Oleh : Kurnia Fajar*

Satu hari seorang kawan datang ke rumah dan mengeluhkan urusannya. Dia berkata bahwa hampir di semua lini kehidupan sudah jauh dari nilai-nilai agama. Kebohongan, pemerasan, penindasan, riba, zina, kekerasan, perjudian dan lainnya. Mengapa bangsa ini yang mengaku religius, berTuhan, melakukan ritual setiap saat dengan taat namun nilai kesehariannya jauh dari nilai-nilai agama? Kemudian saya jawab, inilah tantangan para ulama, cerdik cendikia, untuk mampu mendekatkan agama dan kenyataan hidup sehari-hari. Bagaimana menjembatani mesjid-mesjid, ta’lim, pengajian dengan realitas? Pernah mencoba menanyakan ini, saya sukses diusir dari kegiatan diskusi. Baik-baik sih. Tapi tetap saja diusir. Saya ambil contoh satu hal : Dosa paling rendah dari makan riba adalah sama dengan bersetubuh dengan Ibu sendiri. Dosa Berikutnya, menyatakan perang kepada Allah. Ini perkara serius! Waktu itu saya bertanya: barangsiapa yg tidak pernah makan riba, hendaklah dia yg pertama melontarkan batu. Suasana masih adem ayem kemudian pertanyaan saya waktu itu adalah: bagaimana cara yg sangkil dan mangkus tidak makan riba di tengah kesulitan dan himpitan-himpitan tagihan yg kita alami sehari-hari? Ajari saya!
Kita tahu itu riba. Kita juga tahu kita jauh dari tabiin. Kalau yg riba tidak kita ambil, akan menyusul problem yg lebih sulit secara faktual. Kita ada di antara itu. Tentu saja kita pun tahu kita harus bersabar, terus memohon. Tapi secara faktual kita juga didera kemendesakan. Mengambil yg riba, kita tahu itu salah, akan menyelesaikan masalah kita sementara. Pada durasi sementara itu, sholat kita insya allah gak salah rakaat. Tidak mengambilnya, kepusingan melanda, tidak jarang yang imannya lemah mengambil jalan bunuh diri. Waktu itu saya berharap mendapatkan jawaban yg praksis, bukan yg teoritis. Sebab dengan begitulah saya bersedia mengunci mulut. Si kaya lebih mudah menghindari riba. Sebaliknya si miskin, to be honest, tak tersedia banyak pilihan. Bersabar dan berdoa pun sudah dilakukan. Bagaimana praksisnya? Bagaimana mendekatkan narasi dengan realitas? Kaum cerdik cendikia harus mampu menjembatani ini, sebab dengan demikianlah nash-nash itu tetap relevan. Kalau kita angsurkan sepotong ayat, atau hadist, akan diangsurkan juga kepada kita sepotong ayat, atau hadist, yg isinya bahwa dalam keadaan keterdesakan yg sangat, yg haram pun menjadi halal. Tapi mari keluar dari debat dalil seperti ini, lalu kembali ke soal awal: bagaimana menjembatani, mendekatkan narasi dgn realitas dalam praktik kehidupan umat?
Masih ingatkah kisah seorang ibu yang mengatakan “halal bagi kami dan haram untuk tuan”. Ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini. Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya. “Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?” “Tidak satupun” Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. “Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?” Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.” “Kok bisa” “Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?” “Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”
Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.
Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, di tepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, “bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”
Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun men ceritakan perihal mimpinya.
“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika
laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.
Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat kabah. Ijinkan aku datang…..Ijinkan aku datang ya Allah.
Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.
“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam.
Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
“ya sayang” “Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini.
Mintalah sedikit untukku”
“Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.
Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :
“tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.
Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.
Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?
Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.
“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram”.
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.
“Ini masakan untuk mu”
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.
”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”
Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.
Kisah di atas adalah satu bukti nyata Islam itu dekat dan menyatu dengan realitas. Barangkali sudah saatnya para ulama dalam setiap ceramahnya memastikan bahwa umat tidak ada yang kelaparan, kita ajarkan bahwa memberi makan orang yang lapar adalah keutamaan ajaran islam, seperti yang di Firmankan Allah dalam QS Al-Ma’un. Bertahun-tahun saya belajar tentang riba, mencoba menemukan praktik yang ideal, dan alhamdulillah makin gak paham. Dulu juga saya gitu kok: tahu sedikit ngomongnya banyak. Tapi sekarang berkurang banyak, setelah ngeh Islam itu terlalu luas untuk mampu saya jangkau. Pun tentang riba, bukan riba itu intinya. Tapi orang yg berutang pasti kesulitan, dan yg kesulitan tidak boleh lagi dibebani dgn bunga. Demikianlah semoga menjadi renungan bagi kita semua.
*)warga negara biasa, pemerhati ikan di dalam kolam