Natal, Family, grateful, sharing and caring

Oleh : Kurnia Fajar*

Sumber foto : iStockphoto

Natal berasal dari bahasa Portugis dan Bahasa Latin yang artinya adalah Hari lahir dan merupakan peringatan hari kelahiran Isa Al Masih, paling tidak itu menurut saya. Menurut kawan-kawan saya yang menganut Katolik dan Kristen, itu adalah peringatan hari kelahiran Yesus Kristus. Dalam literatur disebutkan bahwa Yesus adalah bahasa Yunani sedangkan bahasa Ibraninya adalah Yeshua. Sedangkan Isa adalah bahasa Arab dan Al-Masih bahasa Ibrani. Isa adalah putra dari Maryam dan Maryam adalah putri dari seorang soleh bernama Imran. Dalam Al-Qur’an kata Isa disebutkan sebanyak 78 kali dan Maryam disebutkan sebanyak 34 kali. Begitulah Islam memuliakan Maryam dan Isa sebagai seorang Nabi.

Sejak kecil, tentulah saya ikut merasakan liburan Natal dan seringkali nonton film-film bertema Natal, bahkan ada film wajib yang hampir pasti tayang setiap musim natal yaitu Home Alone bahkan dibuatkan juga sekuel-sekuelnya. Banyak juga judul-judul lain yang saya tonton dan pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ada tradisi berkumpul bersama keluarga. Mulai dari makan malam bersama keluarga, membuka kado dan bertukar kado hingga minum coklat hangat dan menikmati kue-kue sambil bercerita di samping perapian. Karena film produksi Hollywood pastilah ditampilkan dalam musim salju, lengkap dengan santa claus dan rusa-rusa-nya yang keliling untuk membagi-bagikan hadiah. Dalam cuaca yang begitu dingin, minum coklat panas sambil makan kue dan bercengkrama di bawah perapian telah membangkitkan imajinasi saya tentang indahnya suasana Natal di negara-Negara Eropa dan Amerika Utara. Di luar Ritual Natal, tentu peristiwa budaya ini patut kita lihat sebagai sesuatu yang menarik.

Kakek saya 7 orang bersaudara dan adiknya yang paling kecil menganut Katolik. Sebagai kakak tertua, kakek selalu mengunjungi adiknya yang merayakan Natal dan seringkali mengajak saya ikut serta, mengapa saya? Karena sayalah cucunya yang paling dekat dan akrab. Mbah Marto nama kakek saya, lengkapnya Marto Prawiro Mojotaruno. Adiknya saya panggil Mbah Giyo, Nama lengkapnya Matius Soegiyo Mojotaruno. Sama seperti kakek, mbah Giyo ini pensiunan tentara dan tinggal di Cipanas-Cianjur. Tanggal 25 Desember pagi, saya pergi berkendara dari Bandung menuju Cipanas. Sampai di Cipanas biasanya jam 10.00 atau 11 siang, dan Mbah Giyo sudah selesai dengan prosesi Misa-nya. Tiba disana kami langsung disambut makan siang yang menunya ternyata….. sama persis dengan menu lebaran. Ada ketupat, opor ayam, gulai sapi, sambal goreng ati, krupuk emping, dan menu-menu khas kampung kakek, Gombong kab. Kebumen. Sebelum menuju meja makan mbah Marto dan mbah Giyo berangkulan lama sekali sambil berbicara dalam dialek jawa ngapak yang sangat akrab dan hangat. Saling mendoakan agar tetap sehat dan bisa terus bertemu di usia yang makin senja. Kadang saya lihat titik-titik air mata haru di keduanya.

Selesai kangen-kangenan, semuanya akan langsung menuju meja makan besar, kemudian duduk rapi dan berbincang-bincang kecil saling menanyakan kabar dan aktivitas. Mbah Giyo memiliki 4 orang anak semuanya perempuan, dan saya memanggilnya bulik (bahasa jawa untuk bibi-red). Ketika semua sudah berkumpul, mbah Giyo mulai memimpin doa, sebelum berdoa biasanya mbah Giyo menegur saya “Kurfa baca doa sendiri ya”. Iya mbah, oke! Kemudian dalam bahasa Indonesia yang dikeraskan mbah Giyo mulai berdoa, bersyukur dan mengucapkan puja-puji kepada Tuhan. Setelah selesai berdoa, mbah Giyo terlebih dahulu melayani kakek saya sebagai penghormatan kepada kakaknya yang tertua. Kemudian bergiliran hingga tibalah waktunya saya mengisi piring saya sendiri. Suasana makan sangat gayeng dan hangat.

Setelah kenyang makan biasanya kami dibawa ke gazebo belakang yang pemandangannya adalah Gn. Gede dan mbah Giyo mulai bercerita tentang perjuangannya bersama mbah Marto, seringkali Gn. Gede yang menjulang di depan mata kami menjadi analogi dari kisah-kisah mereka. Saya takzim mendengarkan dan manggut-manggut. Kemudian tibalah waktunya untuk bertukar kado. Saya dan mbah Marto sudah menyiapkan kado sejak dari Bandung. Mbah Marto membelikan sepatu olahraga dan saya membelikan dasi untuk Mbah Giyo. Kami bertukar, mbah Giyo memberikan hadiah pisau lipat merk Victorinox. Tentunya saya sangat senang. Mbah Giyo tahu saya suka camping ke hutan dan gunung. Supaya bermanfaat dipake sama kamu le.. (le ini maksudnya Tole, yang artinya anak kesayangan dalam bahasa jawa). Begitulah suasananya, kami bertukar cerita, menginspirasi dan saling menguatkan.

Selepas ashar, mbah Marto pamit karena mbah Giyo juga ada agenda. Demikianlah Natal di mata saya, dalam ingatan saya tidak kurang dari 7 kali saya ikut berkunjung ke mbah Giyo pada saat natal. Saya belajar, bahwa natal adalah peristiwa bersyukur, berbagi, menjaga, dan saling menguatkan di antara keluarga. Karena keluarga apapun definisinya, adalah hal yang terpenting dalam hidup. Selamat merayakan Natal untuk saudara-saudaraku yang merayakan. Tabik!

*)warga negara biasa, pemerhati ikan di dalam kolam

Satu respons untuk “Natal, Family, grateful, sharing and caring

Tinggalkan komentar