Perubahan, antara Kecemasan dan Harapan

Oleh : Kurnia Fajar*

Hidup adalah serangkaian perubahan yang alami dan spontan. Jangan melawan mereka; itu hanya menimbulkan kesedihan. Biarkan kenyataan menjadi kenyataan. Biarkan segala sesuatunya mengalir secara alami ke depan dengan cara apa pun yang mereka suka.
Lao Tze
(604 SM – 531 SM)

Seorang kawan, Subardi namanya. Kami akrab sejak kecil, naik meriam dan hobi melempar petasan saat Ramadhan. Perjalanan karir Bapak membuat kami berpisah. Subardi bersahaja namun tekun dengan hidupnya. Bertahun-tahun bertarung melawan kehidupan. Belakangan di akhir pemerintahan SBY dia menang. Punya banyak armada truk, untuk ekspedisi. Antar-kota antar-propinsi. Sebagian disewakan pada perusahaan sawit. Hidupnya makmur dan sering mengabarkan kegembiraan dirinya dan keluarga. Subuh tadi dia mengirimkan foto terbarunya. Kurus kering. Gagal ginjal katanya. Setiap pekan cuci darah. Sudah tiga tahun. Nyaris susah dikenali. Aku dikalahkan oleh kehidupan, katanya. Satu sama kalian, kata saya. Lalu kami terkekeh. Tapi aku sukses, anak-anak sudah mentas sudah bisa jalan sendiri. Anakmu bukanlah anakmu dia adalah anak-anak perubahan begitu kata Kahlil Gibran. Sekarang waktuku untuk pulang, katanya. Lalu sepi yang panjang. Typing dihapus typing dihapus, online tapi tak berpesan. Sesungguhnya, kita tak pernah benar-benar bertarung melawan kehidupan. Kita cuma melawan kecemasan. The same old fears. Tiap-tiap ayah selalu ingin pulang lebih dulu. Entah karena merasa sudah cukup amal, atau karena sudah lelah dihajar kecemasan.Seperti halnya Ibu, maka Ayah pun akrab dengan ketakutan- ketakutan itu. Dia hanya gagap menjelaskan. Lalu memilih diam, dengan segelas kopi dan sebatang rokok, dan pikiran-pikirannya yg entah mengembara ke mana. Subardi Sudah di titik paling bawah untuk bisa ditakut-takuti manusia. Doanya pasti singkat saja: hidup dan mati kami hanya untukMu. Tuntun kami di jalanMu. Cemas level tertinggi adalah tidak merasa cemas. Nrimo ing pandum kata orang Jawa.

Mendung yang mengepung langit kita bukan hanya tentang gumpalan gemuruh awan, tetapi juga tentang jiwa yang berkabut. Di langit jiwa yang mendung, kehidupan dirasuki desah panjang kelelahan. Wajah-wajah menunduk, suwung senyum, menyimpan beban tak terucapkan. Ada luka tak kasat, tapi terasa, mengendap di setiap sudut percakapan. Langit pun kelabu, seperti enggan mendekapkan pelukan hangatnya. Dalam kemurungan, langit terasa berat, seakan menggantungkan awan gelap di atas kepala. Jalanan penuh bisik tentang ketidakpastian dan mimpi nan padam dalam deru waktu. Wajah-wajah lelah menyembunyikan tangis yang tak berani tumpah, sementara suara optimisme perlahan pudar, tenggelam dalam riuh keluhan. Namun, di tengah kelam itu, ada percik api yang tetap menyala. Ia adalah harapan yang mungkin tersembunyi di sudut-sudut hati yang hampir menyerah, namun tetap menolak padam. Harapan berbisik pelan dalam keheningan. Ia bersembunyi di balik tatapan anak-anak yang masih berlari riang, di antara tangan-tangan yang tetap bekerja meski dunia terasa berat. Harapan adalah sisa cahaya yang berbisik, “Kita bisa lebih baik dari ini.”

Menyalakan harapan di tengah kecemasan bukanlah tentang keajaiban besar. Ia dimulai dari hal-hal sederhana—dari keberanian untuk bermimpi di saat yang lain ragu, dari doa-doa kecil yang dipanjatkan dengan suara gemetar, dari keteguhan untuk tetap berjalan meski langkah terasa berat. Harapan tumbuh seperti akar yang perlahan menembus tanah kering, mencari jalan untuk hidup. Kita adalah penjaga nyala itu. Dalam setiap tindakan kecil, dalam setiap kata yang menguatkan, kita memberi ruang bagi harapan untuk tumbuh. Saat satu orang menyalakan harapan, ia menjadi lentera. Dan lentera-lentera itu, saat menyatu, mampu mengusir gelap yang paling pekat. Pada akhirnya, dalam hidup ini sejatinya adalah perubahan. Ia berdiri di antara kecemasan dan harapan.

*)Warga negara biasa, Pemerhati Ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar