Sumatera 42 dan pohon kiara payung di tahun 1995

Pohon Kiara payung (Filicium Decipiens)

Alkisah di jalan sumatera 42 Bandung, di depan sanggar pramuka, di bawah rimbunnya pohon kiara payung tempat kami bercengkerama. Tinggallah sekeluarga yang mengelola kios kaki lima dengan tambahan warung tenda biru dimana mereka menjual bubur ayam setiap harinya. Babeh bubur atau warung bubur kami menjulukinya. Karena tidak pernah tahu persis namanya. Perawakannya kecil dan mengenakan peci sedikit miring persis kang Ibing, kadang semakin diperhatikan rasanya babeh bubur ini memang mengidolakan kang Ibing. Di bawah pohon kiara payung inilah peradaban tercipta. Mimpi-mimpi dan rencana disusun untuk masa mendatang. Babeh bubur menjadi saksi dan fasilitator dari semua cerita-cerita itu. Kadang kami bersenandung lagu-lagu hits di jaman itu seperti come out and play dari offspring, selling the drama dari Live, janji dari Gigi, you are not alone dari Michael Jackson dan lagu-lagu Dewa 19 yang memang hits di jaman itu. Kami mengagumi perempuan dan bertukar gagasan untuk menaklukan hatinya. Kadang sampai malam hari hanya untuk mengeluarkan uneg-uneg. Seratus meter dari warung babeh, kami  mengantri di telepon coin untuk sekedar menyampaikan kata halo meski seringkali gagal karena tak cukup nyali untuk melakukannya.

Masa pubertas yang absurd. Jika hari semakin larut, kiara payung seakan-akan memiliki daya magis untuk mengusir kami dari naungannya. Lalu kami pulang dengan setumpuk cerita untuk esok. Kami merasa hidup dengan kombinasi-kombinasi itu. Kami cukup dan tak pernah merasa kurang. Warung babeh sejak dulu memberi kami makan jika kami gak punya uang, memberi kami rokok sebatang dicatat saja nanti dibayar kapan saja. Di sinilah kami semua diterima. Babeh bubur Percaya bahwa kami akan jadi orang, suatu saat nanti. Dia juga yang menjemput kami tiap dibawa ke Polsek Cihapit atau polrestabes Bandung ketika kami tertangkap basah tawuran dan tak ingin ketahuan orang tua. Bahkan di antara kami ada yang menangis di pelukannya. Begitulah kehidupan kami. Pada kebaikan yang hadir kita tak bertanya darimana ia berasal. Dulu kami sesolid itu, brotherhood harga mati. Sampai kemudian digerus roda pembangunan.
Time flies. People change. Namun tidak dengan kisah-kisahnya. Ia menetap berikut moral-moralnya.

Yang menyenangkan dari nongkrong di sini adalah kami merasa mejadi orang-orang hebat. Satu-satunya nasib malang adalah ketika cinta bertepuk sebelah tangan, pacar direbut orang, dan dibilang jelek oleh perempuan yang dicinta. Saat itu terjadi, maka pria akan menjadi sangat menderita, menjadi pendiam, memendam rindu, dan takut menyatakan cinta. Tak jarang pria akan jerit-jeritan mengutuki dirinya kala sang pacar lewat dengan cowo barunya “peurih anyiinggg” begitu ia mengumpat. Alih-alih mendapatkan empati, kawan-kawan yang lain akan ikut mencemooh dan mengatainya dengan kalimat-kalimat satire “darah itu merah jemderal”. Pedih tak terperikan. Kami benar-benar mengamini kalimat Peter Drucker yang dijuluki bapak Manajemen modern “Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.” Secara tidak sadar kami sesungguhnya sedang menciptakan masa depan kami sendiri.  Sayangnya kiara payung itu berakhir tragis, digusur kejamnya pembangunan yang menuntut pertambahan luas lahan parkir. Suatu ketika kami reuni, kami berdoa untuk arwah pohon kiara payung ini. Bagi kami kini, ia begitu berharga.

Begitu pula kios babeh sudah hilang ditelan laju pembangunan yang semakin beringas dan tidak pernah menyisakan ruang bercengkerama bagi manusianya. Mungkin benar kata Paul Mc Cartney bassist The Beatles yang pernah mengatakan “Pasti ada cara yang lebih baik untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, cara yang tidak merusak langit, hujan, atau tanah.” Tapi cara-cara itu tidak pernah ditemukan disini. Kiara payung itu telah tiada, ia bersemayam di kepala kami selamanya. Kiara payung layaknya simbol literasi. Ia adalah pohon pengetahuan praktik ejawantahan logika, materialisme dan dialektika kiwari. Untuk hal-hal yg liturgis kita anggap sudah selesai. Hari ini saya mengenangmu babeh bubur, kiara payung. Samar-samar terdengar lagu Chantal Kreviazuk yang menjadi OST serial Dawson Creek di akhir tahun 90an dan awal tahun 2000an “feels like home to me, feels like home”.

Tinggalkan komentar