Cinta itu Luka

Oleh : Kurnia Fajar*

🎶🎶 When I was younger, I saw my daddy cry
And curse at the wind
He broke his own heart and I watched
As he tried to reassemble it
And my momma swore
That she would never let herself forget
And that was the day that I promised
I’d never sing of love if it does not exist 🎶🎶🎶

Lagu the “Only Exception” dari paramore bercerita tentang seseorang yang mengalami trauma masa kecil karena melihat kehancuran hubungan orang tuanya. Trauma tersebut membuatnya skeptis terhadap cinta dan memilih untuk menjaga jarak. Dari kacamata kita yang sudah menua, lagu itu ibarat perjalanan cinta yang bermetamorfosis menjadi luka. Seorang lelaki dewasa yang menangis menyesali perbuatannya.  Mengutuk dan membenci dirinya setiap hari. Ya, setiap hari. Lirih ia berkata, beri kesempatan untuk memperbaikinya. Kemudian perempuan-nya yang marah, diabaikan dan lelah dengan hidupnya. Kemudian bersumpah tidak akan pernah melupakan dan memaafkaan. Begitulah perempuan ia bisa melonjak-lonjak kegirangan dalam sekejap. Demikian sebaliknya ia bisa segera murka dan kecewa dalam waktu yang sekejap pula. Lima belas tahun yang yang indah. Saling memuja, saling memuji kemudian luluh lantak dalam sekejap. Sejak dulu saya tahu bahwa perempuan marah bukan karena kita bikin salah, tapi karena mereka ingin didengar. Sudah tahu tapi lupa mulu. Mungkin sebagian besar laki-laki gagal karena kepalanya selalu riuh, berisik dengan segala persoalan kehidupannya. Begitulah Tuhan tiwikrama atas cinta yang berubah menjadi luka. Jika sudah luka julukannya bertambah menjadi “Ras terkuat di muka bumi”.

Perempuan yang bersamamu di masa sulit. Kemudian ia menepi di masa engkau sukses. Cinta bisa sebesar itu pun sebaliknya. Luka bisa sebesar itu. Vice versa. Sementara laki-laki membutuhkan cinta pertama dari perempuan. Sebaliknya, perempuan membutuhkan cinta terakhir dari laki-laki. Untuk menumbuhkan cinta laki-laki membutuhkan tempat, sementara perempuan membutuhkan alasan. Luka adalah alasan terdepan perginya perempuan. Pada tiap perempuan yang berdiri di persimpangan jalan dan diabaikan, cinta butuh diyakinkan. Dikuatkan dgn lembut. Tapi mbuh piye carane cuk! Laki-laki terlampau lelah dengan isi kepalanya. Apalagi laki-laki yang kalah ditekuk oleh kejamnya dunia, ia akan bingung bagaimana cara memperlakukan perempuannya. Selain menjadi luka, cinta bisa sangat menguatkan. Ia adalah energi kehidupan pada frekuensi yang sama. Respect, Rasa percaya dan Komitmen bahan bakarnya. Di titik ini cinta mustari menjadi kasih sayang. Kalo sudah begini luka menjadi mudah di obati. Ada hal yang saya sadari terlambat bahwa sebelum pernikahan baiknya memang menyusun persamaan misi hidup. Karena cinta tidak akan pernah cukup. Sementara kasih sayang abadi. Lalu bagaimana memperbaiki luka?

Islam mengisahkan kisah cinta sejati antara Rasullullah SAW dengan Khadijah. Sebuah kisah cinta yang tidak ada tandingannya menurut saya. Khadijah yang kaya raya dan terhormat akhirnya jatuh miskin menemani misi hidup Rasullullah SAW. Khadijah bisa saja pergi namun tidak dilakukannya karena ia merasa terikat dengan misi hidupnya Rasullullah SAW. Khadijah menemani Rasullullah sampai wafat. Dalam episode lain di kisahkan bahwa Rasullullah SAW memiliki dinamika percintaan dengan banyak istrinya. Ini membuktikan bahwa seorang laki-laki bisa memiliki cinta yang banyak tanpa harus menghilangkan cinta kepada perempuan sebelumnya. Laki-laki memang harus memiliki banyak stok cinta. Kepada ibunya, anak-anak perempuannya, kakak dan adik perempuan. Hanya kadang bahasa cintanya tak pernah dimengerti. Pemikiran ini tidak diterima oleh sebagian besar perempuan. Mereka menolak cinta yang dibagi. Inilah sunatullah Ilahi yang akhirnya membuat dinamika hubungan antara laki-laki dan perempuan menjadi rumit. Dari situ luka berasal. Ia akan hilang atau bertambah. Memahami peta jalan dalam pikiran laki-laki menambah rumit kisah dua jenis homo sapiens ini.

Pada akhirnya membentuk luka atau membangun kasih sayang adalah pilihan dan dua-duanya sah! Ini menjelaskan kenapa laki-laki sering memilih mati duluan dari istrinya. Sebagian mengatakan karena laki-laki yang ditinggal mati istrinya, akan mati dua kali. Ini adalah jenis hubungan kasih sayang. Sedangkan yang terluka berpendapat lebih baik segera mati daripada lukanya makin lebar dan menganga. Ada video pendek di youtube seorang laki-laki bersimpuh di depan makam seorang laki-laki lain sambil mengutuki makamnya “kenapa kamu mati…. kenapa kamu mati? Jika kamu masih hidup tentu aku tidak akan menderita seperti ini.” Demikian ia meratapi makamnya. Kemudian temannya yang kebingungan bertanya “makam siapa ini? Oh, ini makam suami pertama istriku.” Sahutnya diiringi gelak tawa temannya. Demikianlah lelaki memilih pergi duluan. Sebagian lainnya menyatakan hal itu berkenaan dengan ketidak-mampuan laki-laki mengurus dirinya sendiri. Jika perempuannya mati duluan biasanya laki-laki hampir pasti menikah lagi. Sementara perempuan sebaliknya. Perempuan memilih tetap sendiri karena dengan begitu dia ingin tetap berbakti pada suaminya. Seberapa besar luka yang tak terperi sakitnya atau memilih jembar hati dan mulai membangun kasih sayang adalah cara menyembuhkan diri dari trauma asmara. Sebagian sukses sebagian tidak. Barangkali apa yang dikatakan oleh Filsuf prancis Jean paul sartre menjadi relevan “Cinta laksana pohon yang tumbuh di hutan belantara, tumbuh di bawah rimbunan pepohonan besar tanpa sinar matahari. Pohon itu tetap tumbuh. Akan tetapi, tingkat pertumbuhannya akan lebih sempurna jika terkena sinar matahari. Matahari yang menyinari pohon itulah wajah atau gambaran hubungan dalam cinta”.

*) Gerilyawan Selatan, Pengamat ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar