Oleh : Kurnia Fajar*

Kamu kok jadi orang naif banget sih? Begitu ungkapan seorang kawan ketika saya mengungkapkan niat baik untuk membangun sebuah kawasan. Hidup bukanlah perkara hitam dan putih. Tetapi bagaimana menempatkan kebaikan menjadi pemenang. Kemudian ia melanjutkan “orang-orang naif pasti kalah dan tersingkir”. Aku merenung sambil menikmati kopi yang mulai dingin. Naif itu secara sederhana bisa dikatakan sebagai orang yang lugu dan polos. Padahal untuk mendapatkan kemenangan haruslah berjuang menggunakan strategi dan terkadang strategi itu harus membuat lawan terperdaya. Kemudian ia mengajukan pertanyaan , Jika kita punya uang 50 juta, mana yg harus kita pilih: Berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji, atau membantu anak-anak yatim yang mukim di kolong jembatan? Saya menghisap rokok dalam-dalam, menyesap kopi sebagai cara melarikan diri dari terburu-buru menjawab, meletakkan cuping gelas ke tatakannya lalu menjawab : membantu anak-anak yatim di kolong jembatan itu. Kenapa? Ibadah haji itu untuk diri sendiri, tentang relasi kita dengan Tuhan, membantu diri kita sendiri. Beda dengan membantu anak-anak yatim itu. Jawaban ini rasanya menenangkan.
Dia lalu berdiri, bergegas menuju rapat yang penting. Masih sempat saya mengatakan ini, jutaan orang pergi ke tanah suci, menemui Tuhan dan menemukan dirinya, tapi sedikit saja yg pergi menemui anak-anak yatim itu. Kemudian dia menjawab, betapa miskinnya kita sehingga yang kita miliki hanya uang. Kemudian dia hilang masuk ke dalam mobilnya. Aku kembali duduk dan menghabiskan kopi yang tinggal sedikit ketika tiba-tiba ponselku berbunyi pesan “kamu masih naif, renungkanlah”. Dia mengirim pesan. Kamu tahu contoh konkret dari manusia naif? Tuh Forest Gump. Kalah terus kan dia, seumur hidupnya. Aku menjawab : tapi Forest Gump selalu beruntung. Ya, benar! Tapi dia tak pernah benar-benar sampai pada tujuan hidupnya. Pria naif yg autis, yang cintanya sebesar semesta, dengan keinginan satu-satunya pulang ke desa, bersama Jenny dan anak mereka. Forest bukan Naif tapi dia tulus. Kemudian text mulai berbunyi lagi “Tahu contoh lain dari manusia yang baik tapi setengah naif? Pak Habibie. Kita kagum karena dia polos, kadang naif, kalau bicara selalu antusias, kepalanya digelengkan, matanya dilebarkan, pendengar yg santun. Suatu ketika pak Habibie diwawancara oleh sebuah stasiun TV mengenai peristiwa percakapan dengan Prabowo, di TV pak Habibie berujar “anda Presiden Naif!” Menirukan kata-kata Prabowo.
Pak Habibie bukan polos tapi tulus! Sama seperti mengatakan bahwa cinta adalah keindahan dunia. Greatest feeling i’ve ever had. Padahal Cinta adalah buku besar yang isinya debet dan kredit. Menyangkal ini membuatmu naif. Aku tetap tidak setuju dengan kawan yang satu ini. Aku katakan, ketimbang naif aku menyebut mereka adalah orang-orang baik di persimpangan kiri jalan. Yowis lah sakarepmu! Jawaban text di ponsel mengakhiri percakapan kami. Aku merenungi semua ucapannya, ada benarnya juga, mungkin aku naif berbuat baik dan berharap semua kebaikan dikembalikan kepadaku. Padahal bisa saja aku dijatuhkan karena kenaifanku ini. Persis Forest Gump! Sudah setua namun masih tampan ini, masih belum bisa membedakan antara niat murni nan tulus dengan naif. Pada akhirnya hidup adalah paradoks. Kalo sudah menjadi paradoks saya teringat film The Circle yang dibintangi Emma Watson. Pada saat manusia membutuhkan keterbukaan, pada saat bersamaan dia membutuhkan privasi. Pertanyaan tak berhenti pada bagaimana manusia memahami teknologi. Tapi berlanjut ke bagaimana teknologi memahami manusia. Dengan segala drama dan paradoksnya.
Apakah kita tuan atas teknologi, atau budak dari teknologi? The Circle mau berlari cepat-cepat membawa jawaban, yang akan diestafet ke pertanyaan berikutnya, apa itu modern? Apakah modern tujuan atau sekedar alat. Hidup memang perjalanan kontradiktif yang terus menerus. Jika hidup adalah napak tilas kontradiktif, apakah lalu cinta adalah kontradiksi itu sendiri? Apakah rindu adalah rindu bukan horny misalnya? sering saya berpikir begini, bagaimana seseorang yang meletakkan jidatnya di atas sajadah, namun pada saat yang bersamaan dia cemas karena tak kunjung memiliki uang untuk menafkahi keluarganya? Bukankah setiap saat kita katakan Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam” lalu mengapa sepulang sholat orang masih cemas? Pada akhirnya saya hanya bisa mengatakan kamu itu istimewa. Tak seorang pun boleh merumuskan perjalanan panjang hidupmu. Selalu ada pelangi setelah hujan. dan tak seorang pun yang memintamu untuk selalu jadi pemenang. tapi jika jatuh, berjanjilah untuk segera berdiri. berjanjilah untuk itu. Semua ada tempatnya masing -masing. Hina atau mulia bukan karena tempat, tapi karena ada jiwa yang membisikkan raga untuk memberi arti pada sesama. Seperti kata Bernadya dalam lagunya Untungnya…. bumi masih berputar… untungnya ku tak pilih menyerah! Tabik!
*) Gerilyawan Selatan, Pengamat ikan di dalam kolam