Oleh : Kurnia Fajar*

Itu adalah masa-masa terbaik, masa-masa terburuk, itu adalah zaman kebijaksanaan, itu adalah zaman kebodohan, itu adalah zaman kepercayaan, itu adalah zaman ketidakpercayaan, itu adalah musim terang, itu adalah musim kegelapan, itu adalah musim semi harapan, itu adalah musim dingin keputusasaan, kita memiliki segalanya di hadapan kita, kita tidak memiliki apa pun di hadapan kita, kita semua akan langsung menuju surga, kita semua akan langsung menuju ke arah yang lain–singkatnya. (Dari Kisah Dua Kota karya Charles Dickens)
Esensi perayaan tahun baru selalu atas dua hal, melupakan tahun yang buruk dan menyambut tahun baru yang penuh harapan, atas izin Tuhan. Di semua bangsa di seluruh dunia ya begitu. Bentuk perayaannya macam-macam. Tapi intinya juga dua: bernyanyi bergembira, dan berdoa. Pergantian tahun diisi dengan tabligh akbar dan tausiyah pasti bagus. Ekspresi mengucap syukur sambil melupakan yang lalu pasti beda-beda untuk tiap-tiap orang. Yang satu tidak boleh meniadakan yang lain karena esensinya cuma berbeda. Bukan berlawanan. Tinggal menghitung hari kita akan meninggalkan tahun 2024 menuju tahun 2025. Perjalanan hidup manusia, dengan segala dinamika kehidupannya. Ada yang gilang-gemilang, yang hebat dan berkuasa, yang bergelimang harta kekayaan, yang sengsara dan menderita, yang terpuruk dan tidak berdaya, semua episode pernah dan akan dilewati oleh semua kita. Perjalanan ini membawa episode yang berbeda-beda untuk kita. Tahun baru tidaklah istimewa, matahari, dan bulan akan tetap bergerak pada porosnya. Kelopak bunga, suara burung dan gemericik air pun masih sama. Kitalah yang memberi arti pada tahun yang baru.
Manusia cenderung bersifat materi dan mengumpulkan materi. Pencapaian prestasi kehidupan diukur dari seberapa besar harta yang dimiliki, asset, keluarga yang harmonis dan semua kebendaan-kebendaan. Saya teringat dengan puisi WS Rendra yang bercerita tentang kehidupan, yang berjudul hidup itu seperti uap
Hidup itu seperti UAP, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !! Ketika Orang memuji MILIKKU, aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.
Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA …
Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
“MENGAPA DIA menitipkannya kepadaku?”
“UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku?”
Dan kalau bukan milikku, apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?
Malahan ketika diminta kembali,
kusebut itu MUSIBAH,
kusebut itu UJIAN,
kusebut itu PETAKA,
kusebut itu apa saja …
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA …
Ketika aku berdo’a, kuminta titipan yang cocok dengan KEBUTUHAN DUNIAWI,
Aku ingin lebih banyak HARTA,
Aku ingin lebih banyak MOBIL,
Aku ingin lebih banyak RUMAH,
Aku ingin lebih banyak POPULARITAS,
Dan kutolak SAKIT,
Kutolak KEMISKINAN,
Seolah semua DERITA adalah hukuman bagiku.
Seolah KEADILAN dan KASIH-NYA, harus berjalan seperti penyelesaian matematika dan sesuai dengan kehendakku.
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku …
Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan DIA seolah “Mitra Dagang” ku dan bukan sebagai “Kekasih”!
Kuminta DIA membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku
Duh ALLAH …
Padahal setiap hari kuucapkan,
“Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH …
Mulai hari ini, ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan dan menjadi bijaksana, mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH …
Sebab aku yakin ENGKAU akan memberikan anugerah dalam hidupku …
KEHENDAKMU adalah yang ter BAIK bagiku ..Ketika aku ingin hidup KAYA, aku lupa, bahwa HIDUP itu sendiri adalah sebuah KEKAYAAN.
Ketika aku berat utk MEMBERI, aku lupa, bahwa SEMUA yang aku miliki juga adalah PEMBERIAN.
Ketika aku ingin jadi yang TERKUAT, aku lupa, bahwa dalam KELEMAHAN,
Tuhan memberikan aku KEKUATAN.
Ketika aku takut Rugi,
Aku lupa, bahwa HIDUPKU adalah sebuah KEBERUNTUNGAN, kerana AnugerahNYA.
Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu BERSYUKUR kepadaNYA
Bukan karena hari ini INDAH kita BAHAGIA. Tetapi karena kita BAHAGIA, maka hari ini menjadi INDAH.
Bukan karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS. Tetapi karena kita OPTIMIS, RINTANGAN akan menjadi tak terasa.
Bukan karena MUDAH kita YAKIN BISA. Tetapi karena kita YAKIN BISA,
semuanya menjadi MUDAH.
Bukan karena semua BAIK kita TERSENYUM. Tetapi karena kita TERSENYUM, maka semua menjadi BAIK.
Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.
Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar, cukuplah menjadi JALAN SETAPAK yang dapat dilalui orang.
Padahal semua kebahagiaan materi dan penderitaan di atas dunia ini tidaklah akan kita bawa. Ketenangan dan hati yang gembira serta bersahaja jauh lebih mahal harganya. Kelak ketika maut sudah dekat dan akan menjemput akan kita sadari bahwa yang sesungguhnya kita miliki hanyalah cerita. Semua orang datang dan pergi, kisahnya menetap, begitu pula dengan moralnya. Pada akhirnya hal ini sajalah yang bisa kita wariskan kepada kehidupan selanjutnya. Tentang bagaimana menghormati orang, menjaga lingkungan dan mempertahankan martabat diri agar terus bisa survive melanjutkan kehidupan. Pada akhirnya kita hanyalah sebuah kisah klasik untuk masa depan. Apakah kisah ini layak dan masuk dalam peradaban manusia, maka sejarahlah yang akan menentukan itu semua. Akhirnya, selamat merenungi peristiwa kehidupan yang namanya Tahun baru. Hargai dan syukuri semua kisah hidup yang sudah dilalui. Tabik!
*)warga negara biasa dan pemerhati ikan di dalam kolam