Oleh : Kurnia Fajar*

Percayalah, kiwari, cerdas dan pintar itu sudah tak bermanfaat. Sudah ada Google, Chat GPT dan Artificial Intelligence. Yang terpenting adalah kecerdasan emosi, yang tak mampu digantikan Google. Selain itu juga harus bisa memisahkan definisi antara bodoh dan tidak tahu. Seorang perempuan kaya yang hidupnya selalu dilayani tiba-tiba menikah, tinggal di flat karena suaminya budak korporat. Pagi-pagi menyalakan microwave kemudian meledak. Ini bodoh atau tidak tahu? Ketika cerita ini tersebar luas akhirnya dia menjelaskan, dengan cerdas: saya tidak perlu tahu bagaimana menyalakan microwave, atau bagaimana menggunakannya. Saya tidak bodoh seperti yang dikatakan orang-orang. Saya hanya tidak tahu. Saya juga tidak tahu saldo di rekening saya, karena itu tugas penasihat finansial saya. Jika orang kaya memiliki penasihat finansial, maka politisi dan orang-orang stress kiwari akan memiliki penasihat spiritual. Dengan demikian definisi bodoh dan tidak tahu menjadi relevan kembali. Sama seperti artis perempuan yang cantik, lahir tumbuh dan besar di desa. Berkarir di Jakarta, cemerlang. Shooting ke desa, kaget lihat batu besar. Ini model artis yang kalo ditanya udah makan belom? Jawabnya : udah tadi maem tiyang. Lah.. tiang kok dimakan.
Jadi kecerdasan emosi ini menjadi kata kunci bertahan hidup dan memenangkan pertarungan di Zaman ini. Kita gak butuh Presiden cerdas. Presiden pintar. Kita butuh Presiden yang mengerti. Problem terdekat Presiden adalah dia harus selalu relevan. Harus selalu memproduksi kabar baik. Dan itu melelahkan. Namun itulah konsekuensi menjadi pemimpin. Presiden harus bergeser dari king of drama ke king of relevan. Time will tell. Kita menunggu gagasannya. Ini bagian paling sulit karena dia harus mampu keluar dari posisi nyaman. Disukai semua orang nyaris mustahil. Apalagi dengan sosial media. Sosmed pada akhirnya hanya ingin mendengar apa-apa yg ingin didengar oleh massa. Benar atau salah bukan menjadi fokus. Jika Presiden bertahan di zona nyaman, menampik aktif dalam isu-isu faktual, dia akan terkunci di fluktuasi keberpihakan. Membantu orang miskin itu baik. Tapi gagasan memutus mata rantai kemiskinan adalah genuine idea. Coba kirimkan tulisan ini sampe ke Gibran. Bagi-bagi susu dan buku itu baik. Namun bagaimana menyediakan generator ekonomi itu jauh lebih relevan untuk seorang pemimpin. Di ruang kelas ini hanyalah menjadi studi kasus terbaik untuk mata kuliah komunikasi politik. Setidaknya untuk saat ini. Pemenang pemilu seharusnya jadi pemimpin bukan penguasa. Yang kalah jadilah warga negara. Jangan jadi Ronin yang menjelek-jelekkan pemimpin. Kalo jelekkin penguasa boleh. Udah pada ngerti kan?
Jadi, kecerdasan emosi itu elemen-elemennya sebagai berikut : rasa khawatir, cemas, bahagia, senang, dan semua perasaan yang lahir dari dalam jiwa. Mark Manson yang menulis buku “seni untuk bersikap bodo amat”. Mengatakan sebagian besar kekhawatiran tidak sepenting yang kita kira. Hidup akan lebih ringan ketika kita berhenti memberi perhatian berlebih pada hal-hal yang tidak perlu. Marah yang berlebihan malah akan merugikan diri sendiri. David Hawkins dalam bukunya “letting go” juga mengatakan melepaskan bukan berarti menyerah. Tetapi melepaskan diri dari emosi yang mengikat. Persepsi diri terhadap peristiwa jauh lebih penting daripada peristiwa itu sendiri. Realitas bukan sekedar fakta namun juga interpretasi. Maka jika dunia terasa gelap mungkin bukan karena matahari tidak bersinar, tetapi karena kita lupa membuka jendela pikiran. Orang lain bisa menghina, namun keputusan untuk tersinggung atau tidak ada padamu. Kita tak akan pernah bisa mengendalikan orang lain, namun kita selalu punya kuasa atas reaksi kita sendiri. Ketika penyesalan mulai menggerogoti jiwa disitulah ujian hidup dimulai. Rasa bersalah lebih bisa menghukum daripada pengadilan dunia. Emosi yang tidak dikelola dengan baik bisa menjadi penjara yang sumpek bagi diri sendiri. Emosi yang terpendam terlalu lama bagaikan terperangkap dalam ruangan kaca tanpa saluran udara. Terasa sesak dan butuh udara untuk mengurangi rasa sesaknya.
Dendam adalah emosi negatif dan bisa menimbulkan kerusakan jiwa. Jika dendam mengendalikan seluruh hidupmu maka akan tenggelam dalam kegilaan sendiri. Itulah gunanya melepaskan dendam dan amarah. Kebanyakan orang menjadi mudah marah, kasar dan keras kepala. Sesungguhnya di balik itu semua ada kesedihan yang belum usai meski sudah dimakan waktu kesedihannya menetap. Butuh kehangatan emosi untuk mencairkannya. Kehangatan itu datang dari cinta dan kasih sayang. Pada akhirnya kecerdasan emosi adalah orang yang mampu bertahan secara sehat dalam menghadapi semua persoalan kehidupan. Mereka tahu cara membaca situasi, memahami perasaan orang lain, dan merespons dengan tepat. Terakhir, mengutip kalimat menggelitik dari seorang kawan “Orang dengan Emotional Intelligence dan Cognitive intelligence yang tinggi bisa jadi manusia super baik, dan punya kapasitas jadi umat beragama yang baik. Masalahnya… Mereka itu cenderung punya critical thinking yg tinggi. If you understand what I mean”.
*) Gerilyawan Selatan, pengamat ikan di dalam kolam