Oleh : Kurnia Fajar*

Tahun 2008, Pilkada Gubernur jawa Barat diikuti tiga pasangan calon yakni, Danny Setiawan dan Iwan Sulanjana, yang didukung oleh partai Golkar dan Demokrat, Agum Gumelar dan Nu’man abdul Hakim yang didukung PDIP dan PPP serta Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf yang didukung PKS dan PAN. Kondisi peta politik pada waktu itu jelas mengunggulkan Danny dan Agum sedangkan Aher nampak akan menjadi “penggembira” saja. Memang, opini Publik saat itu tidak terlalu seperti sekarang yang dipengaruhi oleh lembaga-lembaga survey. Kekuatan logistik pemilu serta infrastruktur politik jelas dikuasai oleh Incumbent yaitu Danny Setiawan. Secara kasat mata, dan kecenderungan opini publik hampir dipastikan Danny Setiawan akan memenangkan pertarungan Pilkada 2008 ini.
Pada saat hari pencoblosan saya berada di tengah-tengah perkebunan Teh Gunung Mas, sedang melaksanakan kegiatan offroad dengan beberapa klien dari jakarta. Lalu sekitar jam 16.00 sore saya terkaget-kaget ketika pasangan HADE (Aher-Dede) dinyatakan menang dalam perhitungan cepat, saya terkejut dan kemudian merenung, mengapa Aher bisa memenangkan pertarungan ini? Selama hampir 10 tahun, pertanyaan saya tersebut akhirnya bisa terjawab melalui puzzle-puzzle sosio-demografis masyarakat jawa barat, militansi mesin Partai dan ketulusan, ya… ketulusan, sebuah sikap atau akhlak yang sudah langka di zaman ini. Almarhum kang Dadang “Lengser” Sumpena (Semoga Allah SWT merahmati beliau), berkisah kepada saya bahwa beliau menerapkan strategi Gerilya di daerah-daerah lawan dan rawan konflik ideologis, ada faktor Dede Yusuf yang dicintai oleh ibu-ibu dan publik di Jabar, kawan yang lain berkisah bahwa ada perasaan lelah, jenuh dengan penguasa jabar yang dari Golkar, karena sebelum tahun 2008 Golkar menguasai Jawa Barat sejak orde Baru berkuasa di Indonesia.
Jawa Barat yang terkenal secara kultural adalah islamis, someah hade ka semah, adalah daerah yang terbuka terhadap beragam pemikiran dan gagasan. Sejak ratusan tahun yang lalu tanah jawa barat sudah diinjak oleh pengembara dari seluruh dunia, bahkan ada sebuah theory yang mengatakan bahwa Priangan timur sudah mengenal Islam sejak khalifah Ali bin Abi Thalib berkuasa di Madinah. Benar atau tidaknya, para sejarawan yang lebih berkompeten untuk menjawabnya. Para Founding parents kita menemukan pencerahan-pencerahan di tanah jawa barat. Propinsi yang memiliki nilai strategis dengan populasi penduduk terbesar di antara propinsi lain. Tentulah Jawa Barat memiliki nilai yang cukup strategis, apalagi bagi PKS yang secara ideologi sangatlah cocok dengan kultur masyarakat jawa barat. Mengapa cocok? Karena Islam dan Sunda memiliki nilai yang sama, sebangun dan sejalan.
Ahmad Syaikhu, wong cerbon yang berkarier politik di Bekasi, sebelum resmi diusung sebagai calon Gubernur menjabat sebagai Presiden Partai, sebuah jabatan yang cukup penting dan menentukan, meskipun di PKS keputusan Dewan Syuro adalah keputusan tertinggi Partai. Sebagai partai Kader, tentulah PKS tidak akan membiarkan Presiden-nya berjalan dan terhuyung-huyung sendirian, adagium dalam politik adalah “lebih baik hampir kalah daripada hampir menang”. Dan di tahun 2018 Ahmad Syaikhu yang biasa disingkat Asyik sudah membuktikan bahwa mesin PKS bekerja dalam Pemilu gubernur 2018 lalu. Meskipun sentimen gerakan 212 cukup mendominasi pada waktu itu. Bagaimana caranya agar PKS dapat memenangkan pertarungan ini? Paling tidak, saya mencatat ada tiga point yang harus dikerjakan
Menyapa masyarakat perkotaan, urban dan kelas pekerja
Untuk di kalangan masyarakat ini, PKS sudah cukup mumpuni dan kompeten dalam menyampaikan narasi dan opini publiknya, terbukti hampir semua kota dimenangkan PKS dalam pemilu Legislatif yang lalu, Kota Depok, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kota Cimahi, Kota Bogor, dan Kota Sukabumi. Ini sudah tidak lagi menjadi issue bagi PKS. Kemenangan Calon PKS dalam pemilihan Walikota di daerah-daerah tersebut akan menjadi indikator kemenangan pasangan Asih di pemilihan Gubernur. Harry Truman mantan Presiden Amerika Serikat menyatakan, “Politik—politik luhur—adalah pelayanan publik. Tak ada kehidupan atau pekerjaan di mana manusia dapat menemukan peluang lebih besar untuk melayani komunitas atau negaranya selain dalam politik yang baik.” PKS mengamini betul pernyataan Truman ini, kredo PKS sebagai Pelayan dan pembela Rakyat dirasakan oleh masyarakat di kalangan ini.
Menyapa masyarakat kelas bawah, pedesaan dan Islam cultural
Masyarakat jawa barat yang tinggal di pedesaan dan daerah-daerah urban mencapai 35 juta jiwa atau sekitar 70% dari total populasi. Di kawasan-kawasan ini beragam fanatisme akan sesuatu menjadi sebuah barrier yang sulit ditembus, ada tradisi yang dipertahankan begitu lama, ada rasa penghormatan akan sesepuh dan leluhur serta ada sentimen yang terus dipelihara untuk menjaga “ceruk pasar-nya” tetap ada. Di daerah-daerah ini PKS masih kesulitan menembusnya, ibaratnya, PKS menemukan lawan sepadan. Di daerah Pantura, PDIP yang beraliran Kiri masih cukup mendominasi dengan sentimen “bung Karno”. Sedangkan di Jabar Selatan PPP dan PKB nampak masih mendominasi dengan islam culturalnya. Negatif-negatif campaign yang selama ini ditujukan kepada PKS melalui sentimen Wahabi-nya nampaknya masih cukup terasa efektif mempengaruhi para pemilih.
Menyapa masyarakat pragmatis, kaum abangan, dan menak sunda
Selain masyarakat Desa dan Kota, di jawa Barat juga ada masyarakat yang pragmatis dan justru menjadi pemilih terbesar, kaum-kaum abangan dan menak juga ikut ke dalam golongan ini dalam memilih. Sentimen negatif kepada Islam dan Partai Islam sudah sejak jaman Kolonial dahulu selalu dilancarkan, melalui pemikiran-pemikiran orientalisme dan juga liberalisme. Ada kebencian di kalangan mereka jika Islam dan atau partai islam berkuasa. Pada saat kang Aher menjadi Gubernur, saya memiliki kesan bahwa beliau berhasil merangkul orang-orang ini dan ini terbukti dari kawan-kawan saya yang memberikan pujian dan respon positif kepada Kang Aher meskipun saya tahu bahwa mereka bukan pemilih PKS.
Memenangkan hati rakyat adalah kunci memenangkan pertarungan ini, dan ketulusan melayani rakyat adalah jalan menujunya. Seperti dikatakan Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwa Ketulusan seseorang sesuai dengan kadar kemanusiaannya. Semakin tinggi kita memanusiakan manusia, maka akan semakin tulus rasa itu. Dedi Mulyadi, memahami bahasa itu, terlepas ia tulus atau tidak sejak 2015 sudah keliling desa-desa melaksanakan kegiatan “gempungan lembur”. Menyanyikan lagu-lagu berbau sufistik dan mendengarkan keluhan dari masyarakat desa. Dedi paham bahwa hukum di negeri ini sudah tergadai, ia menunggangi ombak, ikut membela masyarakat yang dizalimi oleh hukum. Tampil di TV membela Saka Tatal dalam kasus Vina Cirebon, terlihat betul langkahnya mencari simpati publik, tidak lain untuk keperluan mendulang suara. Namun Dedi paham banyak masyarakat miskin tidak berdaya dan tidak mendapatkan keadilan di hadapan hukum, bahkan 50% penghuni penjara adalah orang-orang yang menderita ketidakadilan hukum atau dikorbankan, begitu seorang kawan aktivis bercerita ketika mendekam di cipinang beberapa tahun lampau. Dalam drama shakespeare dikisahkan Brutus yang menggerutu karena caesar tidak pernah mau berdarah-darah dalam mengambil keputusan, padahal jika mau akan mendapat simpati dan cinta rakyat.
Sikap Tulus dan kesetiaan kepada Misi perjuangan
Saya percaya ajaran Islam adalah ajaran yang mengajarkan ketulusan, keikhlasan lebih dari segalanya, bahkan Rasullullah SAW pernah bersabda bahwa manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Saya juga percaya, bahwa para qiyadah adalah orang-orang terpilih dan tulus dalam melayani umat. Meskipun sudah di penghujung waktu kampanye, masih ada waktu untuk menyapa masyarakat, mendengarkan beban mereka dan menjadi teman bagi mereka yang saat ini sudah kehilangan harapan. Pilkada adalah persoalan Logistik dan saat krisis seperti ini, sulit untuk mendapatkan logistik yang cukup dan mumpuni. Percayalah, ketulusan akan mengalahkan sekat-sekat itu semua, kapitalisme yang mencengkram dunia memang menjadikan ketulusan menjadi sesuatu yang amat langka.
Saat ini kita di tengah-tengah situasi krisis, pertama krisis ekonomi, masyarakat sudah banyak yang kehilangan daya beli dan daya produksi. Kedua, Krisis kepercayaan sesama masyarakat diadu-adu, bahkan sesama saudara sebangsa, seiman sudah tidak saling bertegur sapa karena takut akan mendapatkan musibah buruk hanya gara-gara menyapa, ini adalah devide et impera dalam mode automatic. Yang paling dahsyat adalah krisis kemanusiaan. Bagaimana pembantaian di Gaza dipertontonkan setiap saat dan kita tidak mampu melakukan apa-apa untuk menghentikannya. Teringat ucapan mantan Menlu AS Henry Kissinger yakni “Dalam krisis, hanya imajinasi yang dapat membatasi apa yang dapat dicapai.” Jadi saat ini hanya imajinasilah yang membuat kita tetap hidup dan bertahan. Berimajinasi-lah untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, bermartabat, silih asah, silih asuh dan silih asih serta silih wangikeun.
Ketika Ridwan Kamil dilantik menjadi Gubernur Jawa Barat tahun 2018 seorang kawan yang kader PKS mengatakan kepada saya “tahun 2008 kita rebut gedung Pakuan, namun 2018 ini kita serahkan gedung pakuan begitu saja gara-gara salah memilih cagub”. Kemudian saya balas “okelah kalo begitu di tahun 2024 ini pekik-kan kalimat “yaa Ayyuhal ikhwah, Mari Bung rebut Kembali Gedung Pakuan!”.
*) Warga Jawa Barat dan pemerhati Ikan di dalam kolam