Oleh : Kurnia Fajar*

Presiden Prabowo Soebianto sejak dilantik tanggal 20 Oktober 2024 melalui pidatonya sudah mencanangkan program swasembada pangan, kedaulatan pangan. Dimana bangsa ini harus mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Tidak lagi bergantung dan impor dari negara-negara lain. Untuk mencapai hal ini haruslah menciptakan pertanian yang efektif dan efisien. Menguntungkan bagi petani dan konsumen juga mendapatkan harga yang murah dan terjangkau. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan tatalaksana pertanian yang baik, teknologi unggul dan pengolahan pasca panen yang tepat. Saat ini teknologi terdepan dalam sektor pertanian dimiliki oleh Israel. Bagaimana menciptakan pertanian dengan skala Industri besar secara efisien dan efektif. Tingkat kegagalan panen bisa diukur dan ditekan hingga di bawah 5%. Warna buah, ketebalan kulit buah bisa ditentukan sebelum pertanian dimulai. Hama tanaman bisa dideteksi dan diobati hanya kepada tanaman yang sakit. Penggunaan air juga tepat dan tidak berlebih. Bisnis pertanian menjadi lebih pasti dan bisa membuat forecasting.
Sumber-sumber pembiayaan lebih menyukai bisnis yang resikonya terukur dan memiliki kepastian. Pertanyaannya, Mengapa Israel mampu menjadi seperti ini? Ternyata ini tidak terlepas dari nenek moyangnya yang memang sudah sangat terdepan dalam sektor pertanian dan ketahanan pangan. Siapakah nenek moyang bangsa Israel ini? Nenek moyang Bangsa Israel adalah orang Yahudi. Lalu siapa Yahudi itu?
Kita bisa meninjaunya dari sisi genetis, ras, dan ideologi. Secara genetis, Yahudi adalah para putra nabi Yaqub AS yang gemar berpergian, Klandestin, mengembara, incognito, sehingga mereka digelari bani Israil (pengembara). Putra Yakub terbesar, namanya Yahuda. Ia selalu berhasil mempengaruhi 9 adiknya, untuk ikut pada gagasan-gagasan yang menyimpangnya. Dua adiknya yang terakhir, Yusuf dan Benyamin, selalu gagal mereka ajak, apalagi Yakub begitu protektif. Dari keturunan Yahuda dan adik-adiknya itu, muncul istilah Yahudi (pengikutku) yang dalam bahasa ilmiahnya diberi nama rumpun Smith. Orang Inggris menyebutnya Jews, seperti mendekati istilah Zeus untuk dewa matahari di Yunani, atau mazusi yang menyembah api itu. Secara karakteristik, dapat dilihat karakter Yahuda dan adik-adiknya, yang secara sadar maupun tidak, terwariskan kepada anak-anaknya.
Dalam Injil dan Quran digambarkan, karakter Yahudi itu adalah membangkang terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya, dan membunuh para Nabi dari keturunan mereka sendiri. Ada sekira 150-an Nabi bagi bangsa Yahudi. Banyak Nabi yang mereka bunuh, termasuk Yahya putra Zakaria, dan hendak membunuh Isa putra Maryam. Juga digambarkan dalam kitab suci, karakter lain dari Yahudi adalah rakus dalam mengumpulkan kekayaan, merekedeweng (keras kepala-pen), serta mengibuli orang demi keuntungan pribadi. Dalam Surat Al-Baqarah dituturkan, bagaimana rakusnya Yahudi, hingga mengibuli Musa. Dalam al-Baqarah itu, kurang lebih Musa berkata seperti ini, “Sudahlah sehari saja, di hari Sabat yang disucikan ini, kalian berhenti dari mengurusi masalah dunia. Kita fokus, itiqaf, hanya beribadat mengagungkan Allah. ”Mereka setuju. Namun sejak matahari tenggelam, mereka pergi ke sungai dan memasang bubu, alat perangkap ikan, hingga ayam berkokok. Mereka pulang dengan tubuh letih. Esoknya, mereka tidur karena semalaman begadang. Sayang Bang Haji Rhoma belum lahir, untuk menasehati mereka, “begadang jangan begadang, kalau tiada artinya!”
Di siang itu, Musa culang-cileung (mencari-cari-pen), dengan pertanyaan pada ke mana ini umatku. Musa mencari ke rumah-rumah, ternyata mereka tidur hingga seharian. Mereka berkilah, kami tidak mengurusi dunia, kami tidur. Malam tiba, lalu pergi ke sungai untuk memeriksa bubu perangkap ikan. Pada saat itulah turun kutukan, “Kalian akan menjadi monyet yang menjijikan,” (QS. 2: 65, QS: 7: 166). Tentu saja monyet di sana adalah majas kiasan, bukan kera secara harfiah, namun sifat rakus-nya menyerupai kera. Tangan kanan memegang pisang, dan segera mengunyahnya, hingga habis, sebagian disimpan dalam tembolok. Bila dikasih lagi pisang, monyet akan mengambilnya, padahal mulutnya masih mengunyah, dan bila dikasih lagi, akan mengambilnya dengan lengan satunya lagi, dan bila dikasih lagi, akan mengambil dengan kakinya. Begitulah gambaran kerakusan sifat Yahudi. Dari kisah di atas bisa dilihat bahwa hukum Tuhan aja mereka bisa “akali” untuk tetap produktif. Dalam terminologi yang positif kerakusan dan “ngakalin” ini bisa berarti efektif dan efisien, hukum dasar bisnis mengatakan bahwa dengan sumber daya yang kecil menghasilkan hasil se-optimalnya. Sehingga wajarlah mereka unggul dalam bisnis, ekonomi dan teknologi bahkan juga dalam sektor Pertanian.
Dahulu sewaktu saya kecil, ayah saya memanen padinya dengan cara menggunakan étém (ani-ani). Saya paling suka melihat saat ayah saya “mangkek” (mengikat) tangkai-tangkai padi dengan tali bambu. Sayangnya kami saat itu tidak punya leuit (lumbung) padi, jadi ayah saya menyimpannya di goah (gudang pangan) di rumah. Leluhur bangsa kita menggunakan cara ini dan di beberapa kampung ada masih bertahan. Ternyata dengan cara inilah leluhur kita bisa memiliki ketahanan pangan. Di kampung adat Ciptagelar, saya sempat disuguhi makan dengan beras dari gabah yang sudah berusia lima tahun. Sekarang tidak demikian, padi dirontokkan langsung jadi gabah, dijemur, dan kemudian digiling jadi beras. Prosesnya tidak terlalu lama dari sejak dipanen. Beras kemudian disimpan di gudang. Tak lama kemudian, kutu dan jamur mulai hadir. Setelah enam bulan, beras yang digudang pun dibersihkan kembali, disemprot pengusir kutu, dan diputihkan kembali. Sangat jauh kualitasnya dibandingkan beras yang baru digiling. “Yusuf berkata: Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (Q.S. Yusuf: 47).
Yusuf berkata, “Takwil mimpi itu adalah bahwa kalian akan bertani gandum selama tujuh tahun berturut-turut dan sungguh-sungguh. Kemudian, ketika kalian menuai hasilnya, simpanlah buah itu bersama tangkainya. Ambillah sedikit saja sekadar cukup untuk kalian makan pada tahun-tahun itu dengan tetap menjaga asas hemat.” Ayat Al-Quran ini sejalan dengan apa yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern bahwa membiarkan biji atau buah dengan tangkainya saat disimpan akan mempu mengawetkan dan mencegah kebusukan akibat faktor udara. Lebih dari itu, buah itu akan tetap mengandung zat-zat makanannya secara utuh. Dalam bagian lain tercatat Al-qur’an menulis tidak kurang dari 10 ayat tentang pertanian, baik mengenai keajaiban hujan dan tumbuhan, tanah yang hidup, keajaiban benih dan ketahanan pangan seperti yang dikutip dalam surat yusuf di atas. Kemudian Yusuf menjadi panglima dalam membangun industri Pertanian di negaranya, untuk menyimpannya selama tujuh tahun. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa jika ingin menguasai pertanian. Tirulah Yahudi. Tirulah Israel!
*)Gerilyawan selatan, Pemerhati ikan di dalam kolam