Oleh : Kurnia Fajar

Pemilu Gubernur Jawa Barat yang berlangsung November 2024 lalu dimenangkan oleh pasangan Dedi Mulyadi dan Erwan Setiawan dengan perolehan suara yang mutlak yaitu 62%. Dengan kemenangan ini kang Dedi, demikian beliau biasa disapa, melenggang menjadi Gubernur Jawa Barat untuk periode 2025-2030. Perkenalan saya dengan kang Dedi dimulai sekitar tahun 2012 di Hotel Prime Plaza Purwakarta. Setidaknya saya berjumpa tiga kali dengan Kang Dedi. Waktu itu diminta oleh sahabat saya kang Iman Ulle untuk membicarakan Character Building dan juga revitalisasi situ Buleud Purwakarta. Kemudian pertemuan yang kedua terjadi rumah peristirahatannya di Wanayasa dan pertemuan ketiga langsung di Situ buleud Purwakarta. Saya pernah menulis terbuka kepada beliau sekitar tahun 2016, berikut isi suratnya juga pernah diposting di blog ini ( https://kurfanet.wordpress.com/2016/02/12/opini-pribadi-terkait-pengrusakan-patung-arjuna-di-wanayasa-dan-surat-terbuka-untuk-bupati-purwakarta-dedi-mulyadi/ ). Dalam pertemuan dengan kang Dedi setidaknya ada 3 hal yang menjadi topik dan bahasan kami. Yang pertama tentu tentang kebudayaan, kedua tentang Character Building dan yang ketiga tentang generator ekonomi di sektor pariwisata. Karena pada saat itu saya sedang fokus bisnis pariwisata dan mengembangkan metode pelatihan yang saya namakan Artbound.
Kang Dedi Mulyadi, selanjutnya akan saya singkat menjadi KDM saja. Dalam diskusi memberikan pernyataan pendek-pendek namun terarah. Diskusi menyenangkan karena KDM menempatkan posisi yang setara atau egaliter. Bahasa yang poksang dan spontan. Awalnya saya kaget. Karena sangat jarang saya temui pejabat seperti ini. KDM adalah antitesis dari sikap-sikap Feodal. Beliau punya visi dan kami berdebat. Cukup panjang hingga lupa waktu. Setelah menemukan kata sepakat kami berjanji untuk bertemu kembali di rumah istirahatnya di Wanayasa. Ketika pertemuan kedua terjadi, saya kaget karena beliau tidak ingat dengan pembahasan diskusi yang pertama. Saya akhirnya ngeuh, bahwa beliau ini sedang asyik dengan dirinya sendiri. Dengan mimpi dan visinya sebagai pemimpin. Sayalah yang harus menyelaraskan dengannya. Setelah makin memahami apa yang ada di dalam kepalanya saya mulai bekerja dan menyusun hal-hal yang penting untuk dilakukan di situ buleud Purwakarta. Akhirnya selesai dan untuk waktu yang lama kami tidak pernah bertemu kembali. Saya hanya tahu beliau berkeinginan menjadi Gubernur Jawa Barat. Beliau keliling di desa-desa melakukan kegiatan “Gempungan Lembur”.
Bersama kang Iman Ulle membentuk Band Emka 9 berisikan lagu-lagu sufistik dan kontemplasi diri. Semua dalam bahasa sunda. Mungkin saya salah fans berat dari Emka 9 ini. Lagu-lagunya berhasil membuat diri ini merenung.
Peuting tingtrim ku poekna
Beurang merenah ku caangna
Leumpang muru katangtuan
Asih nu jadi harepan
Siram cai semu nyeuri
Bingung lemah pangbalikan
Rongkah jiga nu amarah
Dimana kaasih gusti
Leungeun menggaskeun lamunan
Hooo
Panin poe semu lungse
Bulan rumahuh ka gunung
Bentang leungit terpudagan
Waktu teu nyurup itungan
Usum teu mernah ka mangsa
Sagara mapakeun lemah
Ngajeurit pangeusi nagri
Bingung mulangkeun dirina
Muru waktu teu tinemu
Teuing kamana balikna
Lagu berjudul Lungse di atas adalah sebuah dialog antara unsur-unsur kehidupan. Tentang Matahari, bulan, gunung, mata air, siang dan malam. Lagu -lagu seperti inilah yang mungkin sekitar 20-25 lagu yang mengiringi Gempungan Lembur. Pada tahun 2018 KDM mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat. Namun gagal. Beliau mencoba konsisten sebagai fasilitator rakyat dengan membuat kontan-konten youtube yang isinya dialog dengan masyarakat bahkan edukasi. Pada akhirnya di tahun 2024 KDM berhasil terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat. Mereka yang skeptis berkata “nanti di setiap kabupaten di Jawa barat akan dibangunkan patung-patung”. Sementara mereka yang optimis berharap. KDM bisa membangun jiwa masyarakat dan pembangunan yang lebih berkeadilan. Akhirnya, saya mengucapkan wilujeng mancen tugas Kang Dedi. Semoga amanah.
*) Gerilyawan selatan, pengamat ikan di dalam kolam