Oleh : Kurnia Fajar*

Kurang dari sepekan lagi, Indonesia akan mengukir sebuah peristiwa bersejarah, pemilihan umum Gubernur, Bupati dan Walikota secara serentak, untuk memilih Kepala Daerah melalui pemilihan langsung. 38 Propinsi dan 514 kabupaten dan kota. Kali ini suasananya agak berbeda, issue pilkada tidak bisa ditarik menjadi issue nasional karena terlalu banyak yang terjadi. Perseteruan akibat koalisi Pilpres, perubahan aturan atas keputusan MK mewarnai proses pilkada serentak kali ini. Koalisi di level nasional antara KIM Plus melawan koalisi PDIP terbawa ke dalam kontestasi pilkada ini. Namun ada juga yang terpecah seperti di Propinsi Banten dimana Golkar pada akhirnya masuk ke dalam koalisi PDIP. Sementara di Jawa Barat PKS bersama Nasdem memilih untuk bertarung melawan Dedi Mulyadi yang dicalonkan oleh koalisi KIM Plus. Sementara di Jakarta calon KIM Plus yakni Ridwan Kamil mendapatkan perlawanan dari “anak-anak abah” sebutan pendukung Anies Baswedan yang akhirnya mendukung Pram-Doel, dukungan ini cukup mengejutkan, mengingat secara ideologis PDIP basisnya berlawanan dengan anak-anak abah ini. Pertarungan akhirnya mengerucut kepada figur sentral antara Jokowi versus Megawati.
Meminjam istilah Rocky Gerung, Secara akal sehat masing-masing calon sudah mempersembahkan programnya masing-masing dari mulai program yang rasional sampai dengan program yang irasional pun sudah disampaikan oleh masing-masing calon. Menurut seorang kawan Aktivis, selain program yang bagus, turun langsung ke akar rumput, melakukan komunikasi efektif melalui media dan medsos, yang terpenting dalam pemilu adalah kesiapan Logistik untuk merayu pemilih melalui “bagi-bagi” bantuan, bahkan sudah menjadi rahasia umum disebut dengan “serangan Fajar”. Biasanya aktor-aktor politik lapangan sudah mulai sibuk di hari-hari ini. Pemilu sering disebut sebagai pesta Demokrasi, layaknya pesta tentu banyak yang disuguhkan, dari mulai hiburan, makanan, minuman, cemilan dan oleh-oleh untuk dibawa pulang, sehingga event ini sering disebut sebagai “lebaran aktivis”. Tentu ini dimaksudkan karena banyak amplop akan beredar dalam perhelatan ini. Namun untuk pilkada serentak kali ini, suasananya berbeda, entah karena sudah kehabisan bensin pada saat pilpres dan pileg februari lalu, atau karena memang perekonomian sedang lesu atau karena hal lain, yang jelas pemilu saat ini masuk kategori dalam suasana prihatin.
Tentu hal ini sangat baik, karena praktek money politics menjadi berkurang bahkan mungkin hilang. Patut kita syukuri. Pemilih akhirnya bisa menggunakan hati nurani dalam mencoblos. Pertanyaannya adalah, apakah para pemilih akan memilih menggunakan akal atau menggunakan rasa? Untuk menjawab pertanyaan ini baiknya kita menganalisa dari Sosok Jokowi, Presiden ke 7 RI ini sudah empat kali mengikuti pemilu dan semuanya ia menangkan, dari mulai pemilu walikota Solo, Pilgub DKI Jakarta sampai jadi Presiden 2 Periode, semuanya dimenangkan. Presiden Megawati pernah kalah dalam pemilu. Presiden Prabowo juga sama, bahkan beliau 4 kali masuk dalam kertas suara pemilu untuk dicoblos sejak 2009. Apalagi issue besarnya, pemilu kali ini adalah pertaruhan atau pertarungan antara Jokowi versus Megawati. Di Jawa tengah, Jokowi terjun langsung ke lapangan, Presiden Prabowo bikin vlog berisi dukungan untuk Pasangan Luthfi-Yasin. Di DKI Ridwan Kamil makan dan bertemu Jokowi serta Prabowo. Sementara Anies Baswedan terjun langsung di panggung kampanye. Jokowi juga turun di Sumatera Utara membantu kampanye menantunya Bobby Nasution yang mencalonkan Gubernur. Barangkali, sebagai maestro ini adalah kali pertama Jokowi cawe-cawe dalam pemilu namun sudah tidak menjabat lagi sebagai Presiden.
Pengamat sering mengatakan bahwa kemenangan Jokowi dalam Pemilu karena menggunakan elemen-elemen kekuasaan, bansos, aparatur sipil negara dan elemen lainnya. Saat ini, adalah momen pembuktian bagi seorang Jokowi apakah kepiawaiannya dalam pemilu ini masih hebat atau justru sebaliknya. Saya menilai kemenangan Jokowi selama ini tidak terlepas dari pemahaman mendalam jokowi dalam memahami perasaan rakyat. Jokowi diejek dan dicemooh ketika melempar-lempar kaos, beras kepada rakyatnya, dianggap tidak manusiawi. Namun setiap Jokowi hadir, masyarakat berkerumun, bahkan banyak yang menangis ketika berhasil bersalaman dengan Jokowi, disinilah hebatnya Presiden Jokowi, dia mampu menyelami suasana kebatinan rakyatnya. Sentimen-sentimen anti Jokowi sering digaungkan saat ini karena cedera konstitusional dalam “memenangkan” Gibran menjadi Wapres dalam pemilu lalu. Perang opini publik terus terjadi setiap hari. Pemilu besok mungkin adalah jawaban, Jika RK-Suswono, Luthfi-Yasin, Bobby Nasution dan pasangan-pasangan KIM Plus lainnya memenangkan Pemilu maka, Jokowi Effect masih berlaku. Namun jika sebaliknya maka serangan PDIP berhasil men-downgrade Jokowi. Kita lihat nanti pada tanggal 27 November mendatang. Namun, jika melihat suasana kebatinan masyarakat dan kelihaian Jokowi membaca perasaan rakyatnya, maka saya berani mengatakan bahwa pasangan-pasangan KIM Plus dan khususnya pasangan yang di-endorse langsung oleh Jokowi akan memenangkan Pemilu besok. Mengapa demikian? Karena rakyat kita bukanlah pemilih rasional namun pemilih “Rasa”. Selamat melaksanakan hajat Demokrasi. Tetap jaga persatuan. Merdeka!
*)warga negara biasa, pemerhati ikan di dalam kolam