Ingin Nyerah tapi gak tahu caranya

Oleh : Kurnia Fajar*

🎶🎶 Understand the things I say
Don’t turn away from me
‘Cause I’ve spent half my life out there
You wouldn’t disagree 🎶🎶

🎶🎶 Do you see me, do you see?
Do you like me
Do you like me standing there?
Do you notice, do you know
Do you see me, do you see me?
Does anyone care? 🎶🎶

🎶Unhappiness where’s when I was young
And we didn’t give a damn
‘Cause we were raised
To see life as fun and take it if we can
My mother, my mother
She’d hold me
She’d hold me when I was out there
My father, my father
He liked me, well, he liked me
Does anyone care? 🎶🎶

Lagu berjudul “Ode To my Family” dari Cranberries mengalun di sebuah kedai kopi di tengah hujan deras di metropolitan Jakarta. Suara Dolores O Riordan tampak menyatu dengan irama lagu yang menceritakan tentang kesepian dan kerinduan yang pilu. Saya teringat bibi saya yang berpulang beberapa bulan yang lalu. Mengingat kematian adalah hal yang terbaik dalam hidup menurut para cerdik cendikia dan para ulama. Peristiwa kematian adalah pemutus kenikmatan dunia. Kamu boleh kalah, tapi jangan menyerah. Begitu kata paman saya ketika mengajari saya naik sepeda motor. Kalimat itu malam ini terngiang-ngiang lagi di dalam kepala. Jika kita merenung sejenak dan mengingat pertempuran-pertempuran kehidupan maka kita akan tersenyum bahkan mungkin menangis mengingatnya, kadang malu dan ingin membenamkan kepala ini kedalam tanah. Hilang ditelan bumi. Menyerah itu ibarat lelaki berwajah tampan, menua dan akhirnya menyerah dalam bengisnya garis waktu. Pertarungan kehidupan seperti bertinju dan terkapar KO. Kita boleh kalah. Tapi boleh bangkit di pertandingan berikutnya.

Ketika menikah, saya pernah berkata begini kepada istri saya “Aku, kamu, dan janji kita untuk tak menyerah. Nyalakanlah harapan. Menyerah adalah tanda untuk mengetuk pintu langit. Menghamba kepada Rabb-mu. Pada sunyi Manusia menemukan penciptanya. Bukan pada sorak-sorai. Karena itulah diciptakan sepertiga malam. Kalo Friedrich Nietzsche punya konsep Amor fati brutum yang berarti “cintailah takdirmu walaupun itu kejam”. Konsep ini mengajarkan untuk menerima dan mencintai segala hal yang terjadi dalam hidup, termasuk yang tampaknya negatif. Maka orang jawa punya sumeleh yaitu berserah diri pada ketetapan Tuhan, berserah bukan berarti menyerah. Nerimo ing pandum, karena tidak semua bisa diusahakan manusia. Ikhlas mencintai jalan hidup. Sedangkan Islam mengajarkan Ikhlas, Ridho dan tawakal. Definisinya kira-kira mirip dengan sumeleh tadi. Buya Natsir dalam percakapannya dengan Farid Prawiranegara dan Zulfikar Joesoef mengatakan Ikhlas, Ridho ibarat kebelet buang air besar, kita dengan tulus ikhlas memberikan hak milik kita yang bersemayam dalam diri kita tanpa ada perasaan ragu untuk memberikannya. Malah kita akan merasa bahagia setelah melaksanakannya.

Ketika seorang hamba melakukan amalan, berharaplah keridhaan dan keberkahan Allah. Tanamkan dalam hati, bahwa ucapan dan perbuatan yang dilakukan semata karena Allah. Dengan begitu, keikhlasan bisa muncul dan tumbuh dalam diri.
Dari Umar bin Khattab, Rasulullah SAW bersabda mengenai perbuatan yang dilandaskan dengan keikhlasan tidak akan sia-sia. “Seluruh amal perbuatan tergantung pada niat. Setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa saja yang hijrahnya karena dunia yang akan diperoleh atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya memperoleh apa yang diniatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sering saya bertanya dalam keheningan malam, apa padanan boleh kalah tapi tidak boleh menyerah. Ia seperti seorang mualaf yang belajar berpuasa. Mereka tak puasa sejak dini. Akibatnya, mereka lebih sulit menyesuaikan. Yang paling menakutkan bagi mereka adalah waktu berbuka. Kembung, pusing, lemas. Lapar dan haus pasti kuat. Fase yg paling sulit: menahan diri. Semua kita juga akan kesulitan. Jika sudah terbiasa akan kegirangan sampai akhirnya sadar bahwa ramadhan mau berakhir. Kalo gak kuat, silakan berbuka, besoknya coba lagi. Jangan nyerah

Begitulah kehidupan layaknya menahan diri dari semua keinginan dan hawa nafsu sendiri. Semenderita apapun pasti dijalani. Karena ujungnya lebaran dimana kue-kue dan ketupat opor menanti. Setelah semua itu berlalu, kemudian semua menjadi lebih mudah. Lebih jembar. Dan tidak mau lagi bicara agama, ndakik-ndakik, di ruang publik. Pada akhirnya puasa adalah hijrah pemikiran. Tak lagi bicara tentang diri, kehilangan dan kekalahan tapi meluas menjadi kita, dan luka-luka yang menetap. Puritan adalah kita. Berdansa di bawah rinai gerimis, sampai lampu-lampu dipadamkan, Cause everybody Hurts. Kita semua murung tapi kemenangan adalah ketika sudah tidak berbicara lagi tentang diri ini. Dua orang memilih bertahan bukan karena mereka masih saling-mencintai, tapi karena tak satu pun yang mau hidup kesepian. Akhirnya judul di atas menjadi tidak relevan. Karena sejatinya menyerah itu tidak ada dan tidak akan pernah ditemukan caranya selama kamu mencintai takdir hidupmu. Merdeka! Tabik!

*)Gerilyawan Selatan, Pemerhati ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar