Menuju Kesunyian

Oleh : Kurnia Fajar*

Keterasingan bukanlah tidak lagi saling mengenal, melainkan suatu keadaan di mana tidak ada alasan untuk saling membutuhkan

Pernah mendengar istilah Duck syndrome? Duck Syndrome adalah kondisi di mana seseorang yang terlihat tenang dan baik-baik saja, tetapi sebenarnya ia mengalami banyak tekanan dan kepanikan dalam mencapai tuntutan hidupnya. Tekanan dan kepanikan yang biasanya dipengaruhi oleh pikirannya dan hal lain dalam tata nilai. Duck syndrome menyerang generasi muda yang hidup dalam dunia penuh ekspektasi, harapan dan tuntutan. Umur 25 sudah menikah, umur 27 punya anak, umur 30 punya rumah. Contohnya seperti itu. Tampilan “sukses”, bahagia, produktif adalah tujuan. Definisi bahagia adalah senyum lebar, harta benda dan foto keluarga lengkap. Media sosial menciptakan ruang dimana kita secara konstan membandingkan hidup kita dengan orang lain. Pencapaian orang lain akan terlihat besar, sementara pencapaian diri akan terasa kecil bahkan memalukan. Ada juga perasaan ketakutan terlihat lemah dan kebutuhan untuk menjaga citra tetap positif. Ketika semua orang sibuk mempertahankan citra sempurna jarang ada ruang untuk rapuh. Dunia menjadi penuh dengan topeng. Kelemahan yang menjadi perangkat empati akhirnya malah tersembunyi.

Albert Camus seorang filsuf aliran cynical dalam bukunya “the Fall” menulis tentang karakter yang hidup dengan rasa malu tersembunyi dan berusaha keras terlihat ideal di mata orang lain. Buku ini menyajikan pengakuan yang meresahkan dari Jean-Baptiste Clamence, seorang mantan pengacara. Selama beberapa malam di sebuah bar di Amsterdam, ia mengungkap kisahnya yang dipenuhi rasa bersalah dan kebencian terhadap diri sendiri. Refleksi Clamence mengungkap kemunafikan masyarakat dan beban penghakiman di dunia yang secara moral absurd. Clamence berkata “Bukankah kebohongan pada akhirnya akan menuntun pada kebenaran? Dan bukankah semua ceritaku, benar atau salah, mengarah pada kesimpulan yang sama? Bukankah semuanya memiliki makna yang sama? Jadi, apa pentingnya apakah cerita itu benar atau salah jika, dalam kedua kasus, cerita itu bermakna tentang siapa aku dan siapa diriku? Terkadang lebih mudah untuk melihat dengan jelas ke dalam diri pembohong daripada ke dalam diri orang yang mengatakan kebenaran. Kebenaran, seperti cahaya, dapat membutakan. Sebaliknya, kepalsuan adalah senja yang indah yang memperindah setiap objek”. Duck syndrome bekerja dengan cara serupa membangun jurang antara bagaimana kita ingin dilihat dan bagaimana kita benar-benar merasa.

Menghadapi Duck Syndrome adalah tentang kejujuran terhadap diri sendiri. Tentang keberanian menuju jalan yang sunyi. Jauh dari hingar bingar puja puji dari komunitas. Berani hidup otentik dan melepaskan diri dari ekspektasi sosial. Ichiro Kishimi filsuf dan psikolog asal jepang menulis bahwa kebebasan sejati akan datang ketika kita berhenti hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain. If it is doesn’t kill you it will make you strong. Jalan menuju kesunyian adalah jalan yang mudah namun penuh dengan penderitaan dan perjuangan dalam alam pikiran karena melepaskan diri dari norma sosial. Harus mau menerima diri, keluar dari topeng dan tampil apa adanya. Rasullullah Muhammad SAW dalam salah satu haditsnya mengatakan “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing”. Demikianlah, pada akhirnya hidup bukan tentang terlihat sempurna. Tetapi tentang merangkul ketidaksempurnaan dengan kejujuran. Kesuksesan dan kebahagiaan Anda akan diampuni hanya jika Anda dengan murah hati setuju untuk membagikannya. Namun, untuk menjadi bahagia, penting untuk tidak terlalu peduli dengan orang lain. Akibatnya, tidak ada jalan keluar. Bahagia dan dihakimi, atau diampuni dan sengsara. Jalan munuju kesunyian dan keterasingan itu ibarat berdiam diri di tengah rumah yang sepi ditemani suara jangkrik dan kodok, terdengar tapi tidak mengganggu. Bahkan kita menikmatinya.

*)Gerilyawan selatan, Pemerhati ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar