Sisters and Brother of Marto Prawiro’s yang sudah berpulang

Searah jarum jam dari kanan atas : Bambang Mulyanto, Tuti Mulyati, Sri Mulyani, Otik Suprihati dan Yuni Sulastri

Selepas shalat subuh, tiba-tiba adik sepupu, Herdian mengabarkan kalo Lek Uyun telah wafat. Sontak lisan saya mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun. Seraya berdoa, Allahumagfirlaha warhamha waafihi wafuanha. Sambil mulut masih komat-kamit memanjatkan doa, pikiran saya menerawang jauh… jauh ke ke balakang, ketika pertama kali kaki saya menginjak di rumah kecil yang hangat, yaa… rumah tongkeng, karena tugas Bapak, saya harus ikut tinggal bersama dengan mbah kakung saya, pensiunan tentara yang berjiwa pedagang. Marto Prawiro nama mbah saya, cah gombong yang masih satu kampung dengan ayahanda Presiden RI ke 8 Prabowo Subianto. Sebagai cah gombong yang bahasa jawanya Ngapak, keluarga marto Prawiro ini memiliki 7 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki. Saya adalah anak dari Ibu Otik yang memiliki 4 orang kakak dan 3 orang adik. Sebagai anak tengah tentulah ibu saya adalah seorang yang tangguh dan memiliki tekad yang kuat. Sejak tahun 1993 saya sudah tinggal di tongkeng, lebih dari 30 tahun yang lalu. Kapan-kapan saya akan cerita pengalaman tinggal dan besar di tongkeng. Kali ini tulisan saya khusus akan bercerita tentang budhe, pakdhe, bulik saya yang sudah berpulang. Simbah kakung sendiri wafat di bulan november tahun 2003.

Di tahun 2012 budhe saya Sri Mulyani, budhe Yani begitu saya memanggilnya terkena serangan stroke ringan dipicu oleh penyakit darah tingginya, budhe Yani ini kelahiran tahun 1954, sebagai anak ketiga dalam keluarga, budhe Yani ini memiliki tekad dan keinginan kuat, sehingga selepas sekolah budhe yani memutuskan menjadi sales produk-produk kecantikan, aku seringkali ketemu budhe ketika menitipkan anaknya yang seusia dengan adikku untuk bermain bersama di rumah, kerja keras dari pagi hingga malam dilakoninya. Sampai stroke menyerang dan kegiatannya selesai sudah. Di hari-hari terakhirnya budhe hanya ingin melihat anaknya bisa hidup mandiri. Budhe saya, akhirnya wafat karena stroke di tanggal 20 Juli 2014 dalam usia 59 Tahun. Budhe Yani dimakamkan di pekuburan Cikendi, Hegarmanah kota Bandung.

Di tahun 2019 giliran Ibu saya Otik Suprihati yang menderita sakit, dengan symtoms yang sama yaitu dipicu darah tinggi kemudian terkena diabetes bahkan ibu saya harus dirawat di rumah sakit, melakukan cuci darah dan masuk ICU selama lebih dari 7 (tujuh) hari. Akhirnya Allah menakdirkan ibu saya berpulang tanggal 4 Juli 2019 dalam usia 59 Tahun. Saya berkeinginan untuk memakamkan ibu di cikutra dekat dengan makam mbah Marto dan istrinya, alhamdulilah akhirnya ibu dimakamkan di cikutra meski berbeda 3 blok dari makam mbah marto dan mbah saimi.

Di tahun 2021 giliran kakak ibu saya, laki-laki satu-satunya dalam keluarga inti marto prawiro menderita sakit yang sama yaitu kombinasi stroke, diabetes akibat dari darah tinggi. Sebenarnya pakdhe saya ini, Bambang Mulyanto, saya biasanya memanggilnya Pakdhe Yanto, sudah lama mengidap sakit, namun istrinya lumayan telaten juga dan melakukan terapi-terapi. Pakdhe saya ini memiliki semangat pantang menyerah yang tinggi juga, berkali-kali jatuh bangun membangun usaha, akhirnya bisa berhasil dengan jualan bubur ayam dan sarapan pagi lainnya di lapangan saparua. Pernah jadi aktivis politik dan hukum, jadi penggemar berat Persib Bandung, pengamat prilaku dan memiliki khas ceplas-ceplos banyumasan alias gombong. Setelah sekian lama bergulat dengan gejala stroke dan diabetes akhirnya pakdhe saya menyerah juga, di pertengahan tahun 2021 pakdhe harus dirawat dan juga masuk ICU, kalo tidak salah sekitar 20 hari, akhirnya pakdhe saya berpulang tgl 5 september 2021 dalam usia 65 tahun. Pakdhe dimakamkan di sirnaraga pemakaman kota Bandung yang berada di sisi barat. Berbeda dengan Cikutra yang berada di timur laut kota Bandung.

Tanggal 4 Juli 2024 bertepatan dengan 5 tahun berpulangnya ibu saya, budhe saya kakak ibu yang paling sulung, Tuti Mulyati atau Budhe Tuti, dipanggil pulang oleh sang pemiliknya Allah SWT. Tidak mengalami sakit, hanya sedang kelelahan, tertidur dan akhirnya berpulang. Budhe, seperti klan marto’s yang lain memiliki sifat pantang menyerah dan juga bijaksana. Barangkali karena ditakdirkan menjadi sulung, budhe ini lebih banyak mendengar dibanding melonjak-lonjak seperti adik-adiknya. Budhe meninggal di usia 72 tahun dan dimakamkan dekat rumahnya di cibinong Bogor.

Hari ini, tepatnya pagi ini, bulik saya, adik ibu saya Yuni Sulastri, dipanggil pulang oleh Allah SWT. Lek Uyun begitu saya biasa memanggilnya adalah anak ke 7 dari 8 bersaudara, hobinya adalah memasak mewarisi keahlian dari ibunya simbah Saimi yang memang jago masak. Sifat menonjol dari lek Uyun ini adalah gemar melakukan hal yang disukainya, yaitu memasak. Sejak berusia muda sudah memasak dan berjualan membantu simbah Marto, akibat sering keluar subuh untuk berdagang, lek Uyun ini sudah terdiagnosa menderita sakit asthma sejak tahun 1990-an, nafasnya pendek-pendek dan kesulitan untuk berolahraga. Ibu sangat sedih dengan sakitnya ini, hingga akhirnya lek Uyun ini harus ketergantungan dengan obat-obatan sepanjang hidupnya. Beberapa pekan yang lalu lek Uyun harus dirawat di RS, namun karena kesulitan mendapatkan kamar perawatan, akhirnya lek Uyun harus dirawat di rumah. Pagi tadi, lek Uyun akhirnya dipanggil pulang dalam usia 59 tahun sama dengan usia Ibu dan Budhe Yani.

Dari mereka saya belajar bahwa hidup adalah persinggahan. Semuanya hanyalah sementara, bahagia sementara dan sulit juga sementara. Semuanya dipergilirkan oleh Allah SWT. Kita bisa pelajari dan ikuti semangatnya. Kita kenang kebaikannya, kita maafkan segala dosanya. Semoga Allah SWT yang maha Rahman dan Rahim memberikan kebahagiaan kepada mereka semua. Kita sebagai keluarganya sudah sewajarnya untuk terus menebar kebaikan kepada sesama manusia. Selamat jalan Budhe, Pakdhe, Bulik

6 Desember 2024  @Kurfa

Pakdhe : Bapak gedhe (sebutan untuk paman yg lebih tua dalam bahasa jawa

Budhe : ibu gedhe (sebutan utk bibi yg lebih tua dalam bahasa jawa)

Bulik : ibu Cilik (sebutan utk bibi yg lebih muda dalam bahasa jawa)

Satu respons untuk “Sisters and Brother of Marto Prawiro’s yang sudah berpulang

Tinggalkan komentar