Surat untuk Ibunda

Kadang hari jadi demikian melelahkan

Ruang menujumu tiba-tiba saja terasa luas dan jauh

Ingin ku ceritakan tentang sayap-sayap yang tak henti belajar terbang

Mencari celah, untuk memperpendek jarak dan mempersempit ruang

Ingin ku ceritakan tentang wangi kelopak, birunya langit, hembusan angin, dan warna pucuk daun.

Mengumpulkan keindahan dalam telapak untuk dibawa pulang ke pangkuan.

Berharap bisa menghapus letih di kening dan sudut mata ibunda

Sesungguhnya, seringkali langkah tersandung batu, terhalang badai.

Kadang kabut sama sekali tak tertembus

Tapi bekal yang ibunda berikan sejak dulu, selalu bisa mengantarkan ke seberang.

Ibunda…, perjalananku lewati ini semua, tiba-tiba saja kehilangan tenaga.

Ingin ku ceritakan tentang ketakutan dan mimpi buruk menjelang tengah malam.

Tentang kegamangan dan keraguan, setiap kali jembatan dan pintu menghadang di depan mata.

Tapi percayalah, bekal yang ibunda titipkan di bahu selalu bisa mengisi kekosongan, menguatkan dan menegakkan kembali wajah ananda.

Seperti wasiat ibunda dulu ketika masih ada

Belajarlah dari rumput, yang tegar untuk selalu tumbuh.

Belajarlah dari tetes hujan di atas batu dan selalu tawakal dalam berikhtiar.

Tidak pernah mudah ibunda, tak pernah.

Jika sesekali ananda berhenti, ananda ingin ibunda tahu bahwa itu bukan untuk menyerah.

Tapi menerjemahkan hikmah dan menelaah diri sebelum menjalani pagi kembali.

Tak pernah mudah ibunda, memang tak pernah.

Tapi ananda tidak akan pernah gentar, sebab cinta dan doa ibunda terbukti jadi energi.

Energi yang tak terbatas, dalam setiap langkah ananda.

Memeluk malam, memeluk rindu padamu Ibunda… Rindu yang tak akan pernah berakhir

Re-write, Bandung 3 Maret 2022

Kurfa

Kangen Ibu…

Penuh senyum, tenang dan sederhana, hidup seadanya saja. Prinsip hidupnya adalah semeleh (hidup dengan penuh berserah diri kepada Tuhan ~ Jawa) dan sakmadyo (seperlunya, secukupnya, sepantasnya ~ Jawa) seperti pegangan hidupnya. Tidak pernah membeli apa yang diinginkannya. Semuanya untuk kami anak-anaknya..

Hingga kini, rasa kangen tidak pernah habis. Selalu saja ada alasan yang membuat kerinduan membuncah. Kalau sudah terasa sesak, menangis dalam sebuah monolog menjadi jawaban. Entah karena emosi terbuang dalam tangis atau memang karena semangatnya hadir menenangkan, nyatanya cara itu sangat melegakan.

Kini, Tidak ada lagi yg bisa dipameri atas prestasi atau kekonyolan kita. Tidak ada lagi pangkuan utk meletakkan kepala, karena hanya di pangkuan ibu tiap anak adalah juara!

Seorang teman pernah berkata “Selama namamu masih disebut oleh ibumu dalam doanya, tidak ada yg perlu kau takutkan di dunia ini”. That is true!

Ya Allah, sayangi ibuku, Ampuni ibuku…

Tinggalkan komentar