Leiden is Lijden

Oleh : Kurnia Fajar*

Een Leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden. Jalan memimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin itu menderita. PEPATAH kuno Belanda itu diucapkan Kasman Singodimedjo saat dirinya bersama Mohammad Roem dan Soeparno berkunjung ke rumah Haji Agus Salim di Gang Tanah Tinggi, Jakarta, pada 1925. Memimpin adalah menderita, ia akan mengambil segalanya darimu, waktumu, hartamu bahkan jiwamu. Pertolongan akan datang dari Tuhanmu ketika engkau berlaku adil. Demikianlah jalan sunyi seorang pemimpin. Jalan pedang yang penuh onak, duri, terjal dan berdarah-darah seperti Musashi miyamoto yang seorang ronin yang terus sendiri. Ronin laksana klandestin. Hidup di tengah masyarakat, berbaur, menentang sang penguasa yg lalim. Google V juga. Begitulah jalan hidup seorang yang memilih menjadi Pemimpin. Paling tidak ia akan mengalami situasi-situasi yang menyakitkan. Di balik kekuasaannya ada kenyataan yang akan membuatnya menyendiri. Ketidakmampuan anak buahnya memahami jalan pikir dan misinya bisa jadi membuat dia akan merasa sepi. Ketika bertemu dengan perubahan, ia adalah orang pertama yang akan dibenci oleh seluruh pengikutnya. Kadang kebencian itu muncul karena kesalahpahaman. Karena pemimpin memang harus siap disalah pahami, harus pandai berpura-pura, sering dikritik tanpa dihargai, harus siap menghadapi konflik , sering kehilangan waktu untuk diri sendiri, selalu dituntut tanpa dihargai dan siap mengorbankan kepentingan pribadi. Jalan sunyi ini kadang mengantarkan pemimpin ini mengenal penciptanya.

Semua pemimpin harus melalui jalan sunyi ini dengan kapasitasnya masing-masing. Pangeran Diponegoro diasingkan hingga akhir hayatnya. Bung Karno juga demikian, masuk penjara dan diasingkan beberapa kali. Terakhir Presiden Prabowo yang terusir ke Jordan dan ditinggalkan semua kawannya. Termasuk mengalami kesulitan ketika mau kembali ke Indonesia. Rusdi Mathari seorang Wartawan dan penulis hebat mengatakan dalam tulisannya tentang CEO Citibank Charles Prince yang membuat keputusan minta maaf atas dugaan fraud anak buahnya di jepang tahun 2004 silam. Prince bertolak dari New york ke Jepang hanya untuk meminta maaf pada publik jepang atas kesalahan perusahaannya. Prince, sosok yang pernah ditabalkan sebagai 25 orang yang bisa memengaruhi ekonomi dunia itu, sayangnya kemudian juga dianggap orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan Citigroup menepis krisis hipotek. Majalah Fortune mencatatnya sebagai salah satu dari delapan pemimpin ekonomi yang terlalu optimistis melihat krisis keuangan yang sudah membuncah sejak Juli 2007 itu. Dia dianggap gagal.

Di hari keempat November 2007, Prince karena itu lalu mengundurkan diri dari Citigroup. Dia digantikan oleh Vikram Pandit. Prince sekali lagi menyampaikan permintaan maaf tapi  orang-orang di Amerika sudah sejak lama mengubur jasa-jasa Prince yang pernah mencegah limbungnya Citigroup di Jepang lewat permintaan maaf yang disampaikannya di depan publik negara itu.  Ketika lelaki kelahiran 13 Januari 1950 itu meninggalkan ruangan kantornya, hari itu angin musim dingin menusuk jantung New York, dan Citigroup tengah berdiri di tubir keruntuhan. Itulah jalan Pedang Charles Prince. Jasanya tak lagi ada. Ia hanyalah debu jalanan yang akan terbang ditiup angin. Adalagi kisah ksatria pandawa ia terusir dari Hastinapura dan menepi di Hutan amarta. Yudhistira sang kakak tertua misalnya yang kalah taruhan segala-galanya dalam permainan dadu. Akibat tipu muslihat sengkuni. Drupadi istrinya dipermalukan oleh Dursasana. Karena unfairness pandawa akhirnya diusir dari hastina dan harus mengalami masa pembuangan selama lebih dari 12 tahun. Napoleon Bonaparte kaisar Prancis yang gilang gemilang ketika kalah dalam pertempuran waterloo akhirnya minta suaka politik kepada kerajaan Inggris. Napoleon diasingkan ke penjara st. Helena hingga kematiannya. Begitulah jalan terjal pemimpin. Semakin besar skala kepemimpinannya maka akan semakin sunyi jalan hidupnya.

Mengutip caknun dalam caknun.com  empat skala ruang Pemimpin yaitu Pertama, alam pemikiran modern di mana seorang Pemimpin ditentukan atas dasar hal-hal yang sebenarnya masih bersifat abstrak: profesional, loyalitas, integritas, ekspertasi, kemampuan dlsb.
Kedua, konsep Pemimpin menurut Rasulullah saw: Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah. Ketiga, mengambil dari tadabbur Al-Hasyr 23-24, bahwa seorang Pemimpin adalah ia yang memiliki sifat ‘Alimul ghoibi wa syahadah, rohman dan rohim. Baru setelah itu ia layak dipilih menjadi seorang Pemimpin, yang kemudian akan memiliki sifat-sifat yang disebutkan selanjutnya; Al-Malik, Al-Quddus, As-Salam, Al-Mu`min, Al-Muhaimin, Al-‘Aziz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir. Tentu saja bukan seperti sifat Allah, melainkan ia mampu mengejawantahkan sifat-sifat Allah tersebut dalam dirinya. Keempat, dari khazanah Ronggowarsito kita mengenal Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu. Kata Satria sendiri sudah mencakup seluruh sifat-sifat Pemimpin. Seorang Satria adalah ia sudah pasti memiliki sifat-sifat dan nilai-nilai luhur Kepemimpinan yang sejati. Seorang satria sudah pasti jujur, sudah pasti kompeten, sudah pasti cerdas, sudah pasti kuat, sudah pasti tangguh. Ia adalah Pinandhita yang juga Sinisihan Wahyu. Ia bijaksana, yang juga dibimbing oleh Tuhan dalam setiap langkah-langkahnya.

*)warganegara biasa, Pemerhati ikan di dalam kolam

Satu respons untuk “Leiden is Lijden

Tinggalkan komentar