Menomorsatukan Allah SWT

Oleh : Kurnia Fajar*

Foto dari Twitter

Kemarin lusa, viral di jagat maya seorang bapak penjual Es teh yang dibully oleh seorang penceramah kondang, diskursus berseliweran di media sosial. Saya jadi teringat tulisan cak Nun yang judulnya “Syair tukang bakso”. Cak Nun menulis esai bagus sekali soal orang yang sedang mengaji di sebuah surau, lalu ada suara pedagang bakso keliling yg dirasa mengganggu karena suara sendok yang bertumbukan dengan mangkok bakso, ting-ting-ting-ting. Sang Kiai lalu menegurnya. “Apakah kalian merasa lebih mulia dari orang tersebut? Apakah kalian punya keberanian untuk menjadi tukang bakso?”. Bukankah dakwah agama itu seharusnya melembutkan hati dan semakin menghormati kepada sesama?

Esai ringan tersebut mengingatkan saya pada kisah Kanjeng Nabi yg diceritakan (ulang) oleh Gus Baha’. Suatu saat, ketika Kanjeng Nabi hendak mengajar para sahabatnya di beranda masjid, seorang pekerja lewat. Lalu para sahabat berkomentar, kurang-lebih: alangkah ruginya orang itu, di saat Kanjeng Nabi mengajar malah sibuk mengurus urusan ‘dunia’. Kanjeng Nabi lalu menegur para sahabat. Beliau bilang, orang yang mencari rezeki itu mulia. Orang yg bekerja untuk bisa membantu orangtuanya, untuk menghidupi anak-istrinya, itu sangat mulia. Bekerja itu mulia, dan jangan ada orang yang merasa lebih mulia dari yang lain sekalipun atas nama mencari ilmu. 

Pernah saya dikalahkan hidup, ringsek, knockdown di ronde ketiga, dua kali, di satu masa. Setiap orang mengalami “perang badar”nya sendiri-sendiri. Bapak tukang es teh dalam cerita kemarin itu adalah petarung, di pengajian itu dia berharap dagangannya laris. Untuk anaknya. Untuk istrinya. Sedikit saja untuk dia. Lalu dia dipermalukan. Dihina. Tidak pernah dalam hidupnya dia bercita-cita menjadi tukang es, perjalanan hidup membawanya ke titik itu. Dengan semangat 45 ia datang ke pengajian itu berharap pulang membawa lebih agar anak istrinya bisa makan.

Pernahkah kita bertanya pada diri kita, apakah kita punya keberanian seperti tukang es tersebut? Apakah kita berani?Anda tidak takut menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar, memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi: tapi tidak takutkah Anda untuk menjadi tukang es teh? Yakni kalau pada suatu saat kelak pada Anda tak ada jalan lain dalam hidup ini kecuali menjadi tukang es teh? Cobalah wawancarai hati Anda sekarang ini, takutkah atau tidak?” “Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya. Manusia belum akan mencapai khauf ilallah selama ia masih takut kepada hal-hal kecil dalam hidupnya. Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa takut hanya kepadaNya, yang lain-lain menjadi kecil adanya.” Karena kita masih tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajat rendah, takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua, dan kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat… Masya Allah, sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah!”

Dari tukang es teh kita belajar, bahwa sesungguhnya dialah yang sudah menomorsatukan Allah, di matanya semuanya menjadi kecil, bahkan penceramah yang menjadi utusan khusus presiden sekalipun. Ia tidak khawatir di tengah derasnya hujan dan cuaca dingin ia tetap yakin bahwa rejeki sudah diatur oleh sang Maha Rahman Rahim. Ketika diteriaki “Goblok” oleh sang penceramah dan ditertawakan oleh orang-orang sekitarnya, meski senyumnya getir dan pahit ada kemenangan dalam dirinya, nanti di hadapan Allah SWT tukang es teh ini tak akan lagi mengadu, ia terima takdirnya pada titik tertinggi. Ikhlas! Acceptance!. Kemudian sang maha Rahman kontan menjawab keikhlasan hatinya, pertolonganNYA langsung hadir. Barangkali begitulah jika kita sudah sampai pada titik menomorsatukan Allah, takut hanya kepadaNYA, acceptance dan ikhlas. Saatnya kita merenungi diri. Tabik!

*)warga negara biasa, pemerhati ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar