Dari Dua Kesalahan (Bagian 2)

Saya meninggalkan Ibu pada tanggal 26 Juni 2019, pamit untuk berangkat ke Yogyakarta dalam urusan pekerjaan. Saat itu Ibu baru saja beranjak sehat dari sakit sekitar dua pekan. Ibu masih dalam perawatan di rumah sakit. Hanya secara kasat mata, saat itu beliau terlihat lebih segar, lebih sehat daripada hari-hari sebelumnya. Kondisi itulah yang membuat saya memberanikan diri memohon izin beliau untuk berangkat ke Yogya, menemui seorang Direktur Jenderal sebuah kementerian.
“Berangkatlah,”kata Ibu dengan wajah cerah. “Bawa juga anak-istrimu, sekalian menebus liburan yang banyak terganggu karena Ibu dirawat di sini.”
Saya sempat bilang, yang terjadi tidak demikian. Anak-anak tak sedikit pun merasa liburan mereka terganggu hanya karena Ibu dirawat dan kami sekeluarga rutin mengunjungi beliau di rumah sakit.

Ibu hanya merespons dengan senyum, dan sekali lagi mengingatkan saya untuk membawa serta keluarga dalam perjalanan kerja tersebut. Sorenya kami berangkat dengan bermobil, sekalian menikmati perjalanan pertama kali mencoba Trans-Jawa yang belum lama diresmikan pemakaiannya.
Di saat pamitan itu wajah Ibu yang terekam di benak saya adalah paras wajah yang penuh senyum. Namun saya tak bisa sepenuhnya tenang. Di perjalanan, di sebuah area peristirahatan tol, saya menelepon ke rumah sakit. Sekitar pukul 9 malam ketika itu. Bapak yang mengangkat, sebelum kemudian memberikan gadget kepada Ibu. Suara Ibu terdengar riang saat bercerita bahwa di kamar perawatan saat itu tengah ada besannya, kedua mertua saya. Mereka datang untuk menjenguk kesekian kalinya selama Ibu dirawat.
“Barusan juga Ibu dipijat sama Si Bibi,” kata Ibu, menyebut tukang pijat langganan beliau yang juga datang menjenguk. “Sekalian, mumpung ke mari.” Beliau terkekeh dengan tawa yang khas. Hati saya tenang.

Tawa itu telah saya kenal dalam sekian puluh tahun, menjadi pertanda hari-hari cerah di keluarga kami.  Saya pun tertawa kecil, karena tak mungkin di telepon merespons semua itu hanya dengan tersenyum.
“Alhamdulillah, atuh, Bu. Yudha jalan lagi ya, sekali lagi mohon doa,” kata saya, mengakhiri percakapan telepon. Setelah Ibu menjawab salam dan mendoakan, saya kembali meneruskan perjalanan dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
Tak sedikit pun saya menyangka semua akan berubah begitu cepat. Sekitar satu jam kemudian saya mendapat panggilan telepon dari Bapak. Suara beliau terdengar panik saat menceritakan kondisi Ibu yang berubah tiba-tiba. Kondisi Ibu serta merta drop. Entah mengapa. Setelah itu, seolah kegerahan dan salah tingkah, saya tak  lagi bisa tenang sepanjang perjalanan.
Lalu pada sekitar pukul 03 dini hari, pada saat saya kembali terhubung dengan Bapak lewat telepon, beliau mengabarkan hal yang kontan membuat sekujur tubuh saya lemas.
“Ibu pingsan, Kur!” kata Bapak. “Dokter memutuskan Ibu harus masuk unit perawatan intensif (ICU).” Suaranya serak dan terdengar sedikit panik. Saat itu kendaraan kami sudah memasuki kota Yogyakarta, menuju hotel yang telah kami pesan sebelumnya.

Setelah itu, saya merasa jiwa saya tak lagi utuh. Terbelah. Sebagian berada di Yogya, menemani tubuh kasar saya untuk menjalani segala hal yang sudah terjadwal. Sebagian lagi seolah melayang, tergantung di awang-awang dengan keinginan kuat untuk kembali ke Bandung. Pulang.  Pagi itu, sekalian sarapan, pukul 06 saya sudah bersama Sang Dirjen, menggelar rapat sampai pukul 09. Rapatnya berjalan baik, mencapai apa yang saya targetkan dan tampaknya juga memuaskan mitra kerja saya tersebut. Usai rapat, kepada istri saya katakan keinginan untuk segera pulang. “Apa sebaiknya ayah menenangkan diri dulu? Mungkin menyempatkan waktu membawa anak-anak jalan-jalan, setidaknya membawa mereka ke beberapa bagian kota,” istri saya menyarankan. Saya menerima saran tersebut, meski tetap saja batin dipenuhi perasaan tidak enak. Saya mencoba menemani anak-anak, membawa mereka pada suasana gembira. Tapi bagaimana bisa manakala jauh di dalam jiwa, yang tengah meraja justru rasa was-was? Baru pada 28 Juni kami sekeluarga meninggalkan Yogyakarta.

Berbeda dengan perjalanan datang, rasanya kepulangan kami begitu lama dan jarak pun terasa lebih panjang. Manakala sore menjelang maghrib itu saya tiba di rumah sakit, yang saya temukan adalah Bapak yang kurang tidur dan terlihat sangat tertekan. Begitu pula Sandi, adik saya satu-satunya.
“Yud, Ibu koma. Selain bantuan medis, kita semua harus lebih tekun lagi berdoa,” kata Bapak. Saya hanya merespons dengan anggukan. Pandangan saya buram, terhalang air yang mulai mengambang di kelopak mata. Saya melihat Ibu, secara fisik beliau begitu dekat dan teraba. Tetapi dalam ketidaksadaran beliau, saya merasa jarak kami kini begitu jauh. Ibu—jiwanya, dan bukan raga kasarnya–entah berada di mana. Berkali saya sapa beliau dengan lirih, tak sekali pun terlihat ada reaksi yang bisa meyakinkan saya bahwa beliau tahu, saya–anaknya, berada di dekatnya.

Tinggalkan komentar