Oleh : Kurnia Fajar*

Kemarin dalam acara silaturahmi koalisi Indonesia Maju yang digagas oleh Partai Gerindra yang bertepatan dengan hari ulang tahun partai, Presiden Prabowo Soebianto berpidato dan berkali-kali mengucapkan kata “Ndasmu!” Untuk meluapkan kejengkelannya. Sebagai seorang yang sekampung dengan Presiden Prabowo yaitu di Gombong Kebumen, izinkan saya untuk menganalisa makna dan arti dari Ndasmu ini. Kalimat umpatan atau serapah di suku jawa ini cukup banyak diantaranya Jancuk, Asu, Sontoloyo, Jingan, dan Ndasmu!. Jancuk bisa konotatif akrab, bisa konotatif makian. Perbedaan ke duanya pada rasa. Bahasa itu punya adik kandung yang bernama rasa. Itu salah satu yang membedakan manusia dengan binatang. Jancuk punya rasa, kopeth juga punya rasa. Tahu kan artinya kopeth? Seperti bengak dalam bahasa melayu Sumatera Utara. Ia bermakna bodoh namun sayang. Begitu pula dengan sontoloyo bisa bermakna sama dengan Jancuk. Akhirnya kata Ndasmu ini menyeruak di ruang publik. Disampaikan oleh pemimpin bangsa dan macam-macam tafsir muncul atas kalimat ini. Rata-rata mengungkapkan kekecewaan karena tidak sepantasnya seorang pemimpin meluapkan kejengkelan kepada rakyatnya sendiri. Bukankah ia penerima mandat rakyat?

Di Indonesia, orang Jawa ini, selain jumlahnya paling banyak, mencapai 40%, harus saya akui, adalah bangsa yang progresif dalam banyak hal, termasuk dalam menata falsafah dalam bahasa. Upaya untuk memperdebatkan falsafah, merumuskannya, kemudian membukukannya, tampak sangat rajin.
Dalam keadaan bertarung, inilah falsafah orang Jawa: “Sugih tanpa Bandha, Digdaya tanpa Aji, Nglurug tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake” Secara harfiah dapat diartikan Kaya tanpa Harta, memiliki Kesaktian tanpa Ilmu/benda pusaka, Menyerang tanpa bala Pasukan, Menang tanpa Merendahkan.
Barangkali Jokowi dan Prabowo adalah anomali. prabowo jelas-jelas banyumasan tapi Jokowi adalah mataraman. Jawaban “sudah tapi belum” ini tak akan dilakukan oleh Sri Sultan.
Ndasmu juga tak akan diucapkan oleh Sri Sultan. Sultan Hamengkubuwono adalah representasi Jawa Mataraman. Dalam kendali bahasa akan sangat teratur dan memiliki tingkatan. Meski gaya mataraman inilah yang membuat Jawa menjadi Feodal. Berbeda dengan Banyumasan yang egaliter dan guyub. Melihat Prabowo mengucapkan ndasmu berkali-kali sesungguhnya bukanlah hal yang aneh, namun memaknai-nya tentu diperlukan beberapa tafsir mendalam mengingat Prabowo adalah banyumasan. Ndasmu adalah komunikasi politik Prabowo.
Jika kawan akrab maka Ndasmu ini bermakna becanda dan mungkin saja perasaan sayang. Jika seorang bapak kepada anaknya bisa jadi ini bermakna gemas. Namun pada term perbincangan sehari-hari Ndasmu itu bisa jadi paling kasar. Paling keras. Kadang ditambahi dengan Asu tenan! Ada yang lebih lembut sebetulnya, yakni sontoloyo. Jika ditasbihkan egaliter dan guyub maka Ndasmu bisa bermakna sayang. Namun dalam unggah-ungguh jawa mataraman Ndasmu adalah makian. Coba aja sampaikan kalimat tersebut kepada Kyai, Guru, pak Camat, pak Kades atau ke Sultan Mataram. Pasti anda sukses dimarahin balik. Kuncinya adalah hierarki. Nah! Apakah Prabowo ingin mengeluarkan bangsa ini dari Feodalisme? Kalo iya, segera saja Prabowo keluar dari Istana, memimpin ala Banyumasan. Feodalisme dalam bahasa itu begini : Panggilan Mami seolah strata/kelas sosial. Panggilan Ummi dan Abi seolah jadi penanda sudah mendapat hidayah. Buya Syafii Maarif menolak dipanggil Buya, ia katakan buya itu feodal, panggil pak Maarif saja. Bila ada ‘Mbak’ atau “Mas” dalam sapaan saya, percayalah, terselip hormat di situ. Menyelipkan ‘pak’ dan “Bu” saya kira, tak serta-merta menjadikan kita feodal. ia mewakili rasa, mewakili kepantasan, di ruang publik.

Jawa Mataraman itu conflict avoider sedangkan Jawa Pesisir dan Banyumasan Conflict Seeker. Untuk sekarang, Jawa Mataraman yang conflict avoider (menghindari konflik) lebih membawa kebaikan di negara yang heterogen ini namun efek sampingnya Feodalisme tumbuh subur dan membudaya. Barangkali Mem-Feodal-kan Jawa adalah cara untuk meredam ngamuk yang menurut Raffles adalah bagian dari jatidiri bangsa Jawa. Jadi Curiga apakah Nrimo ing Pandum adalah bagian dari propaganda Feodalisme ini? Jadi Ndasmu dalam pidato kemarin maknanya apa? Sebagai banyumasan tentulah ia guyon dan gemas. Namun sebagai anak buah Pak Jokowi itu adalah sebuah sinyal kemarahan kepada musuh-musuhnya. Jadi, apapun masalahmu, solusinya? Ndasmu, Cuk!
*) Gerilyawan Selatan, Pengamat Ikan di dalam kolam