Dari Dua Kesalahan (Bagian 4)

Saya lupa apakah saya terlibat atau tidak dalam percakapan antara dokter dengan Bapak saat itu. Rasanya tidak. Saya lebih banyak terdiam dengan tatapan kosong yang menerawang jauh. Mata yang melompong menatap lurus ke depan, tak terbatasi tembok karena ia menembus ruang, menabrak waktu. Tatapan kosong sambil mengingat apa yang telah saya alami bersama Ibu, yang dengan perlahan namun pasti menumpuk dan mengumpulkan rasa kecewa, seiring banyak hal yang belum lagi saya raih dan persembahkan buat beliau.
Pada saat aneka mesin dan selang itu telah dilepas dari anggota badan Ibu yang kemudian dibaringkan, sebelum datang petugas yang akan memulasaranya lebih lanjut, perlahan saya mengoyangkan tubuh almarhumah. Seakan tak ingin percaya bahwa Ibu telah tiada. Sekali, dua, tiga, hingga Bapak menggenggam tangan saya, mengisyaratkan untuk tak lagi melakukannya.
Bapak membisikkan sesuatu yang tak sepenuhnya dapat saya tangkap. Semacam ajakan untuk menerima. Ajakan untuk melepas agar Ibu bisa berangkat dengan lebih lepas, bebas. Saya diam, tapi menggangguk pun rasanya tidak. Mungkin Bapak saat itu pun sudah bisa menerima, sehingga meski dengan perasaan sakit akibat bohak luka di jiwa, beliau masih bisa melepas Ibu.  
Saya, tak semudah itu! Saya tak tahu pasti, apakah sebenarnya yang ada justru adalah kuatnya ketidakinginan untuk melepas kepergian Ibu semudah itu. Saya ingin menahan perasaan kehilangan di hati saya selama mungkin. Tanpa saya sadari, mungkin ada keinginan besar untuk menghukum diri. Biar, biar saja perasaan itu menggerogoti jiwa dan menyayatkan luka sedalam ia bisa. Tak apa, memang saya sendiri merasa layak menerimanya.
Anak sulung mana yang membiarkan Ibu yang mengasihinya berangkat menjalankan ibadah umroh sendirian tanpa ia dampingi? Saya, sayalah anak yang tega melakukannya. Padahal saya tahu betul betapa Ibu sangat takut dengan perjalanan udara. Ibu takut terbang dengan ketakutan yang sama sekali tak bisa beliau kelola.
Pada Desember 2018 itu Ibu berangkat umroh, sementara saya tak bisa mendampingi. Jadi Ibu pun berangkat hanya dengan Bapak dan anggota rombongan, tanpa saya yang seharusnya bisa menemaninya umroh dan menjalani setiap prosesi. Ada sekian banyak alasan yang mungkin masuk akal mengapa itu terjadi. Sebanyak itu pula saya bisa mempertanyakan mengapa saat itu saya melepas Ibu berangkat sendiri!
Dan benar kekuatiran itu. Sesampai di Arab Saudi, kabar yang sampai kepada saya, Ibu sakit. Semua rangkaian ibadah umroh memang bisa Ibu jalani, meski dengan bantuan kursi roda dan keikhlasan Bapak dan anggota rombongan yang mendorongnya. Tetapi saya bisa membayangkan bagaimana melakukan umroh—yang nyata-nyata ibadah fisik itu—di tengah kondisi sakit. Dan kabarnya, itu berlangsung hingga rangkaian ibadah umroh berakhir. 
Wajar jika begitu tiba di Tanah Air, Ibu langsung gering. Ibu yang sepekan sebelumnya pun telah menguat-nguatkan diri untuk menggenapkan rangkaian ibadah umrohnya, sesampainya di Bandung segera masuk rumah sakit. 
Dokter mendiagnosis Ibu terkena beberapa komplikasi penyakit. Ada diabetes yang bukan lagi gejala melainkan telah menetap di tubuh Ibu sekian lama. Sesuatu yang kami telah ketahui lama, sebenarnya. Ada juga kandungan asam urat yang tinggi dalam darah. Itu memunculkan banyak larangan makanan untuk Ibu. Tidak boleh makan ini, itu, harus menjauhi makanan ini, minuman itu, yang segera terlihat begitu menyulitkan beliau.
Ibu saya tak pernah berpantang makanan, bahkan setelah tahu dirinya mengidap diabetes dan rentan terkena kelebihan asam urat. Jadi, manakala dokter melarang Ibu memakan sekian banyak jenis makanan, ini tidak boleh, itu terlarang, yang terjadi justru membuat Ibu tertekan. Stress. Ibu stress karena tak lagi bisa makan sebebas sedia kala, kegiatan yang seringkali mengendorkan syaraf beliau, membuatnya tenang, meski bisa jadi hanya semacam perasaan maya yang khayali saja. 
Belum lagi ada kebiasaan Ibu yang mungkin bisa dibilang ‘buruk’, terutama bila dihubungkan dengan keharusan untuk tetap menjaga ketenangannya. Ibu selalu merasa bahwa dirawat di rumah sakit tak lain dan tak bukan adalah keluar uang. Keluar uang yang banyak, yang berbanding lurus dengan lamanya perawatan. Maka tak heran bila setiap hari selama di rumah sakit, yang beliau pikirkan dan katakan hanyalah kapan bisa diizinkan pulang.
“Duuh, Yud, berapa ini biayanya kalau Ibu masih terus di sini?” selalu itu yang Ibu katakan setiap kali saya menjenguk beliau. Berkali-kali saya minta Ibu untuk tidak memikirkan semua yang pasti akan memberatkan pikirannya itu. Tapi tetap saja beliau tak cukup berusaha mengeyahkan pikiran tersebut.
Yang membuat saya selalu menyesali keputusan untuk membiarkan Ibu pergi umroh pada Desember 2018 itu, karena kepergian umroh tersebut seolah mengundang datangnya berbagai penyakit ke dalam kehidupan Ibu. Seolah saya menjerumuskan Ibu ke dalam kesengsaraan akibat gangguan kesehatan yang kemudian silih berganti datang.
Januari itu Ibu kembali dari rumah sakit. Sembuh. Namun tak berlangsung lama kembali masuk rumah sakit dengan keluhan yang lain sama sekali. Februari kami lalui dengan baik karena kondisi Ibu sepanjang bulan itu sehat-sehat saja. Tetapi lain lagi manakala Maret datang menjumpai. Sekitar 15 hari, alias setengah dari bulan itu Ibu kembali harus tinggal di rumah sakit, guna menyehatkan dirinya.
Alhamdulillah, April dan Mei Ibu sepenuhnya di rumah, sehingga kami—anak-anak serta cucu-cucunya– di bulan-bulan itu bisa berkunjung dan menemuinya di rumah, bukan di bangsal rumah sakit. Namun siklus itu masih tak hendak berhenti, karena pada tanggal 20-an Juni, kembali Ibu masuk rumah sakit. Kami bergantian menunggui Ibu; Bapak, saya dan adik. Lalu datanglah tanggal 26 Juni yang sejatinya tak ingin saya ceritakan lagi.
Namun  tak bisa. Tanggal itu terlalu bersejarah dalam kehidupan saya dan keluarga besar.  Itulah tanggal di saat saya merasa kembali melakukan kesalahan fatal setelah Desember 2018 itu. Dan memang kata ‘fatal’ itu bukan sekadar arti konotatif. Ia benar-benar kesalahan fatal, kesalahan yang membuat seseorang meninggal. Ibu. Setidaknya, itu yang terus bersemayam kuat dalam benak saya.
Dua kesalahan yang masih saja menghantui, menjadi mambang yang membuat  tidur malam saya bukan lagi masa-masa istirahat, tapi telah menjadi gangguan rutin kepada jiwa. Tak jarang, saya terjaga dengan keringat dingin dan ketakutan yang mencekam jiwa. Bukan ketakutan, tampaknya. Lebih dekat kepada perasaan bersalah, penyesalan dan kecewa yang bergulung satu, menggumpal, untuk kemudian menggedor-gedor dada saya. Yang membuat hal itu makin parah, adalah tiadanya keberanian untuk berterus terang kepada istri, manakala di malam-malam seperti itu—tak terhitung lagi banyaknya, ia bertanya,” Mengapa? Apa yang mengganggu pikiran Ayah?”
Saya selama ini melihat istri saya gampang tertekan, mudah dibuat stress. Bagaimana mungkin saya malah membebani pikirannya dengan membagi beban-beban  berat saya?
Dua mambang, genderuwo atau demit yang menghantui saya itu, adalah dua waktu tadi: melepas Ibu umroh pada Desember 2018, dan pamitnya saya untuk berangkat ke Yogya pada 26 Juni 2019. 
Melepas Ibu berangkat umroh sendiri, terasa seolah membuka pintu kehidupan beliau terhadap segala penyakit. Sementara keberangkatan saya ke Yogya manakala Ibu belum lagi sembuh dan keluar dari perawatan rumah sakit, selalu saya maknai sebagai sikap abai, bahkan rasa tega saya kepada orang tua. 
Hal-hal lainnya barangkali hanya semacam aksesori yang mengiringi keduanya. Misalnya, betapa komunikasi terakhir saya dengan Ibu, tak lain dari permintaan izin untuk berangkat ke Yogya itu. Tentu saja tak banyak yang bisa dibicarakan selain urusan keberangkatan ke Yogya. Padahal, pastinya bukan obrolan seperti itu yang menjadi obrolan terakhir kami hingga layak dikenang sepeninggal beliau.
Mungkin karena semua itu, maka hingga berbilang hari hati saya tetap mengajak untuk tidak percaya apa yang telah terjadi. Terus memaksa untuk meyakini bahwa semua yang tengah saya alami tak lain hanya sebuah mimpi panjang, dan saya cuma perlu bangun untuk mengakhiri semua.
Kadang, manakala ikut tahlilan yang segera saya gelar di malam pertama, malam kedua, malam ketiga yang merupakan peringatan yang lebih besar, bahkan di saat tujuh hari peringatan, doa-doa yang saya aminkan untuk Ibu pun terasa begitu hambar. Bagaimana tidak, bila hati saya belum lagi percaya bahwa beliau sudah tiada?
Belum lagi barang kali terhambat akibat ‘keyakinan’ sekian lama di kehidupan keluarga kami tentang prosesi tahlilan seiring wafatnya seseorang.  Jujur saja, keluarga kami tak pernah melakukannya di masa-masa lalu saat datang undangan para tetangga untuk itu. Kami akan mendoakan mendiang yang berpulang, tentu. Tapi sebelum Ibu berpulang dan saya sebagai anaknya mencicipi rasa kehilangan yang dalam, bagi saya tahlilan adalah prosesi yang secara ekonomi hanya membebani keluarga mendiang, di tengah kehilangan besar yang mereka rasakan.
Semua berubah dalam sekejap di saat Ibu meninggal. Saya tak lagi berpikir miring tentang tahlilan kematian. Saya sadar, apalagi yang bisa seorang anak, seorang suami atau istri, seorang bapak atau ibu lakukan untuk anggota keluarganya yang telah berpulang kecuali mempersembahkan doa terbaik dengan prosesi terbaik dan pelayanan terbaik kepada mereka yang rela datang mendoakan? Sebab, bukankah hanya doa, satu-satunya komunikasi yang masih tersisa di antara yang mati dan mereka yang ditinggalkan, meskipun semua itu tak lebih dari monolog atau solilokui? Tetapi selalu kita yakin, doa-doa itu tak hanya memantul ke dinding-dinding kamar di rumah yang almarhum atau almarhumah tinggalkan. Doa-doa itu membumbung ke langit, mengetuk arasy, untuk didengar-Nya dan dikabulkan rahman-rahim-Nya.
Itu pun saya percayai. Karena keyakinan itu pula saya menginginkan yang terbaik buat Ibu sebagai cara saya menghormati beliau. Saya tak hanya menggelar tahlilan yang genap: satu hari, dua hari, “tiluna” (hari ketiga kematian), “tujuhna” (sepekan kematian), “matang puluh” atau peringatan empat puluh  hari kematian. Saya juga melaksanakan peringatan “haul” pada saat setahun beliau berpulang. Saya memberikan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Kantong goodie bag tahlilan mengenang Ibu selalu berisikan barang-barang terbaik yang bisa saya sediakan. Pada hari keempat puluh, tidak hanya buku kecil Tahlil dan Surat Yassin yang kami cetak dalam edisi sangat khusus, aneka souvenir pun kami masukkan. Tasbih kecil, sajadah, sarung, bahkan mukena.    
Hanya saya sendiri sering bertanya-tanya di dalam hati, apa sebenarnya motif terbesar saya melakukan hal itu? Apakah genuine karena ingin menghormati Ibu, memberi beliau perlakuan sangat-sangat khusus yang selama beliau hidup belum bisa saya berikan? Atau justru, sesedikit apa pun ada menyeruak dendam di sana, dendam saya atas kekurangan dan kehidupan keras Ibu di masa lalu, sebagaimana yang sering beliau ceritakan? Namun apa pun motivasinya, kecil, atau bahkan kalau pun besar, saya tak hendak mempermasalahkannya. Biarlah, biar saja.

Tinggalkan komentar