Tentu saja bukan kondisi itu yang saya bayangkan akan saya temui manakala kembali dari perjalanan. Bukan seperti ini yang tergambar di kepala manakala saya memohon izin, dan Ibu memberikannya dengan lapang, ringan, bahkan seolah mendorong dengan meminta saya membawa serta keluarga.
Malam itu hanya istri dan anak-anak yang pulang ke rumah. Saya memutuskan tinggal dan menemani Ibu, bersama Bapak di rumah sakit. Selama dua hari itu, 29 dan 30 Juni, kondisi Ibu tak kunjung membaik. Beliau tetap tidak sadarkan diri. Sebuah berita baik sempat datang pada tanggal 1 Juli. Kabar yang segera menghangatkan darah, memantik sedikit asa di dada yang beberapa hari begitu sempit terasa. Tak sepenuhnya saya mengerti istilah medis yang dokter katakan kepada Bapak dan saya. Namun intinya jelas, kami masih layak berharap akan kesembuhan Ibu.
Namun kabar baik itu kemudian terasa laiknya fatamorgana. Ia membangkitkan harapan buat para pengelana padang pasir yang dicekik kehausan, tapi air yang diharap dan seolah berada di depan mata itu tak pernah kunjung datang. Hanya bayangan maya, tak pernah muncul dalam realitas.
Kami menunggu sebagaimana yang dikabarkan, bahwa kondisi Ibu masih memberikan harapan. Kami tunggu, mungkin kalaupun tidak pada hari itu, besok atau malamnya Ibu akan membaik. Beliau akan tersadar ibarat seseorang yang bangun dari tidur. Terbangun sebagaimana laiknya kita pada suatu saat terlelap dibuai impian.
Namun tidak. Hingga dua hari kami menunggu, dan begitu malam mulai merambat menjelang hari ketiga penantian itu, balok-balok asa yang kami bangun seumpama tembok harapan itu pun luruh, satu demi satu.
Jadi, manakala pada pukul 6 pagi di tanggal 4 Juli itu terdengar pengumuman keras memanggil kami, reaksi kejutnya sudah tak ampuh lagi.
“Emergensi! Emergensi! Keluarga Ibu Otik harap datang ke ICU!”
Saya yang masih dipermainkan rasa kantuk karena kurang tidur, tak terlalu terperanjat. Justru yang kuat menggedor-gedor dalam dada adalah perasaan syak. Jangan-jangan…jangan-jangan… Saat mencoba beranjak dari kursi panjang yang diduduki, saya merasa tulang-tulang saya dilolosi. Lemas, nyaris tanpa daya. Panggilan yang seharusnya mengejutkan dalam kemasan yang penuh ketergesaan itu, kini lebih banyak membuat pikiran saya liar menerka-nerka. Mungkinkan Ibu?
Bersama Bapak, saya kemudian menemui dokter di ruang ICU. Segera saya melihat Ibu telah dibantu berbagai alat bantu medis, yang lebih banyak dibanding sebelumnya. Saya tak mampu mencerna penjelasan dokter yang mengurai kondisi beliau. Tampaknya begitu pula Bapak.
“Kami akan terus berusaha,” kata dokter yang merawat Ibu.
Suaranya terdengar tidak meyakinkan, lebih terasa sebagai apologi ketidakberdayaan. Saya telah mendengar kalimat-kalimat seba-gaimana yang ia katakan itu tiga hari lalu, dan batin saya kontan menutup diri untuk cumbuan semacam itu lagi. Telinga saya pun seolah menyumbat diri, karena apa yang saya dengar kemudian tak jelas lagi. Semacam dengung lebah tanpa arti, atau mungkin pula hal itu terjadi karena kesadaran saya pun telah jatuh hingga titik nadir. Wajar. Kepala yang terus digayuti kekuatiran akan Ibu, plus terus tenggelam dalam urusan kerja selama di Yogya, perjalanan pulang yang kurang tidur dalam perasaan was-was, ditambah tiga hari menunggu di rumah sakit, menanti barangkali beliau kembali sadar. Semua teraduk menjadi campuran yang akhirnya menjadikan saya seolah hampir-hampir kehilangan kesadaran.
Saya, Bapak dan adik, akhirnya hanya diam, memperhatikan para dokter dan staf medis bekerja, berusaha menolong Ibu dan berupaya membawa beliau kembali lagi dari jurang ketidaksadaran.
Saya diam, tapi tentu saja bukan karena tiada harapan. Keinginan untuk menyapa, berbincang, dan bermanja dengan Ibu seperti hari-hari lalu, tetap menggumpal kuat, meski di hadapan saya, hanya berbilang meter jaraknya, saya menyaksikan Ibu tak kunjung kembali. Dari kejauhan itu saya hanya melihat, berharap pada garis-garis di layar dari mesin-mesin pembantu kehidupan yang tengah ditanamkan ke badan Ibu, untuk membuat beliau sadar dan kembali menyadari kebersamaan kami di sini. Lalu pada pukul 08 pagi, seorang dokter datang, bicara dengan Bapak. Ada potongan kalimat yang jelas saya dengar, menyatakan Ibu telah sepenuhnya pergi. Ibu saya, Otik Suprihati telah meninggal dunia!
