Oleh : Kurnia Fajar*
Kelak jika kamu sudah jadi laki-laki dewasa, kamu boleh jadi apa saja, tapi hindari dua hal : jangan jadi pengecut dan jangan jadi pengkhianat. Hidup harus memiliki nilai. -Pesan Ibu-

Beberapa bulan terakhir, di waktu-waktu senggang, saya sedang kecanduan menonton series di Netflix yang berjudul Vikings, sebuah serial yang mengisahkan keberanian bangsa Viking untuk mencapai kejayaannya. Serial ini ada enam season dengan total 89 Episode. Film ini menghabiskan biaya hampir 200 juta USD dengan masa waktu produksi hampir 7 Tahun. Sebuah proses pembuatan Film seri yang luar biasa. Lain waktu saya pernah membaca dan menonton naskah teater Panembahan Reso karya WS. Rendra. Dari Film dan pertujukan teater ini saya belajar bahwa sebuah proses perebutan kekuasaan akan selalu menghadirkan intrik-intrik, tipu daya dan sebuah peristiwa pengkhianatan. Hampir dipastikan setiap peristiwa perebutan kekuasaan, peristiwa politik selalu saja ada peristiwa pengkhianatan dan ada pelakunya baik seorang maupun sekelompok orang. Seringkali pelakunya adalah kawan sendiri. “Kehilangan karena ditinggal mati kawan baik itu menyedihkan, tapi kehilangan kawan baik karena dia jadi orang lain itu meninggalkan perasaan yang lebih asing lagi.” Begitu kawan saya menulis pesan singkat kemarin siang setelah membaca tulisan saya.
Setelah berdiskusi, saya jadi teringat buku yang ditulis oleh Jenderal besar A.H. Nasution yang berjudul Peristiwa 1 Oktober 1965: kesaksian Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution. Dalam kisah tentang Letjen Anumerta Soeprapto pak Nas beecerita bahwa pahlawan Revolusi Ini sebagai Jenderal yang Tak Punya Musuh. Soeprapto pernah jadi Ajudan Panglima Besar Soedirman. Bahkan menjadi ring terdekat soedirman kala gerilya, kira-kira mirip mayor Teddy dengan pak Prabowo saat ini. Menurut Nasution, selama ia mengenal Soeprapto, ia adalah sosok yang ramah. Perwira yang selalu menghindari konflik keras. Selalu baik kepada semua orang. Pendamai yang baik. Tapi punya prinsip sebagai seorang prajurit. Setia kawan dan suka menolong. Tidak heran, jika kemudian semasa hidupnya, ia pernah menolong karir Brigjen Soepardjo yang terbuang di Siliwangi karena kasus kedekatan Soepardjo dengan Aidit semasa Soepardjo jadi pemimpin komando militer di Garut. Soeprapto juga yang menyarankan Mayjen Umar Wirahadikusumah agar menerima Kolonel Latief agar bertugas di Kodam Jaya. Padahal ketika itu Umar Wirahadikusumah sebagai Pangdam Jaya menolak Latief masuk jajaran Kodam karena mencurigai Latief terlibat dalam peristiwa pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948.
Karena itu, Nasution tak menyangka jika Soeprapto jadi korban petualangan komplotan G30S PKI dimana ada Latief dan Soepardjo di dalam komplotan tersebut. Padahal dua orang itu, pernah ditolong Soeprapto. Namun memang, Soeprapto itu sangat anti PKI. Karena itu pula, ia dianggap musuh partai komunis tersebut. Mungkin karena itu pula, Soeprapto perlu disingkirkan. Bahkan oleh dua orang yang karirnya pernah ditolong Soeprapto. demikianlah Kisah Letjen Soeprapto yang dikisahkan oleh pak Nas. Barangkali saya adalah Soeprapto itu. Dikhianati kawan-kawan sendiri dan membusuk dalam lubang kehinaan karena berpegang teguh kepada prinsip dan nilai. Namun yakinlah bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Pak Prapto dikhianati oleh kawannya sendiri. Letjen S.Parman malah lebih sakit dikhianati oleh Kakaknya sendiri yaitu Ir. Sakirman yang merupakan anggota politbiro PKI. Sejarah kadang memiliki kisah-kisah unik dan seringkali berulang. Dalam perjalanan karir, terhitung sembilan kali saya dikhianati kawan terdekat. Dalam peristiwa itu pula saya belajar bahwa hidup berdiri dalam persimpangan nilai dan tujuan. Apakah kita berpegang teguh kepada nilai? Atau setia kepada tujuan meskipun seringkali caranya menabrak norma dan nilai-nilai kehidupan.
Peristiwa pengkhianatan pun memiliki dua sisi tafsir atas kebenaran. Misalnya pada peristiwa pak Prabowo menjadi Menhan di Kabinet Jokowi setelah dua kali menjadi lawan dalam pemilu. Pendukung setia Prabowo mengatakan bahwa beliau berkhianat pada kesetiaan perjuangan. Sementara para pendukung Jokowi. Mengatakan bahwa Prabowo adalah seorang negarawan yang mengakui kekalahan dan bergabung dengan Jokowi dalam pemerintahan. Dalam kisah Ken Arok dan Tunggul ametung, kita langsung menilai bahwa Ken Aroklah sebagai pengkhianat. Tidak saja ia merebut kekuasaan tetapi juga merebut istrinya. Namun dari sudut Ken Arok, ia semata-mata setia kepada misi perjuangan. Kesimpulannya adalah bahwa orang-orang kalah lahir setelah di khianati. “Rasa sakit terburuk di dunia melampaui fisik. Bahkan lebih jauh dari rasa sakit emosional lainnya yang bisa dirasakan seseorang. Ini adalah pengkhianatan seorang teman.” Demikian kata Heather Brewer. Jadi, jika engkau di khianati tetapi masih hidup. Engkau bisa berbenah dalam mengatur strategi. Tunggul Ametung, Jenderal Soeprapto, Jenderal S. Parman tidak memiliki kesempatan itu. Mengutip petitih jawa eling lan waspodo. Sebagai pegangan hidup seorang ksatria!
*) Gerilyawan selatan, pengamat ikan di dalam kolam