Emangnya Loe siapa? Hah!

Oleh : Kurnia Fajar*

Pernah ada yang bicara begitu kepadamu? Kadang kebenaran memang menyakitkan. Hidup di alam yang menjunjung tinggi primordialisme dan Feodalisme. Keberadaan seseorang hanya diukur darimana dia berasal, dari garis keturunan siapa. Dengan nilai ukuran tersebut seseorang bisa mendapatkan kedudukan sosial. Rasullullah Muhammad SAW melalui Islam ingin membatalkan itu. Dalam Al-qur’an surah Al-hujuraat ayat 13 ditulis “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” Begitulah pernyataan Kesetaraan dalam Islam, sangat tegas! Bentuk Feodalisme lain terjadi di dalam masyarakat jawa. Mereka, Orang jawa punya ukuran bibit, bebet, dan bobot yang mengukur latar belakang keluarga, ekonomi, pekerjaan, karakter dan kepribadian. Tan Malaka Pahlawan nasional dan tokoh sosialis setuju dengan Rasullullah SAW ia menentang keras Feodalisme dan Primordialisme ini. Dalam memerangi Feodalisme Tan mengikuti Tjokroaminoto dan masuk dalam Syarikat Islam. Tan menulis Madilog guna mencerdaskan rakyat agar ikut memerangi Feodalisme ini. Menurut Tan, membangun dialektika dan menggunakan logika adalah cara terbaik membangun manusia.

Alih-alih didukung, Tan Malaka malah dimusuhi oleh kaum ambtenar dan bangsawan jawa yang selalu menggembosi pikiran-pikirannya melalui riwayat-riwayat klenik dan pentingnya berbakti kepada Raja dan para bangsawan seperti Bupati, Residen dan Wedana. Sekolah-sekolah dibatasi. Hanya anak-anak dari orang yang memiliki kedudukan di atas. Di luar Feodalisme darah, juga ada feodalisme agama dan saudagar. Para pemuka agama dan saudagar-saudagar memiliki tempat tertentu dalam pranata masyarakat. Kalangan Agamawan melestarikan Feodalisme ini di Pesantren, dan organisasi massa. Anak Kyai laki-laki diberi gelar Gus dan yang perempuan diberi gelar Ning di Sumatera Barat dipanggil Buya. Jika pengusaha Belanda dipanggil Meneer maka pengusaha pribumi dikasih gelar Juragan atau Tuan. Rakyat pada akhirnya menjadi objek penindasan saja. Itulah yang mau dilawan oleh Tan Malaka. Setelah 80 Tahun Indonesia merdeka, apakah Feodalisme dan Primordialisme hilang dari Negara yang katanya berbentuk “Republik” ini? Tidak! Anda tidak akan pernah mencapai kedudukan tertentu jika bukan anak siapa-siapa atau diendorse oleh siapa? Pendidikan yang diharapkan membuka kotak pandora dan terjadinya kesetaraan hanyalah mimpi di siang bolong, kesempatan kerja didasarkan pada koneksi dan sumber daya kapital, bukan pada kompetensi dan kapasitas manusianya.

Pada akhirnya, untuk mencapai peningkatan posisi sosial di masyarakat haruslah memiliki background nasab dan kedekatan pada sumber kekuasaan. Ketika Jokowi jadi Presiden, harapan itu terbuka, sebagai orang biasa, Jokowi dianggap sukses dan mampu menanamkan keyakinan bahwa di Republik ini Feodalisme dan Primordialisme bisa hilang, namun apa yang terjadi malah sebaliknya, setelah menjabat Jokowi malah mencintai Feodalisme, ia gunakan simbol-simbol penguasa Jawa di akhir-akhir masa jabatannya untuk menegaskan bahwa ia sudah menjadi “Raja”. Dalam struktur bahasa pun kita sangat Feodal, ada tatanan dalam bahasa jawa yang disebut kromo Inggil dan undak usuk basa dalam bahasa sunda. Berbagai sebutan untuk menegaskan berbedanya kedudukan seseorang, Hakim disebut yang mulia, para bangsawan disebut Raden, Tumenggung, Gusti dan Akuwu untuk kepala desa. Tidak hanya Islam yang membawa ide kesetaraan. Hak Asasi Manusia yang dideklarasikan dalam sidang majelis umum PBB tanggal 10 Desember 1948 menegaskan itu. Kita semua manusia di dunia adalah setara! Tidak ada perbedaan Ras, warna kulit, dan bahasa.

Pada akhirnya Feodalisme dan Primordialisme itu sulit hilang. Karena ia melekat dalam pikiran, diajarkan terus menerus sehingga dinisbatkan dalam pikiran hampir semua manusia dan menjadi keyakinan. Untuk meyakinkan Pemerintah bukanlah Negara kepada ASN eselon II dari sebuah kementerian saja sulit, saya sampai dibentak dan diusir dari diskusi. Rasanya tidak ada harapan menghilangkan feodalisme dari pikiran sebagian besar masyarakat kita. Apa sebetulnya definisi dari Feodalisme dan Primordialisme? Feodalisme adalah sistem sosial, politik, dan ekonomi yang didasarkan pada hubungan hierarki antara penguasa dan rakyat. Sistem ini dominan di Eropa pada abad ke-9 hingga ke-15. Sedangkan Primordialisme adalah paham yang menganggap hal-hal yang dibawa sejak kecil sangat penting dan dipegang teguh. Hal-hal tersebut bisa berupa suku, agama, ras, adat istiadat, dan daerah kelahiran. Pada akhirnya setiap manusia harus berjuang dengan caranya sendiri untuk mencapai cita-citanya, meskipun saingan terberatnya adalah pikiran-pikiran yang menyatakan bahwa “feodalisme adalah sebuah keyakinan yang harus dihormati”. Seperti diucapkan oleh Tan Malaka “Terjadinya kecerdasan pikiran dan memperoleh segenap kemampuan untuk pendirian masyarakat yang baru.” Jadi jangan heran jika suatu saat akan ada orang yang berkata di depan kamu “emangnya loe siapa?” Atau “ngaca dong ngaca?”. Ketika kamu menang argumen dengan seseorang yang memiliki keluarganya memiliki kedudukan “Feodal”.

*)warganegara biasa, pemerhati ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar