Oleh : Kurnia Fajar*

Setiap orang akan bersikap berdasarkan pengalaman hidupnya. Sikap hidupnya akan didasari perjalanan hidupnya, meskipun setiap saat, kepalanya akan selalu dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Franz Kafka seorang novelis Jerman dalam bukunya Kastil, memaparkan bahwa hidup adalah perjalanan bukan tentang kedatangan, langkahmu seberapa kecilpun tetaplah memiliki arti. Melangkah adalah cara untuk tetap hidup ditengah ketidakpastian. Jangan menyerah, dunia memang seringkali absurd penuh aturan yang tidak masuk akal. Tapi disitulah kita akan menemukan kekuatan untuk tetap bertahan. Kita seringkali mencari makna di luar diri, namun seringkali makna hadir dari dalam diri dan hati kita sendiri. Kafka menulis bahwa setiap labirin memiliki jalan keluar tapi seringkali jalan itu tak seperti yang kita bayangkan. Bahkan kadang-kadang makna hadir pada saat tersesat. Kafka juga menulis bahwa harapan bukan tentang apa yang kita dapatkan. Tetapi sebuah kekuatan untuk terus percaya meski segalanya tampak tak pasti. Selain berjalan, hidup adalah sebuah penantian. Dzakwan Edza seorang penulis dalam bukunya kitab cuci kata mengatakan “seorang Marxis ketika melihat ban motor Adam Smith bocor : Apakah Kapitalisme bisa mengantarkan roda ekonomi ke tambal ban terdekat”?
Begitulah kehidupan ini layaknya roda motor yang kita tunggangi. Ada kalanya denyut kehidupan kita berhenti karena ban motor kita bocor dan harus segera mencari tambal ban terdekat. Tapi seringkali tambal ban tersebut tidak ada, kita menuntun motor untuk mencari tambal ban terdekat, jika beruntung ketemu, jika tidak, bisa berputar-putar mencarinya. Pemilik tambal ban bukanlah raksasa franchise seperti Alfamart atau apotik K-24 yang penentuan lokasinya melalui feasibility studies. Marxis adalah orang yang berpandangan komunal dan egaliter, tidak memiliki modal dan alat-alat produksi. Sedangkan Adam smith adalah seorang ekonom yang sangat percaya bahwa mekanisme pasar adalah cara terbaik untuk terjadinya sebuah kemakmuran ekonomi, namun apa jadinya jika di pasar tersebut sudah tidak ada keadilan dalam distribusi modal. Itulah sebabnya pertanyaan retoris di atas diajukan! Sepeda motor adalah alat produksi dan itulah yang tidak dimiliki oleh seorang Marxis. Feodalisme yang bertahun-tahun terjadi adalah sebab tidak adilnya pemerataan distribusi modal. Namun tulisan ini tidak akan bicara Adam Smith.Tambal ban adalah shelter kekuasaan. Alat tukarnya adalah uang.
Teori Pedagogy of the Oppressed atau Pedagogi Kaum Tertindas yang dikemukakan oleh Paulo Freire, menekankan pentingnya pendidikan sebagai alat untuk membebaskan diri dari penindasan dan meningkatkan kesadaran. Menurut Freire, pendidikan tradisional seringkali bersifat “banking,” di mana guru hanya menyetorkan pengetahuan kepada siswa tanpa dialog atau kritik. Namun, Freire mengusulkan pendidikan yang bersifat “problem-posing,” di mana guru dan siswa belajar bersama melalui dialog kritis tentang masalah sosial dan politik. Dengan metode ini, individu diajarkan untuk berpikir kritis, mempertanyakan status quo, dan berpartisipasi aktif dalam perubahan sosial. Modal sosial bernama pendidikan yang menghasilkan kesadaran untuk memahami dan mengetahui rahasia dan hubungan antara ban yang bocor dan tambal ban. Akhirnya begitulah kehidupan berjalan, Pendidikan, kesadaran diri, dan motor yang tangguh untuk menjalani hidup. Keadilan, akses kepada uang dan kekuasaan adalah hal yang harus diperjuangkan bahkan mungkin dalam diksi yang ekstrim, ia adalah hal-hal yang harus direbut! Kelak ketika semua itu sudah dijalankan setidaknya akan ada dalam memori kepala kita, lokasi tambal ban terdekat ketika ban motor kempes atau bahkan pecah! Selamat mengarungi jalan raya kehidupan
*)warga negara biasa, pemerhati ikan di dalam kolam