Catatan untuk anak-anakku (Anthology of reflective essay)

Oleh : Kurnia Fajar*

Saya punya  keyakinan, bahwa tiap-tiap kisah adalah istimewa. Busway terakhir yang saya naiki bergerak malas, mungkin juga lelah. Hanya terisi setengah, dengan penumpang yang sibuk dengan gadget masing-masing. Entah sedang mencari apa. Di pasar festival kuningan, seorang anak kecil naik takut-takut, sambil menuntun seorang ibu yang tunanetra, pelan-pelan. Jakarta yang lelah, dan melelahkan. Namanya Jaka Usianya saya kira sekitar 10 tahun. Kurang lebih. Perawakannya ceking, rambutnya kusut, dengan sorot mata yang kelelahan. Tapi siapa yg tidak? Kita semua kelelahan. Jaka dan ibunya duduk di bangku yang semula saya tempati. Hati-hati saya menuntun keduanya sampai terasa nyaman. Terima kasih Pak, kata Jaka. Dia mengembangkan senyum. Busway beringsut pelan, malas-malasan. Di tengah perjalanan Jaka mengaji, suaranya lembut berisi. Hampir seluruh penumpang menengadah. Pun saya. Malam dibangunkan oleh suara anak kecil yang mengaji, di busway. Wa may yattaqillaha yaj al-lahu makhraja. Wa yarzuq-hu min aisu la yahtasib, Terus, kata si ibu di samping Jaka. Sekarang kami tahu kalau Jaka mengaji, ibunya mengawasi. Wa may yatawakkal alallahi fa huwa hasbuh, innallaha baligu amrih, qad ja alallahu likulli syai in qadra. Ayat 1000 dinar itu nak. Ayo baca lagi. Sahut ibunya.

Itu artinya apa bu? Sebelum melanjutkan Jaka bertanya artinya pada sang ibu. Ibunya menjawab pelan ini adalah doa bahwa Allah selalu memberikan rejeki dari mana saja bahkan dari tempat yang tidak kita sangka-sangka. Jaka mengangguk-angguk sambil bibirnya komat-kamit melanjutkan Wa may yattaqillaha yaj al-lahu makhraja. Wa yarzuq-hu min aisu la yahtasib, Wa may yatawakkal alallahi fa huwa hasbuh, innallaha baligu amrih, qad ja alallahu likulli syai in qadra. Bagus sekarang baca Ad-dhuha : Wad duha Wal laili iza saja
Man wadda aka rabbuka wama qola. Diam-diam saya menikmati, dan ikut mengaji. Meski dalam hati, dan saya yakin tidak sendiri. Jaka tampak malu-malu, sesekali dia terlihat menunduk. Jaka meneruskan ayatnya. Surat yang rasanya hampir semua orang menyukai. Tentang janji, tentang introspeksi, tentang Nabi yang dijanjikan tidak akan ditinggalkan sendiri. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, dan Dia melindungimu. Wa amma bini mati rabbika fa haddits
Wa amma bini mati robbika fa haddits. Saya sempat menyaksikan pak kondektur ikut mengaji. Walau sesudahnya dia tampak malu. Atau gembira. Atau mungkin keduanya.

Tiba di tujuan, saya berganti moda, memikirkan Jaka. Setiap orang punya caranya sendiri untuk bergembira. Tiap-tiap orang akan kembali ke yang Esa, tempat dari mana dia datang. Jaka yang bahagia. Entah berapa kilometer jalanan Jakarta yang sudah dilaluinya untuk khatam. Adakah yang lebih membahagiakan selain mendengar anak mengaji? Adakah yang lebih penting dari itu? Saya tak sesering Jaka mengingat Tuhan. Saya malah sering marah ketika Tuhan terlambat menyampaikan rejeki. Bukannya bersyukur malah mutung. Untunglah Tuhan maha welas asih. Sering Tuhan mengalah karena saya sedang sibuk. Pada Jaka tidak. Setiap perjalanannya adalah hijrah. Dia tak meninggalkan maka dia tak ditinggalkan. Ma wadda aka robbuka wa ma qala. Tuhan itu dekat, kita yang menjauh. Jaka memenangkan apa yang kita, saya persisnya, tak mampu kalahkan: menjadi Manusia. Jaka kecil, dengan antusiasme besar, dia mengingat Dia, maka dia diingat Dia. Yang akan mencari akan menemukan. Andai Jaka meneruskan mengaji dengan surat Ar Rahman, saya bersedia menungguinya sampai halte busway ragunan. Sehat selalu Jaka dan Ibu yang selalu setia mengingatkanmu. Kelak kau besar, fa haddis dan fa hadits sebenarnya punya arti yang sama di ayat itu. Tapi ya, Ibumu ingin tertib.

Sambil melangkahkan kaki menuju apartemen, suara Jaka yang mengaji terdengar lagi di telinga. Ajaib memang. Sambil mendengarkan ngaji imajiner ini, saya teringat baitullah. Kehangatannya membuat saya merindu. Sepuluh dari sepuluh orang yang sudah pernah melihat Ka’bah, tiap saya tanyakan apa rasanya, selalu kesulitan menemukan kalimat yang pas. Mereka hanya mengatakan ingin lagi, dan lagi. Saya alhamdulilah sudah pernah sholat di depan Ka’bah. Pada sebuah subuh, surah Ar Rahman. Fabi ayyi Alla irabbikuma tukadzibban. Sejak saat itu, hampir semua pintu-pintu ilmu dibukakan dengan mudah. Adapun pintu-pintu rejeki, dibukakan selebar yang saya mampu menanggungnya. Saya sudah membaca mengenai fisika kuantum, Space X, Homo Deus, Homo Sapiens, dan juga kitab Al-hikam. Pada yg terakhir, ia seperti sumur tanpa dasar. Apa-apa yang kita pahami tentang Quran, belum tentu sama dengan apa-apa yg dimaksudkan oleh sang pemilik langit dan bumi ini. Maka teruslah belajar hingga tidak ada lagi orang yang mencuri hanya untuk makan. Dirahmatilah kalian, dan anak-anak kalian. Dimudahkan segala urusan dan rezeki. Disembuhkan segala penyakit, dan ditinggikan derajat kalian. Dijauhkan segala kesusahan. Dan setelah semua itu diterima, sisakan satu menit saja untuk bilang terima kasih. Sebab Dia tak meminta rezeki tapi Dialah yg memberikan rezeki.

*) Gerilyawan Selatan, Pengamat ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar