Oleh : Kurnia Fajar*

Saat ini banyak rakyat menilai Undang-Undang Minerba baru, UU IKN, UU KPK, dan Omnibus Law Cipta Kerja dianggap kurang adil. Stiglitz dalam bukunya The Price of Inequality menekankan bahwa kebijakan yang berpihak pada segelintir orang akan memperlebar kesenjangan sosial. Pemerintah harus memastikan bahwa implementasi regulasi ini tidak merugikan rakyat banyak. Akademisi dan aktivis, Robert Reich, dalam “Saving Capitalism” menyatakan bahwa sistem ekonomi harus bekerja untuk semua orang, bukan hanya untuk mereka yang berada di puncak piramida. Dengan tingkat pengangguran yang tinggi saat ini, pemerintah perlu mendorong sektor-sektor yang dapat menyerap tenaga kerja. Pembangunan infrastruktur harus diimbangi dengan pengembangan sumber daya manusia. Investasi dalam pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi kunci. Menteri terkait harus berkolaborasi dengan sektor swasta untuk menciptakan peluang kerja baru. Ini sejalan dengan pemikiran Adam Smith yang menyatakan bahwa “Kesejahteraan sebuah bangsa ditentukan oleh produktivitas dan keterampilan pekerjanya.” Di sisi lain, dengan korupsi yang telah jadi penyakit yang menggerogoti negara dari dalam, Pemerintah dan juga partai politik harus menjadi teladan dalam hal integritas. Menerapkan transparansi dalam setiap kebijakan dan penggunaan anggaran akan membantu memulihkan kepercayaan masyarakat.
Perilaku pemimpin yang mengkhianati rakyat seperti ini dalam kaca mata psikolog agama disebut sebagai spiritual emptiness — kekosongan spiritual yang diam-diam membunuh rasa percaya diri dan makna hidup seseorang. Ketika iman kehilangan rasa, ayat hanya jadi bacaan tanpa getaran, dan ibadah jadi rutinitas tanpa makna. Dalam kitab “al-Munqidz min al-Dhalal”, al-Ghazali menulis: “Jiwa yang tercerabut dari maknanya ibarat burung kehilangan sarangnya, ia akan terus terbang tanpa arah, hingga jatuh karena lelah.” Ada kebenaran yang tak peduli pada imanmu: air mendidih pada seratus derajat. Namun, ada kebenaran lain—yang hanya lahir jika kau meyakininya. Ingat hari-hari menuju kemerdekaan. Banyak yang meragukan: ratusan tahun takluk pada Belanda, dikepung adidaya Sekutu dan Poros—mana mungkin Indonesia merdeka? Tapi para pemimpin melihat celah, membaca peta dunia, menancapkan keyakinan: Indonesia akan merdeka di ruang vakum pasca perang. Dan sejarah pun mengangguk. Keyakinan adalah benih nubuat, yang memanggil kenyataan mendekat. Plasebo membuktikannya: pil kosong jadi obat jika hati percaya. Kata yang mengangkat murid, membangunkan potensi yang tertidur.
Semakin besar keyakinan, semakin kuat gaungnya di semesta. Pandangan kita pada manusia adalah nubuat. Percaya mereka buruk, dan kita akan membuat mereka menjadi demikian. Percaya mereka baik, dan kita akan memanggil kebaikan mereka keluar. Seorang kakek berkata: “Dalam diriku ada dua serigala: yang satu buas—pemarah, serakah, cemburu; yang satu jinak—damai, penuh kasih, jujur. Mereka bertarung di dalam dirimu juga.” “Serigala mana yang menang?” tanya cucu. “Yang banyak kau beri makan,” jawab kakek.
Sejarah memberikan pelajaran berharga tentang kepemimpinan efektif. Khalifah Umar bin Abdul Aziz hanya memerintah selama 30 bulan, tak lebih. Itu karena usia beliau yang pendek, diracun para kerabatnya sendiri, Bani Umayyah yang korup, sementara Sang Khalifah terkenal begitu bersih. Namun, masa kepemimpinan yang singkat itu mampu membawa namanya bergaung hingga ribuan tahun, datang ke kehidupan kita saat ini. Semua tak lain karena dengan keadilan dan efektivitas pemerintahannya, beliau berhasil membawa perubahan signifikan bagi kekhalifahan Umayyah. Ia dikenal dengan keadilan dan kebijaksanaannya. Sejarawan Ibn Katsir mencatat, “Di masa Umar bin Abdul Aziz, kesejahteraan begitu merata hingga sulit menemukan orang yang berhak menerima zakat.” Ini menunjukkan bahwa durasi kekuasaan bukanlah faktor utama. Yang terpenting adalah bagaimana kekuasaan tersebut digunakan untuk kebaikan. Pemerintah dan Partai politik harus terinspirasi oleh teladan ini. Memanfaatkan posisi untuk membuat perubahan positif akan meninggalkan warisan yang abadi.
Umar bin Abdul Aziz menyampaikan khutbah terakhirnya di Khansirah. Amirul Mukminin menyampaikan, khutbah yang tak pernah diucapkan lagi hingga ia wafat. Setelah bertahmid dan menyampaikan puji-pujian kepada Allah SWT, Umar berkata, “Wahai manusia… Kalian tidak diciptakan tidak untuk kesia-siaan dan tak dibiarkan sia-sia. Karena, kalian akan menghadapi hari pembangkitan yang padanya Allah SWT akan menghukumkan perkara antara kalian. Maka, rugilah bagi orang yang keluar dari kasih sayang Allah yang kasih sayang-Nya meliputi segala hal, dan tak mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Dan, ketahuilah bahwa keamanan pada hari esok di akhirat adalah bagi orang yang takut kepada Rabb-nya. Yang menjual dunia yang sedikit untuk mendapatkan dunia yang banyak. Dan, menukar dunia yang fana dengan akhirat yang kekal. Apakah kalian tak melihat bahwa kalian semua akan binasa dan kalian akan digantikan oleh orang lain, seperti itulah hingga kalian kembali menghadap Allah SWT. Sementara, “kalian setiap hari pergi ke sana-kemari, yang pada akhirnya kembali kepada Allah SWT. Menemui ajalnya dan selanjutnya dikubur dalam perut bumi. Tabik!
*)Gerilyawan Selatan