Mengukur Spiritualitas diri

Oleh : Kurnia Fajar*

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apalah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apalah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.
(Sajak sebatang lisong-WS Rendra)

Kalau masih takut miskin, jangan hijrah. Genggamlah dunia, kuasai sepuasnya, sesudah itu baru hijrah. Bahwa dalam proses menggenggam itu hidupmu tak bahagia, itu harga yang harus dibayar. Setelah kaya kemudian hijrah, itu pun boleh. Bahwa setelah kaya kemudian meninggal dan gak sempat hijrah, juga boleh. Kenapa kalau orang memutuskan hijrah, yang pertama kali dibikin susah itu rejeki? Butuh tiga tahun untuk saya menemukan jawabannya. Efek dari cobaan atas rejeki itu ternyata sudah disuratkan: takut, cemas, bingung, malu, hina, jumlah rakaat salah, surat lupa, gak fokus. Rejeki itu tentang pride. Pride itu tiwikrama dengan angkuh. Ini yang pertamakali mau dibilas. Bahwa kepalamu lebih rendah dari pantatmu, maka sujudlah. Mereka yang hijrah, atau sedang dalam proses itu, hidupnya pasti jadi susah. Dibolak-balik pikirannya, disusahkan tidurnya. Dibingungkan, Kenapa cobaannya bukan sakit misalnya? Karena kamu akan ke dokter dan tahu obatnya. Tahu pula kapan matinya. Semua pintu seperti tertutup. Selesai sholat dhuha, alih-alih dikasih rejeki, malah ditagih orang. Dibikin bingung, dan cemas. Usai sholat hajat, alih-alih diijabah, malah diingatkan harus bayar ini itu. Apa-apa yang kamu minta, dikasih adalah sebaliknya. Makin belingsatan. Dari sini nanti dikasih dua jalan: patah di tengah jalan, atau menggali lebih dalam. Lebih banyakin sunnah, lebih belajar lagi. Rejeki datang? Enggak! Doa di antara adzan dan iqomah, doa di sepertiga malam, lakukan apa saja tetap gak dikasih. Sudah minta banget-banget, ada yang mau ngasih rejeki, malah dipersulit. Alih-alih gak jadi. Malah dipersulit, diperes.

Kisah rejeki yang tidak  hadir ini pernah terjadi di Jerman. Seorang Ibu, dan anak kecilnya, yg memilih bunuh diri sebab semua pintu sudah tertutup untuk mereka. Jelang Natal yang menggigil, Ibu itu sudah berjalan sangat lunglai, meletakkan tangannya di bawah demi sekerat roti. Dia ketuk semua pintu. Lalu mereka ditolak. Cukup lama mereka mengemis di peron, dekat dengan gereja yg mewah. Lalu mereka mati kedinginan, kelaparan. Belakangan diketahui keduanya meminum racun. Orang-orang sontak. Anak-anak muda marah. Sebanyak 20 ribu anak muda menyatakan berhenti ke gereja. Pada sebuah analisisnya yg tajam, koran berbahasa Jerman Der Spiegel menuliskan: anak-anak muda itu tak menampik Tuhan, tapi membenci gereja. Gereja, kata Spiegel, tidak boleh menjadi pemadam kebakaran yang datang belakangan ketika ibu dan anaknya itu sudah menjadi mayit. Gereja harus di depan. Datang dengan kasih. Spiegel juga mengutip Bunda Theresa: lawan kata dari cinta bukan benci, tapi ketidak-pedulian. Gereja harus bersama-sama dengan si miskin, yang frustrasi, yang ditolak, yang dimusuhi oleh yang lain. Tidak ada orang hidup yg ingin bunuh diri. Penolakan kepada petugas gereja meluas. Sampai kemudian mereka mengakui ibu dan anaknya itu tak pantas bunuh diri, sebab tersedia cukup banyak roti di gereja. Gereja harus tidak datang belakangan, mencekoki dengan khutbah-khutbah moral, jangan begini jangan begitu. Alih-alih dia berlindung di balik jubah dan altar yg mewah. Alpha dan omega, kata gereja. Lalu mereka turun ke jalan, memeluk mereka yang kebutuhan satu-satunya adalah didengar. Membukakan pintu kepada mereka yg mengetuk. Mungkin saya keliru. Tapi saya haqqul yakin agama harus membuat orang hidup tak memilih mati jika dia yakin selalu ada pintu yang terbuka untuknya. Selalu ada orang yang mendengarnya. Islam, sepengetahuan saya, datang untuk merayakan kehidupan. Bukan melempar batu kepada mereka yang mati. Dalam surah al-Ma’un sudah dijelaskan dengan gamblang : Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. (QS 107 : 1-3).

Lalu teman yang sudah selesai dengan pertarungan semacam ini, berkisah. Dan ini adalah kisahnya. Seseorang akan memberikan apa yang kamu minta, jika seseorang itu mengenalmu. Kata kawan tadi. Kenali Dia melalui 99 nama. Kalau sudah kenal, langsung dikasih? Enggak. Lah kok? Yang kita minta itu keinginan kita, bukan kebutuhan kita. Cek pelan-pelan, yang kecil-kecil untuk kebutuhan kita dikasih gak? Cek yang kecil-kecil. Dikasih yang kecil-kecil, yang sesuai dgn kebutuhan, karena yang kecil-kecil itulah yg menuntun kita ke sini: bersyukur. Yang besar kapan dikasih? Sebentar lagi. Sampai ditemukan bukti bahwa kita bukan debt collector. Ibadah kok pamrih, hih! Bagaimana bila ada orang yg capek berdoa tapi gak dikabulkan lalu gak jadi hijrah? Ya gapapa, itulah modus hijrahnya. Jangan cari yang besar-besar, temukan Dia di yang kecil-kecil. Takut dan cemas itu cara Dia supaya kita selalu berpengharapan, dan hanya ke Dia. Jadi hijrah itu apa? Proses menuju. Ronin. Lawannya dirimu sendiri, pikiranmu, ketakutan-ketakutanmu. Ketakutan itu tanda gak ikhlas. Agak bener ini teman saya. Kenapa gak dikasih saja semua permintaan kita, sambil kita berjanji akan tetap tawakal? Yaelah, infaq saja kita suka masukin nilai yg paling kecil kok. Giliran bayarin cewek sok-sok-an. Hati kita itu dibolak-balik sama Dia. Ada ayatnya, Yaa muqqolibal qulb tsabit qalbi ala dinik, tsabit qalbi alaa ta’atik

*) Senopati, Perhimpunan Gerilyawan Nusantara

Tinggalkan komentar