Oleh : Kurnia Fajar*

Hingga hari ini, Presiden Republik Indonesia sudah berjumlah 8 orang. Dari jumlah tersebut, semuanya berasal dari suku bangsa Jawa. Namun di sekeliling Presiden terdapat orang-orang kepercayaannya yang diminta sebagai eksekutor atau yang menjaga kerahasiaan administrasinya adalah orang-orang dari suku bangsa Batak. Paling tidak beberapa di antara mereka amatlah menonjol dalam melaksanakan tugasnya.
- Presiden Soekarno (Bung Karno)
Sejarah mencatat kedekatan bung Karno dengan tokoh-tokoh Batak di antaranya Jenderal Abdul Harris Nasution, yang menjadi kawan sekaligus lawan semacam love and hate relationship. Kemudian Letjen TB. Simatupang yang karena keberaniannya menegur Presiden sempat diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang. Kemudian ada juga juga pengusaha TD Pardede yang juga sempat dekat dengan Bung Karno. Dan Perdana Menteri Burhanudin Harahap juga terjadi semacam love and hate relationship dengan Bung Karno. Di akhir kekuasaannya Bung Karno dekat dan menggunakan Adam Malik Batubara sebagai salah satu proxy kuatnya. Namun lagi-lagi terjadi love and hate relationship. Pada 1964 Adam Malik yang seorang Murba mendirikan BPS (Badan Pendukung Soekarnoisme) sebagai cara untuk menghalangi pengaruh PKI lewat pembentukan opini di media massa. Alih-alih didukung, Adam Malik kena semprot habis-habisan dari Bung Karno. Akhirnya BPS dibubarkan sepaket dengan Partai Murba. Akhir yang kelam dari kedekatan Bung Karno dengan Adam Malik dan juga Partai Murba. Kemenangan gemilang bagi PKI karena Murba adalah seteru kuatnya PKI.
2. Presiden Soeharto
Ketika Soeharto berkuasa, sebagai bagian dari bridging dengan pengaruh dan orang-orang Soekarno maka Adam Malik masih digunakan sebagai Proxy dan orang terdekatnya. Bahkan pada tahun 1978 pak Harto memilih Adam Malik untuk menjadi Wakil Presiden RI. Pararel dengan itu Pak Harto juga menggunakan Jenderal Maraden Panggabean sebagai sekondannya. Ini bisa dilihat ketika Jend. Panggabean yang menjabat Panglima antar daerah di kalimantan saat meletusnya peristiwa G30S. Namun setahun kemudian sudah menjadi Wakilnya pak Harto dan setahun berikutnya sudah menjadi panglima Angkatan Darat. Bukti kedekatan Jenderal Panggabean dengan Pak Harto adalah selalu hadir dalam jabatan penting selama orde baru berkuasa mulai dari Panglima TNI, Menteri Pertahanan keamanan, kemudian menjadi menko Polkam dan selama 10 Tahun menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung sampai tahun 1993 atau 5 tahun sebelum pak Harto lengser. Dewan Pertimbangan Agung semacam Wantimpres saat ini. Maraden masih ditawari pak Harto jabatan lagi, namun menolak karena ingin istirahat dan mengurus cucu. Maraden juga dikenal sebagai kakak Ipar dari pahlawan Revolusi Mayjen DI Panjaitan. Selain itu di akhir kekuasaannya pak Harto juga dekat dengan TB Silalahi yang mulai diangkat menjadi Sekjen Kementerian ESDM kemudian menjadi Meteri Pendayagunaan Aparatur Negara. Di sisi militer, Pak Harto menunjuk Feisal Tanjung sebagai sekondannya.
3. Presiden BJ. Habibie
Pada saat terjadi perpindahan kekuasaan dari Pak Harto ke pak Habibie, Letjen Sintong Panjaitan yang sudah masuk kotak karier militernya karena peristiwa pemakaman santa cruz Dili 1991 memiliki kedekatan dengan BJ Habibie. Kemudian pak Habibie sebagai menristek mengangkat Sintong sebagai penasehat menteri urusan militer dan pertahanan. Kedekatan dengan Pak Habibie terus berlanjut sampai pak Habibie menjadi Wapres yaitu sebagai penasehat wapres dan kemudian ketika Habibie menjadi Presiden, Sintong diangkat sebagai penasehat Presiden dan Sesdalopbang. Dalam pemerintahannya yang berusia 500 Hari, dapat dikatakan semua keputusan-keputusan penting selalu didiskusikan dengan Letjen Sintong Panjaitan ini. Apalagi ketika Habibie memutuskan memilih referendum Timor-timur. Dalam buku biografi Sintong yang berjudul “perjalanan seorang prajurit para komando” yang ditulis oleh Hendro Subroto dikisahkan bahwa Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto bergegas. Bersama 12 pengawalnya dia tiba di Istana Presiden, untuk menemui BJ Habibie yang baru saja menerima tampuk kekuasaan dari Soeharto. Suasana tegang, Menurut prosedur yang berlaku, para tamu presiden harus menunggu dahulu di lantai dasar, di sini mereka harus diperiksa dan disterilkan. Setelah tamu mendapat persetujuan bahwa ia akan diterima presiden baru diizinkan naik lift menuju lantai 4. Namun Sintong, yang saat itu menjabat sebagai penasihat bidang pertahanan dan keamanan (Hankam) Presiden Habibie, mendapat laporan dari ajudan bahwa Prabowo langsung naik lift menuju lantai 4 tanpa ada seorang pun petugas yang mencegahnya. “Selain itu sangatlah janggal, kalau dalam situasi semacam ini BJ Habibie sebagai presiden berhadapan dengan Prabowo yang bersenjata lengkap,” jelas Sintong. Memang saat itu Prabowo cukup dikenal banyak perwira pasukan pengamanan presiden, sehingga banyak yang sungkan terhadap Prabowo. Melihat kondisi tersebut, Sintong pun memberi perintah agar Prabowo jangan masuk dahulu ke kantor presiden, sebelum diberi izin. Sintong teringat berita tetntang tewasnya Presiden Korea Selatan Park Chung-hee (menjabat tahun 1963-1979) karena ditembak dari jarak dekat oleh Jenderal Kim Jae-gyu dengan pistol Walther PPK, dalam satu pertemuan di Istana Kepresidenan Korsel. Sintong lantas meminta agar seorang pengawal presiden mengambil senjata dari Prabowo dengan cara yang sopan dan hormat dan agar Prabowo tidak direndahkan. “Prabowo membuka kopelrim yang tertambat pistol, magasen, peluru, dan sebilah pisau rimba khas Kostrad,” tutur Sintong.
Melihat kejadian itu, Sintong merasa bersyukur di dalam hati. “Aduh terimakasih Prabowo, begitulah seharusnya tentara bersikap. Menaati peraturan,” jelas Sintong. Begitulah kedekatan Sintong dan Habibie.
4. Presiden Abdurrahman Wahid
Pada saat Gus Dur menjadi Presiden, sejarah mencatat kedekatannya dengan Luhut Binsar Panjaitan dan Marsilam Simanjuntak. Kedekatan Marsilam dan Gus dur sudah dimulai sejak mereka bersama-sama mendirikan Forum demokrasi semasa orde baru berkuasa bersama Arief Budiman, Romo Mangun dan Todung Mulya Lubis. Persis ketika GusDur menjadi Presiden, Marsilam diangkat menjadi Sekretaris Kabinet kemudian Menkumham dan menjadi Jaksa Agung menggantikan baharudin Lopa yang wafat. Gus Dur dan Marsilam adalah kawan seperjuangan, kedekatan Marsilam dan Gus Dur pernah diceritakan Rahman Tolleng kepada penulis dalam sebuah diskusi “Gus Dur itu diskusi politik selalu kepada Marsilam, bahkan suka mampir ke rumah marsilam untuk ikut makan”. Selain Marsilam, tokoh Batak yang dekat dan disayangi Gus Dur adalah Luhut Binsar Panjaitan, karena pada saat Gus Dur jadi Presiden pangkatnya dinaikkan menjadi Jenderal penuh, Gus Dur berkelakar ‘ini orang cerdas, Adhi Makayasa, hanya sayang terlempar dari lingkaran kekuasaan masuk kotak. Jadi pangdam aja gak pernah, apalagi jadi panglima TNI, sudah sepantasnya pak Luhut itu dikasih bintang empat”. Demikian suatu ketika Gus Dur bercerita tentang kenaikan pangkat LBP. Dalam pemerintahan Gus Dur LBP diangkat menjadi menteri Perindustrian dan Perdagangan, saking hormatnya pada GusDur, LBP menolak jabatan yang ditawarkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.
5. Presiden Megawati Soekarnoputri
Pada saat Presiden Megawati berkuasa, penulis mencatat tidak ada tokoh Batak yang menjadi pejabat penting pemerintah yang bisa di asosiakan dekat dengan Presiden. Hanya Bungaran Saragih saja yang menjadi Menteri Pertanian dan itu mewakili PDI Perjuangan sebagai partai. Hanya saja, dari penelusuran penulis mencatat Panda Nababan dan Sabam Sirait bisa di kategorikan dekat dengan Megawati dan suaminya Taufik Kiemas. Panda Nababan sudah menjadi anggota tim inti Megawati sejak sebelum PDI Perjuangan. Sejak tahun 1995 bang Panda sudah dekat dengan bu Mega, demikian penjelasan salah satu podcast yang tayang di kanal youtube. Demikian juga dengan Sabam Sirait, seorang tokoh M Qodari menyampaikan bahwa Pak Sabam ini adalah yang mengajak bu Mega masuk ke dalam PDI Perjuangan dan menjadi mentor bagi Megawati dalam menghadapi tekanan-tekanan pilitik di masa orde baru. Baik Sabam maupun Panda seperti jembatan pengetahuan bagi Megawati dalam memperdalam ilmu politik praktis dan juga merangkul berbagai kalangan yang sedikit antipati kepada PDI Perjuangan. Barangkali tipe eksekutor untuk Presiden Megawati adalah Trimedya Panjaitan.
6. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Dalam pemerintahan Presiden SBY terdapat nama Sudi Silalahi yang selalu menempel erat dengan SBY. Hal ini disebabkan karena kedekatan sejak SBY menjadi Kasospol ABRI dimana Sudi menjadi asisten. Meskipun Sudi senior satu tingkat di atas SBY, namun ia mampu memainkan peran menjadi orang nomor dua dengan baik. Bahwa kesuksesan pemimpin adalah berkat kerja keras orang-orang nomor dua ini. Atas kesetiaan dan loyalitasnya, Sudi Silalahi langsung diamanahi jabatan sebagai Sekretaris Kabinet dan kemudian meningkat menjadi Mensesneg di periode kedua pemerintahan SBY. Sebenarnya Marsilam simanjuntak juga cukup dipercaya oleh SBY, bahkan sempat menduduki posisi sebagai sebagai kepala UKP4 atau Kantor staf Presiden. Kepercayaan SBY menunjuk Marsilam adalah buah diskusi-diskusi di masa lampau, dimana SBY sebagai perwira pemikir selalu menjadi jembatan komunikasi antara aktivis pro demokrasi dan TNI di bawah rezim orde baru juga adalah semacam bridging dengan pemerintahan Gus Dur yang bercita-cita menegakkan Demokrasi. Dalam hal peranan, Sudi Silalahi bertugas sebagai penjaga kerahasiaan dan hal yang bersifat administratif. Sedangkan Marsilam bertindak sebagai eksekutor, namun sayang kerjasama ini hanya sampai tahun 2009 saja.
7. Presiden Joko Widodo
Dalam Pemerintahan Presiden Jokowi, tentu publik sudah mahfum, bahwa andalan Presiden Jokowi adalah Luhut Binsar Panjaitan. Karena sejak Jokowi memegang mandat sebagai Presiden. LBP langsung diberikan jabatan sebagai Kepala Staf Presiden, kemudian Menko Polhukam, Menko Marves dan berbagai jabatan ad hoc dipercayakan dan diberikan kepada LBP, saking banyaknya publik memberikan “panggilan sayang” Lord di depan namanya.
8. Presiden Prabowo Soebianto
Untuk sekondan Batak kepercayaan Presiden Prabowo masih akan diuji oleh waktu, namun untuk sementara ini saya menilai Dahnil Anzar Simanjuntak yang sejak tahun 2019 lalu diangkat sebagai juru bicara pak Prabowo. Baik sebagai juru bicara pribadi maupun sebagai Menhan. Dahnil adalah aktivis gerakan islam dan pernah menjadi Ketua PP Pemuda Muhammadiyah. Ketika pak Prabowo terpilih menjadi Presiden, Dahnil “disimpan” menjadi Wakil kepala badan penyelenggara Haji. Penempatan Dahnil disitu terlihat seperti magang dan masih melihat dinamika dan proses politik ke depan. Dengan Kabinetnya yang “gemuk” pemerintahan Prabowo sangat rentan terjadi keluar masuk pada jabatan-jabatan menteri dan jabatan politik lainnya.
Demikianlah, sebuah ulasan mengenai para sekondan, kesetiaan dan ketulusan serta mampu bekerja cerdas adalah tantangan yang harus dilalui. Namun setelah kepercayaan diraih, karirnya akan mengikuti sang nomor satu. Jika lokomotifnya hancur maka ia pun akan ikut hancur. Sejarah sudah mencatat, tidak berlebihan jika saya katakan suku bangsa Batak memang ditakdirkan untuk mengisi posisi tersebut.
Menarik 👍💯☝️
SukaSuka