.

Tiba-tiba saya tersudut oleh keyakinan, sedalam apa yang bisa diyakini manusia, bahwa tanpa Ibu, sedikit pun saya tak punya arti. Ibulah yang selama ini menjadi api yang memberikan hangat pada semangat yang seringkali mati, membeku di nadi. Mencairkannya dengan kehangatan, hingga saya sadar bahwa hidup memang bukanlah kumpulan pemberian, namun sesuatu yang selalu harus diperjuangkan. Kalau pun seolah tidak perlu diperjuangkan—misalnya pada bocah-bocah para miliuner yang sejak bayi pun sudah taken for granted kaya raya—hidup pun tak pernah memberi secara cuma-cuma. Kadang, ia bahkan meminta bayaran tinggi dalam bentuk trade-off alias simalakama. Terlalu mudah untuk menunjuk bahwa seorang hebat seringkali memiliki anak yang tak hanya bukan siapa-siapa, melainkan sekadar parasit belaka.  

Pada saya, ibulah yang memompa kasadaran itu, mengisinya penuh-penuh di rongga dada saya, sehingga apa pun badai kehidupan yang datang kemudian, sekuat apa pun saya diterjang pasang surut ombak hidup, saya laiknya seorang Rahwana yang memiliki ajian Pancasona. Diterjang ombak hidup, hampir hancur, tertatih bangun kembali. Digodam palu nasib, nyaris remuk, kembali menggapai-gapai untuk bangun lagi. “Setahu Ibu,” kata Ibu pada suatu malam menjelang tidur, sambil sesekali mengusap rambut saya laiknya saya anak lima tahunan,”Jarang ada kemuliaan tanpa terlebih dulu dibayar kepedihan.” Ibu mengatakan itu dalam basa Sunda, bahasa ibu yang kami pakai. Kalimat yang meski tidak kongruen, pada perkembangan usia kemudian saya temukan dalam untai kata-kata,” Apa pun yang tak membunuhmu, itu akan menguatkan dirimu.”

Ibulah–terutama, yang mengajari saya soal kebanggaan diri. Tentang bagaimana menikmati kekurangan tanpa memberi sedikit pun kesempatan kepada diri sendiri untuk menadahkan tangan. Menerima mungkin bisa, karena hidup pun pada dasarnya penuh dengan hukum tentang memberi dan menerima. Tetapi menadahkan tangan dan berharap belas kasihan, sekali pun tak pernah datang ke rongga telinga saya dari ucapan Ibu. Beliau lebih banyak menekankan pada betapa tingginya martabat bekerja dan berusaha. “Orang juga harus ikhlas, juga loyal tak mendua,”kata Ibu. “Lihatlah Bapak. Bapakmu hanya bekerja untuk negara. Sebenarnya bapakmu, seperti juga tentara-tentara lain teman-temannya, bisa bekerja sambilan dengan menjadi sopir; mau membukakan pintu mobil, pintu pagar, pada mereka yang berpunya dan menguasai raja brana. Tetapi bapakmu tetap bertahan pada keyakinan bahwa 24 jam kehidupannya sudah menjadi milik negara yang menggajinya. Ia tak ingin memadu waktu yang bukan lagi miliknya dengan bekerja sambilan usai jam kerja, pada bos atau cukong, siapa pun orangnya.”         

Tinggalkan komentar