Oleh : Kurnia Fajar*

Pada sebuah diskusi yang panjang, tajam, dan beringas, pernah diangsurkan topik ini: mana yang lebih bermanfaat saat ini, apakah agama, filsafat, atau sains? Kata Karl Marx, Agama adalah candu. Mungkin saja Marx benar setengah. Setengah lainnya meyakini agama adalah tonikum, harapan. Filsafat itu di awang-awang, kata yang lain. Tapi dia juga benar setengah. Setengah lainnya meyakini filsafat adalah kebajikan itu sendiri. Suatu sore di kedai kopi seorang kawan datang. Ia adalah sahabat sekaligus mentorku. Ia katakan “kamu sudah kehilangan jatidiri”. Saya rindu kamu yang dulu. Sejak ibumu wafat, kamu berubah, kamu seperti mayat hidup dan semua yang kamu lakukan seperti menangkap angin “what’s wrong with you”. Kalo kata orang jawa kamu ini sudah “mati sakjeroning urip”. Saya gak sanggup berkata-kata mendengarnya. Saya amini semua perkataannya. Pelan-pelan mata saya mulai terasa gerimis. Coba pikirkan apa yang bisa menghidupkan harapanmu. Bangkitlah! Ibumu pasti sedih di alam sana. Kamu gak kasian apa? Nadanya mulai meninggi. Saya mencoba menguasai diri, sejenak saya menyeka mata dan mengucapkan terima kasih padanya. Saya katakan bahwa saya sudah menyadarinya.
Sejak ibu tiada, saya seperti kehilangan kendali atas diri saya. Naluri dan kewaspadaan saya menghilang. Saya berjalan dan bergerak hanya atas dasar naluri manusia saja. Lalu dia berkata “gimana anak-anak?”. Alih-alih menjawab saya malah terisak lagi. Saya berdosa kepada mereka timpal saya. Saya tidak mendidiknya sama sekali. Saya ayah yang gagal! Bahkan juga suami yang gagal. Teman saya terpekur dan menggeleng-gelengkan kepalanya “masih ada waktu”. Bangkitlah! Urip sejatine Agawe Urup, hidup seharusnya bisa memberi makna hidup dan kehidupan bagi orang lain. Saya balik bercerita pada kawan. Saya membenci diri ini. Bisnis remuk, utang menumpuk. Dikejar debt collector, disita bank, ditagih-tagih, kehilangan semuanya. Hidup bisa menjadi buruk tanpa sebab mencelakai teman dan keluarga. Ditinggal semua teman dan bahkan keluarga. Dignity jatuh ke titik paling rendah. Hampir tiga tahun gak punya cash in. Saya membenci pagi hari, sebab akan ditagih. Kemudian menyukai malam, yang menyembunyikan cemas. Saya pernah tak mampu membeli sebatang sabun dan sekilo beras. Dan yang menghancurkan semua kepercayaan diri adalah fakta bahwa saya pun tak mampu membayar sekolah anak.
Adakah yang lebih buruk dari kenyataan seorang bapak, yang menjadi pahlawan bagi anaknya, tak mampu membayar sekolah anak-anaknya? Saya ada di titik itu, belum jauh. Tak punya uang, dirampas oleh kenyataan, tak punya harga diri, tak punya harapan. Pada akhirnya pernah pada satu titik saya nyaris menembak diri sendiri. Urung menembak kepala sendiri, saya memilih jalan memutar: solat. Solatnya orangnya bingung, solatnya orang cemas, saban waktu dzikir. Ibu semasa hidup selalu berpesan untuk tidak minta uang sama keluarga apalagi kawan. Kebiasaan itu terbawa. Lidah ini kelu tak sanggup meminta. Malahan kawan selalu menganggap saya banyak uang. Wajar saja, satu tahun sebelum bangkrut saya bisa beli mobil baru hanya karena kantung saya terlalu sesak. Bisa semudah itu namun setahun kemudian usaha memburuk. Sholat tak menyelesaikan masalah. Tapi ia memberi pelajaran yg sangat banyak, bahwa ini hanya soal uang. I am ok tapi hanya sedang tak punya uang. Pelan-pelan saya mencari uang, meminta dimudahkan, sambil memohon segala utang dijadwal-ulang. Di titik ini, saya menemukan Tuhan. Dan saya percaya Tuhan pun menemukan saya. Sejak tiga bulan silam, saya dipertemukan dengan orang-orang yang pelan-pelan mengulurkan tangan.
Saya ada di titik yang paling rawan, di tempat tak seorang pun boleh tahu sebab sebelumnya saya pemenang. Saya mudah belanja apa saja karena tas yang saya bawa terlalu berat maka harus dikurangi isi uangnya. Saya mulai menyukai surau. Dan sepertinya surau pun menyukai saya. Selalu menemukan ketenangan, meski utang tak kunjung tunai. Mudah untuk berani mati. Tapi big match ada di berani hidup. Dan ya, saya memilih untuk melanjutkan hidup. Meski belum pulih dan masih di dalam badai, saya mulai menata diri, saya ingin memiliki harapan dan mimpi kembali karena tiap-tiap orang menimbun harapan, dipupuk dan dirawat, dibawakan di antara adzan dan iqomah, atau di bawah rinai hujan. Berbilang waktu, timbunan itu dikoreksi. Kehilangan harapan itu seperti masuk penjara, ia merenggutnya. Harapan juga seperti pernikahan dari dua sisi. Perempuan menikahi pria dengan harapan mereka akan berubah sedangkan pria menikahi perempuan dengan harapan mereka tak akan berubah. Kemudian mereka kecewa. Milikilah harapan yang membumi dan harapan yang memberi agar tidak kecewa. Kelahiran anak adalah harapan begitu kata orang-orang bijak. Di kehidupan saya yang baru ini, rasanya motivasi dan harapan hidup saya adalah anak-anak saya. Banyak pelajaran yang saya ambil. Yaitu, selalu ada jalan bagi yg mau menemukan. Kawan saya lantas berdiri, memegang pundak saya dan berkata “sejak masih SMP dulu, saya selalu percaya kamu bisa melaluinya”. Aku selalu mendukungmu!
*)warga negara biasa, pengamat ikan di dalam kolam