Oleh : Kurnia Fajar*

Setahun yang lalu, saya ditinggal pergi sama nenek, saya memanggilnya Mbah uti, ia adalah ibu dari ayah. Beliau wafat di usia 88-89 tahun. Bagi saya beliau bukan hanya sekedar nenek, tapi juga partner, sahabat, mentor, bendahara darurat, dokter, motivator dan penasehat spiritual. Yaa.. Kira-kira mirip mbah google kalo kata gen Z sekarang. Sejak ayah berusia 7 tahun, mbah uti ini sudah bercerai dengan mbah kakung, sehingga persis di hari kelahiran saya, mbah uti sudah menunggui persalinan ibu. Sehingga sejak kecil mbah uti ini sudah “ikut campur” membesarkan saya bersama-sama ibu. Karena ayah adalah tentara yang sering dinas keluar kota dan ibu juga sibuk membantu bisnis orangtuanya. Setiap pulang sekolah di samping radio yang memutar sandiwara saur sepuh, saya selalu ditemani mbah uti, disiapkan makan, diceritakan dongeng-dongeng, dibuatkan cemilan dan dimasakin air panas untuk mandi menjelang sore. Sehingga sampai kelas 6 SD saya kalo makan masih disuapin sama mbah uti. Kalo dimarahin ayah atau ibu, sudah pasti mbah uti lah yang akan membela, hampir setiap malam sebelum tidur, beliau akan masuk kamar, mendongeng hingga saya tertidur.
Banyak sekali kisah yang diceritakan, dijelaskan filosofinya. Meskipun mbah uti ini orang desa, namun kisah-kisahnya sarat dengan nilai-nilai moral kehidupan. Ketika sudah kuliah, kalo lagi cekak, bokek yang sudah tidak tertolong maka datang ke mbah uti menjadi solusi untuk melanjutkan hidup, beliau akan mengeluarkan lembaran-lembaran rupiah berwarna merah dan biru dari dalam stagen-nya. Ketika sakit, mbah uti sudah siap dengan jurus ramuan-ramuan tradisionalnya untuk saya konsumsi. Cara termudah untuk mendapatkan hati mbah uti adalah dengan memuji masakannya dan memeluknya erat-erat. Lalu mbah uti akan mengatakan “kamu lagi ndak punya duit ya nang” biasanya saya cuma cengar-cengir aja. Mbah uti sudah selesai dengan dirinya, misi hidupnya hanyalah melihat cucunya bisa berkembang. Madheg pandito yang berjiwa welas asih. Setidaknya itulah yang saya yakini. Sebagai perempuan jawa yang diyakini memiliki sifat welas asih. Dalam pelukannya saya adalah pemenang sekelam apapun kisah yang diceritakan.
Dari sekian banyak cerita kebersamaan, kali ini kisahnya adalah bagaimana mbah uti bisa menjadi motivator dalam hidup. Saya lahir dengan fisik yang kurang sempurna, sebenarnya sangat minor sekali, namun di dalam masyarakat yang hobinya saling ejek, hal ini bisa menjadi besar. Jempol tangan sebelah kanan cacat, jarinya bercabang. Sehingga saya sering diejek dengan sebutan si jempol dua atau jika semua jempol yang ada dijumlahkan maka ejekannya menjadi si jempol lima. Awal mulanya, saya tidak terlalu perduli, namun seiring berjalannya waktu perasaan tertekan, malu, rendah diri dan merasa terasing karena berbeda dengan yang lain. Mbah Uti lah yang sering menghibur, menguatkan diri saya. Setelah mental agak pulih, biasanya mbah uti ngasih uang jajan. Begitu terus dari kelas 3 SD sampai SMP, setiap keluhan dan bully-an tentang jempol mbah uti selalu menghibur. Sampai satu saat beliau berpesan seperti ini dalam bahasa jawa “aja adigung, kowe bakal nagendra, bhadrika lan wani”. Saya gak paham artinya, tapi setiap saat beliau mengulangi lagi kalimat tersebut. Setiap ada kesedihan, kecemasan, diulangi lagi kalimatnya. Ada lagi nasihat-nasihat yang lain seperti “hanggayuh kasampurnaning hurip, berbudi bawaleksana, ngudi sejatining becik”.
Malam ini, saya teringat nasehat-nasehat mbah uti. Perjalanan kontemplasi dari setiap episode kehidupan menempatkan diri ini pada situasi yang beruntung, setiap keberuntungan yang menghampiri selalu saya maknai bahwa kecacatan ini membawa berkah dan rasa percaya diri. Namun, dalam episode-episode kegagalan seringkali kesulitan menemukan makna, sampai akhirnya ingatan saya kembali kepada nasehat-nasehat mbah uti. Salah satunya kata-kata negendra dan bhadrika. Kemudian hasil pencarian google menunjukkan bahwa nagendra adalah kuat atau kekuatan yang bersifat istimewa atau extraordinary. Sementara bhadrika memiliki arti gagah, ksatria atau gentleman, konsekuen dan konsisten. Pesen mbah uti ternyata doa agar menjadi manusia yang punya kekuatan spesial, gagah berani. Mbah uti, biasanya mengucapkan kalimat tersebut seperti mantra, berulang-ulang dari mulutnya sambil menempatkan jempol kanan saya di atas telapak tangan kirinya dan tangan kanannya akan mengusap punggung jempol berulang-ulang. Rekaman peristiwa tersebut begitu jelas malam ini dalam kepala. Saya rindu padanya, setelah ibu, beliaulah sosok yang akan selalu menjadi pembela terbaik apapun yang terjadi. Beliau adalah payung mental dan motivasi hidup. Ya Rabbana, ampuni dan berikan rahmat-Mu untuk mbah uti. Allahumagfirlaha, warhamha, waafihi, wafuanha.
*)cucu kesayangan mbah uti